Wednesday, 5 November 2014

Biker Versus Roker

Tadi malam, saya lihat status rekan kantor yang kesehariannya menggunakan Commuter Line (baca KRL) jurusan Tanah Abang - Serpong. Di statusnya sbb:

  • Kepada para penumpang mohon maaf dan mohon kesabarannya utk menunggu ..listrik aliran atas pondok ranji terputus...
  •  Kepada PT KAI... saiyah sudah berdiri 2 jam nih paaaak...
  •  Hmmmm sesuatu bingits di hari Rabu ini...
Sementara itu di group FB KRL Mania, ada yang complaint tentang hal ini ...
  • CommuterLine: saat ini terdapat gangguan LAA antara Sudimara-Pondok ranji dan masih dalam penanganan petugas, mana nih Menteri Perhubungan yg baru ,penumpang yg selalu dirugikan ,mau cepat jadi malah telat .(sebagian orang menyebutnya mengeluh)
Namun disambut dengan beberapa komentar yg menyebutnya untuk ga usah mengeluh atau complaint di FB...percuma aja. Itu khan Force Major...yang intinya ga perlu protes ke Menhub. Komentar menjadi liar bahkan panas....saya hanya senyum2 membacanya sebab sudah melewati masa2 itu beberapa tahun yang lalu...hingga memutuskan meninggalkan dunia KRL dan menjadi Biker.Tidak ada yang salah dan benar dalam menjadi Biker ataupun Roker. Ini masalah pilihan saja dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
 
Kelebihan Roker:
- Waktu tempuh (pergi atau pulang kantor) sama lamanya
- Ongkos murah (terutama yang jarak jauh) 
- Terhindar dari kemacetan jalan raya
- Mendukung program pemerintah untuk menggunakan transportasi publik

Kelebihan Biker
- Pulang kantor tidak tergantung jadwal
- Berangkat kantor lebih santai dan relatif nyaman (belum macet dan jalanan masih lenggang)
- Bisa memilih alternatif jalan apabila terkena kemacetan
- Terhindar dari gangguan yang biasa muncul di KRL seperti mati listrik, gangguan sinyal, dll
- Bisa mampir dimana kita inginkan (atau janjian hang-out after office)
- Penghematan ongkos anak sekolah (karena sekalian mengantar saat menuju kantor)

Terlihat kelebihan biker lebih banyak dibanding roker, namun bukan karena saat ini menggunakan sepeda motor ya. Mungkin saya kurang banyak membuat kelebihan roker tapi untuk saat ini hanya itu yang terlintas di benak. Kalau kekurangan masing2 ya tinggal dibalik aja. Kelebihan biker menjadi kekurangan roker dan kelebihan roker menjadi kekurangan biker.

Ada lagi sih, kelebihan menjadi biker jadi terbebas dari rasa marah dan kekesalan (jadi ga buat hipertensi hehehehe) kepada penyelenggara KRL. Makanya saya bisa tersenyum saja melihat status-status orang di FB saat KRL sedang bermasalah dengan jadwal ataupun gangguan. Hidup ini pilihan, dan punya resiko masing-masing apapun pilihan kita. Salam

NE


5 comments:

jnynita said...

hidup itu pilihan yaa.. apa pun pilihannya ya hrs terima konsekuensinya..
aku sih memilih gak make socmed biar gak ngeluh-ngeluh.. hihihi..

putri rizkia said...

haiii ommmm
setuju,,,
daripada comment mulu
mending cari perubahan...
aku dulu kan roker mania abiss yakkkk
kemana mana naik krta sekarang mulai beralih naik bis,,,
naik kereta cepet,,tapi gak tahan desek2an nya,belum lagi harus transit,, sampai kantor kondisi emosi jadi labil dan mudah marah,,,
nah berhubung sejak puasa ojek dari sudirman ke kantor ku naik jadi 50 ribu,,
aku milih naik bis aja,,
naik bis macet dan jarak tempuh lebih lama bisa 2-3 jam
tapi selalu duduk,dan wktu 2-3 jam itu bisa dipake buat ngobrol sama temen, browsing atau baca

NECKY said...

putri....ojek 50rb?? wah bisa cepet kaya tuh tukang ojek. weleh2... so kita berdua ternyata sudah move on dgn KRL....hehehehehe. Toss dulu ah, semoga nanti ada pengganti KRL dari Bekasi (Monorail....mungkin ga yah???)

NECKY said...

jnynita....mantap juga trick nya biar ga berkeluh kesah ga pakai sosmed. Semuanya emang pilihan kita masing2 sih....top markotop

kikils said...

semoga saja ke depannya KRL bisa lebih baik lagi tanpa gangguan