Saturday, 10 November 2012

Belajar Terussss....

Terinspirasi dengan postingan om enha, hari ini saya mau share dari pertemuan orang tua murid kelas 6 dengan sang motivator dalam rangka menghadapi ujian nasional yang akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Sebenarnya bagi saya pribadi pada awalnya merasa tidak butuh alias ga ada manfaatnya pergi ke tempat ini namun karena saya merasa pernah mengikuti hal yang serupa waktu Nedia mau UN 3 tahun yang lalu.

Ternyata saya salah besar karena saya menjadi teringat kembali apa2 (refresh memory) yang seharusnya dilakukan sebagai orang tua dalam membimbing anak menjelang ujian nasional. Selain itu ada beberapa informasi yang benar2 baru saya dapatkan. Meskipun dalam waktu yang tidak lama (kurang lebih satu jam kl ya), semua orang tua murid yang hadir menjadi lebih tenang apalagi bagi orang tua yang anaknya pertama kali menjalani UN.
Sang motivator memulai petuahnya dengan memberikan gambaran singkat tentang otak manusia yang terbagi menjadi dua bagian. Otak kiri (oki) manusia buat berpikir secara sistematis, sedangkan otak kanan (oka) manusia adalah sang penyimpan data base dari sistem yang dikirim oleh oki dan mengirimkan sinyal-sinyalnya yang menjadi sebuah aksi. Namun begitu ada beberapa kegiatan yang tidak perlu perintah oki karena sudah otomatis bekerja seperti berdetaknya jantung manusia.

Oka manusia mempengaruhi pola pikir dan cara kita berkomunikasi dengan orang. Ada tiga hal yang mempengaruhi pola pikir oka manusia yakni BIR (Belief, Impression & Repetition). Untuk itu data base yang positif membuat pola pikir manusia menjadi positif dan mengirimkan sinyal bertindak yang positif. Sebaliknyapun akan terjadi apabila kita memasukkan data base yang negatif maka dapat dipastikan tindakannya akn berbuat negatif.

Saya pernah menyentil di tulisan seperti ini disini, dimana setiap ucapan kita merupakan doa yang secara tidak langsung. Apalagi ternyata menurut sang motivator, ucapan seorang ibu memiliki kekuatan doa 3x lipat ampuhnya dibandingkan ucapan seorang bapak. Seorang ibu sangat diwajibkan untuk selalu mengucapkan kalimat-kalimat positif. Jangan pernah menyebutkan sebutan negatif kepada anaknya apalagi melabel sang anak dengan cap bandel, nakal, susah diatur, dan lain-lain (jadi teringat dengan ibu saya tatkala menhadapi kelakuan kakak2 sewaktu beliau masih hidup. Beliau selalu bilang sing bageur dan cageur...meskipun saat itu sedang marah dan kesal terhadap kakak2).

Lebih baik pepatah Silence is Golden digunakan oleh ibu-ibu saat melihat 'kreatifitas' anak2nya. Sekali kita menggunakan kata negatif seperti 'dasar anak susah diatur'...itu sama saja kita memang meyakinkan diri sendiri dan orang-orang disekitar bahwa anak tersebut memang susah diatur. Sinyal negatif dikirim dan tersimpan dalam data base oka. Saat itu juga kita sudah Belief dalam hati kita sehingga Impression kita secara otomatis memberikan sinyal yang negatif. Ditambah lagi dengan Repetition (berulang-ulang) maka secara tidak sadar kita terhipnotis dengan label yang diberikan.

Sangat penting sekali dalam berkomunikasi kita berhati-hati memilih kata-kata. Penggunaan kata 'Jangan' sebagai contohnya. Daripada kita berteriak 'Jangan Lari' kepada anak2 saat melihat mereka berlari-lari di pinggir jalan, lebih baik diganti menjadi 'Jalan Saja." Contoh lainnya kata 'Suka'. Sering kita dengar ucapan seperti "aduh....kalau habis makan di warung kaki lima, perut saya suka sakit". Jadi tidak usah heran kalau sudah jajan di kaki lima, kemudian anda bener2 sakit perut. Apalagi jika anda punya sugesti (Belief) kalau sakit perutnya dapat sembuh jika minum obat dengan merk tertentu.

Sebagai orang tua, kita wajib mempelajari kiat-kiat berkomunikasi dengan baik. Kita tanamkan rekaman atau sugesti positif pada alam pikiran bawah sadar mereka. Pikiran anak-anak yang cenderung belum mampu berpikir secara logis, memiliki kecenderungan memberikan respon terhadap stimulus yang diterima, tanpa pertimbangan yang terlalu jauh.

Ada orang tua muriid yang bertanya tentang cara menghadapi 'kreatifitas' anaknya sebab terkadang orang tua itu suka tidak sabar dalam menghadapinya. Sang motivatorpun menjawab bahwa sebagai orang tua seharusnya kira bersyukur mendapat kesempatan menghadapi ujian kesabaran. Semakin anak2 kreatif, semakin banyak ujian kesabaran. Semoga saja kita menghadapinya dengan keikhlasan sehingga kesabaran kita menjadi ladang amal...aamiin.

Ayolah belajar lagi tentang cara-cara pemilihan kata positif di setiap kesempatan saat berkomunikasi dengan pasangan kita, anak-anak maupun lingkungan sekitar kita agar sistem yang terekam oka menjadi lebih positif dan konstruktif agar kita menjadi orang tua, suami, istri, anak, yang lebih baik.

NE

12 comments:

nicamperenique said...

ijin ya mas Necky, saya mau print tulisan ini untuk dikasihkan seorang ibu yang sering curhat ke saya. dan ucapan mas Necky sih kurleb sama dengan yang selama ini saya sampaikan padanya. Hanya saja, perlu lebih banyak orang yang bicara hal sama agar ibu merasa memang begitulah sebaiknya, karena saya sudah hampir bosan mendengar keluhannya tentang anaknya yang 'suka' malas, dan sebutan2 negatif lainnya. :D

tepatnya, sbagai manusia kita memang harus belajar terus, sampai akhir hayat dikandung badan :)

NECKY said...

silahkan nique...selama bermanfaat buat orang lain...dengan senang hati saya mengizinkannya. apalagi buat kebaikan...semoga ibu tersebut mau memperbaiki...jadi inget kata sang motivator...yakni anak itu ga pernah salah...yang salah adalah orang tua nya.... :-)

Lidya - Mama Cal-Vin said...

kalimat ibu itu doa ya pak

nh18 said...

Wahhh ...
Pak Neck dapet perbekalan yang lumayan banyak ini ...
dulu saya kok ndak pernah dapet perbekalan seperti ini ?

Yang jelas ...
Ini benar sekali ... siapapun kita ... entah ayah entah ibu ... entah kakak-adik ... memang seharusnya selalu mengontrol apa yang keluar dari ucapan kita.

Salam saya

NECKY said...

mbak lidya....bener bu...dahsyatnya doa seorang ibu....

NECKY said...

om enha...alhamdulillah semakin baik khan? soalnya menurut guru2 sekolah karena tantangan yang semmakin berat dalam mendidik anak2. Peran orang tua sangat2 dibutuhkan kerjasamanya tapi sayang tidak semua orang tua yg paham akan masalah ini om.

irniirmayani said...

Jadi teringat kalau ibu aku mengomrntari anaknya yg salah dengan kata kepintaran sebagai pengganti kata bodoh. "adek tuh kepintaran banget seh sampe piring aja pecah" hehehehe.. jadi lah anak anaknya gak ada yg pernah merasa bodoh. pinter pinter semua gini :D

monda said...

wah, hampir tiap hari di sini ada aja pasien yg membentak anak dengan kata2 negatif, sampai sayanya juga emosi dan gani memarahi si ibu

NECKY said...

bu monda...sedih ya...kalau sampai anak2 yang nota bene nya masih mencari pola pembentukan pribadi harus diisi dengan hal-hal yang negatif

NECKY said...

niee,...nah yg kayak gini...sudah sering dijalankan oleh orang tua kita dulu...agar menjadi anaknya lebih pintarrrr..

DewiFatma said...

Intinya harus menjaga lisan ya, Mas.
Suka banget dengan postingan ini. Terima kasih, Mas. Ini betul-betul pencerahan buat saya :)

NECKY said...

terima kasih mbak dewi kalau memang postingan ini bermanfaat....hehehe