Wednesday, 1 February 2012

Sensor Pribadi

Zaman Orde Baru sudah berganti reformasi. Demokrasi dan  hak asasi manusia menjadi jaminan mutu untuk menjadi berita. Militer yang dulu ditakuti sudah kembali ke barak masing-masing dan hampir tidak berbisnis lagi. Pengacara makin berkibar karena dikit-dikit main tuntut sana tuntut sini. Media massa sudah tidak menjadi momok bagi sang penguasa. Tidak ada lagi yang namanya sensor berita. Semuanya bebas....sebebasnya, seenak udel. Mau menayangkan kekerasan, berbau porno atau investigasi ala infotainmentpun ...monggo.

Saya pernah gerah melihat tayangan berita kriminal di tv swasta yang mengumbar kekerasan dimana para penegak hukum kita dengan gaya bak film hunter mengacungkan pistol dan menembakkannya. Apalagi jam tayangnya di siang hari dan tentunya banyak anak-anak yang menonton tv pada jam segitu. Alhamdulillah, saat ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sudah menegur tv swasta yang dinilai sudah tidak melampaui norma-norma yang beraku di masyarakat. Lalu bagaimana dengan di media sosial??
Semenjak Facebook (FB), Youtube, Yahoo Messenger (YM), Blackberry Messenger (BBM) hingga Twitter, arus informasi begitu cepat mengalir. Dari yang info terkini hingga hoax dan spam sudah hampir tidak dapat terbendung dengan sendirinya. Arus informasi sangat deras mendera kita-kita sebagai pengguna teknologi. Lantas bagaimana memilah dan menfilter informasi yang bertubi-tubi datang kepada kita?

Untuk email gratisan, sang provider sudah melakukan filtering. Untuk pornografi, pemerintah Indonesia sudah mulai membatasi atau memblock aksesnya lewat ISP-ISP. Bagaimana dengan kekerasan yang kerap terjadi di seluruh dunia bahkan di Indonesia sekalipun. Bentuk kekerasanpun, bisa beragam bentuknya. Bisa cerita, foto atau berita yang menggiring pembaca menjadi emosi dan bisa berbuat anarkis. Bisa juga video amatir yang menggunakan kamera-kamera HP dan menjadikan si pembuat video menjadi 'wartawan dadakan'. Sayangnya banyak orang tidak mengerti kaidah-kaidah atau norma kepantasan yang biasa menjadi acuan wartawan asli dalam menayangkan sebuah berita/foto/video.

Pokoknya dengan cepat berbagi, mereka merasakan sudah memberikan manfaat bagi orang lain. Namun tujuan yang baik itu terkadang bisa memiliki dampak yang kurang baik bagi sebagian orang. Norma kepantasan maupun kebenaran berita/foto/video yang ditayangkan kurang mendapat perhatian dari nara sumber. Sebagai contoh: kejadian terakhir yang menghebohkan hingga menewaskan 9 orang. Saya pribadi tidak ingin melihat video atau tayangan berita yang memperlihatkan korban-korban yang masih belum dievakuasi *bergelimpangan di jalanan* Angle gambar dalam menayangkan berita bisa dari manapun tanpa memperlihatkan kondisi korban secara langsung. Apakah yang menayangkan gambar-gambar dapat merasakan perasaan keluarga korban? Apakah sudah dipikirkan dampak bagi keluarga korban saat melihat tayangan itu apalagi kalau gambarnya diulang-ulang?

Jangan tanya lagi kalau di media sosial, video dan gambar sangat-sangat cepat berpindahnya bahkan dalam hitungan menit sebuah tayangan dilihat oleh ribuan bahkan jutaan manusia dan lebih dahsyat daripada media mainstream *televisi atau radio*. Hendaknya kita semua sebagai pengguna teknologi melakukan sensor pribadi terhadap tayangan2 kurang pantas dan melampaui norma yang berlaku di masyarakat. Stop forward gambar-gambar kekerasan. Stop forward email berisi info yang isinya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Stop forward video yang aneh-aneh. Namun sifat keingintahuan manusia membuat orang-orang tetap melakukannya. Mulai sekarang mari kita lebih bijak dalam menggunakan teknologi.

NE

23 comments:

Niar Ci Luk Baa said...

wah makin canggih makin bebas yaa om.. :)
Makasih mampir di blog niar ^^

Imelda said...

Hendaknya kita juga bisa memfilter apa yang baik atau tidak untuk teman-teman kita ya mas...
Jangan asal-asalan deh pokoknya

nicamperenique said...

kesadaran itu yang tidak dipunyai banyak orang lho mas Necky.
saya bahkan pernah baca status 1 orang, minta STOP FORWARD kejadian Tugu Tani, eh di saat yang bersamaan blogger lain malah melakukan hal yang bertentangan dengan status yg baru saya baca.

Dan saya dari balik monitor cuma bisa senyum miris, padahal itu yg share2 video emak2 lho, mpe mikir saya, dia kan punya anak, apa ga kepikiran klo yg di video itu anaknya, gimana ya rasanya?

Tapi itulah, kesadaran seperti ini memang tidak ada pada setiap orang, jadi yang sudah sadar ya tinggal bijak2 menanggapi saja deh hehehe

NECKY said...

niar ...selaamat datangggg di blog semoga bermanfaat

NECKY said...

mbak EM...seperti yg di FB kemarin bilang. Mungkin banyak yg SM kali yah?.....hahahaha

NECKY said...

nique...mungkin kita yang berpikir lebih waras dapat lebih banyak mengingatkan yg lain untuk lebih bijak dalam menforward apapun. Jangan sampai merugikan dan tidak bermanfaat bagi orang lain.

nh18 said...

Saya ingin menyoroti tentang ...
Wartawan dadakan itu ... atau mungkin istilahnya ... "citizen journalism" kali ya ...

Tidak ada yang salah mengenai hal ini ... tidak salah untuk menjadi wartawan dadakan ... namun menurut saya ... kita semua perlu dibekali dengan dasar-dasar jurnalisme yang baik ...

sehingga tidak sekedar ada kejadian ... keluarin HP ... lalu shoot ... dan dengan Coolnya kirim ke TV atau unggah di yucup ...

Salam saya Pak Neck

NECKY said...

benar banget om enha. Alhamdulillah saya pernah dapat training ttg jurnalism jadi minimal tahu dikit2 lah. Jadi blogger juga merupakan citizen journalism, so mudah2an kita bisa saling mengingatkan kalau ada yg kurang pantas ya om

Zulfadhli's Family said...

Iya Om, di jaman sekarang kita sendirilah yang harus memfilter mana tontonana / berita yang bagus untuk diikmati oleh kita, apalagi anak2.

Makanya gw untuk urusan nonton TV, membatasi sekali. Kalopun Zahia nonton, paling VCD Barney & anak2 laenya. Plus ikutan emaknya nonton drama korea *hehehe parah deh ah!*

NECKY said...

wah...wah....erry udh punya pengikut lagi nih dengan drama korea nya. minimal mamanya bisa mendampingi anak2 waktu nonton tv aja udh bagus banget lho

niee said...

intinya kesadaran pribadi lagi yak mas.. dan itu sangat susah..

dan sisi baiknya blogger disekitar kita udah pada sadar kan yak.. itulah asyiknya blogger drpada di twitter :)

Lozz Akbar said...

Saya rasa selama ini negara kita cuma bepandangan jika cuma masalah pornografi yang perlu disensor pak Neck.. sedangkan kekerasan cuma dianggap hal yang biasa untuk ditayangkan.. benar kata anda, mesti ada etika dan norma. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban dengan apa yang mereka lihat

BTW salam buat 3 anak mungil di bawah kotak komen ini ya :)

budiastawa said...

Setuju mas Necky. Dikala semua sensor lolos blong... Diri sendirilah yang semestinya bisa menyensor mana yang layak dan tidak layak ditonton.

NECKY said...

niee....sampai sekarang punya account twitter tp baru sekali atau dua kali tweet....abis rada2 bingung karena beda banget dengan blog sih

NECKY said...

lozz akbar...bener banget, makanya jangan heran kalau tawuran ada dimana-mana saat ini. Itu semua merupaskan produk masyarakat kita sendiri yg tidak disadari oleh mereka sendiri. Orang-orang sekarang senangnya berpikir instant aja...ga mau berpikir yg lebih jauh mengenai dampak lanjutannya....
Terima kasih om ...kata tiga malaikat yg ada dibawah...

NECKY said...

budiastawa...minimal kita mensensor untuk keluarga dan lingkungan disekitar kita ya pak...

Clara Croft said...

Berasa tuh Pak, waktu istrinya Taufik Jamil meninggal, fotonya langsung tersebar di BBM grup, masih berdarah2, seram, gimana perasaan keluarganya coba?

sigit hermawan said...

nice info..

Mechta said...

setuju bahwa kita harus benar2 selektif sekarang, apalgi bila anak & remaja kita yg langsung bersinggungan dengan teknologi ini..wah...bawaannya was-was terus jadinya...

dmilano said...

Saleum,
Semua sudah serba terlalu sekarang ya bang, masih ada juga tuh tv sawasta diindonesia yang belum mentaati peraturan KPI tentang penyiaran. Entahlah, miris juga saya menyaksikan pemberitaan di tv kita.

NECKY said...

clara...mudah2an elo ga ikutan forward foto2 kayak gitu yah.... gw ga abis pikir orang2 yg forward foto tsb ga mikirin perasaan keluarga korban

NECKY said...

mechta.... saat itu kita semua dibanjiri informasi...untuk itu kita mesti siapin perahu agar bisa filtering informasi tersebut

NECKY said...

dmilano...sudah saatnya mereka2 yang berada di ujung tombak pemberitaan tidak selamanya mengejar rating namun juga memikirkan dampak psikologis yang terjadi kepada para penontonnya