Saturday, 4 February 2012

Bersyukur vs Berikhtiar

Selama ini saya berusaha untuk tetap berpikir positif agar terus membuat dampak yang positif terhadap semangat dan motivasi. Untuk menjaga pikiran positif tetap terdepan itu sangatlah tidak mudah apalagi kalau lingkungan kurang begitu mendukungnya. Semangat tinggi untuk tetap berkreasi dalam upaya memberikan tenaga dan pikiran di tempat kita bekerja tentunya harapan semua pihak baik karyawan dan perusahaan.

Setiap kebijakan baru yang diputuskan perusahaan pastinya dalam rangka untuk memberikan semangat dan motivasi baru agar bisa berkarya lebih. Namun dalam membuat kebijakan tentunya ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Belum pernah saya merasakan atau melihat kebijakan dibuat dan semua orang pasti happy kecuali naik gaji serentak atau istilah kerennya COLA (cost of living adjustment). Biasanya besaran COLA disesuaikan dengan nilai inflasi *bahkan ada yang lebih tinggi prosentase cola dari kenaikan inflasi*

Tadi malam saya sempat diskusi dengan teman lama dan tanpa sengaja topik pembicaraan jadi tentang kebijakan perusahaan. Dia bercerita pernah dirugikan secara materi saat terjadi kebijakan baru dengan nilai yang signifikan (menurut saya karena nilainya hampir sebulan gaji saya...hehehehe). Dia memberikan tips untuk menghemat energi. Kita tidak usah ngotot, tapi harus mencari fakta dan data sebelum kita mau protes. Begitu semuanya terkumpul, baru dia mengajukan protes dan hasilnya selama enam bulan kekurangan gaji harus dirapel. Setelah dirapel ternyata hanya tiga aja dan masih kurang khan? Kalau saya yg kejadian seperti itu mungkin sudah semua orang di HRD saya protesin satu-satu.

Ngomong-ngomong tentang kebijakan baru, apakah ada diantara teman-teman harus merasakan perubahan dan terkena yang dirugikan mis: gaji dipotong atau fasilitas dihilangkan? Bagaimana sih perasaannya apa jadi marah-marah? ataukah diam saja karena memang tidak ada pilihan lain? atau protes dan berusaha agar dirinya tidak terkena koreksi pendapatannya.

Teman yang lain pernah cerita, saat ada kebijakan baru dan kemudian disosialisasikan, ada perbedaan antara saat sosialisasi dengan kenyataan yang ada. Dia secara reflek menanyakan kenapa ada perbedaan saat meeting bagian namun jawabannya di luar dugaan. Menurut pimpinan meeting, kita seharusnya bersyukur dengan kondisi saat itu karena membandingkan  *dia menyebut nama sebuah perusahaan* dengan perusahaan lain yang belum memberikan gaji sambil dengan nada yang cukup tinggi.

Saya membayangkan seandainya hadir di meeting tersebut, apakah bisa menahan diri untuk diam atau malah menambah masalah dengan mempermasalahkan 'bersyukur' dan kewajiban kita berikhtiar semaksimal mungkin? Saat mendengarkan cerita saja, saya merasa koq ada yang aneh dengan jawaban pertanyaan teman saya tersebut. Bagi saya untuk mengeluarkan pendapat atau uneg-uneg itu tidak merupakan hal yang sulit. Bahkan seringnya saya dapat terprovokasi untuk 'melawan' karena ikhtiar hukumnya wajib lho.

NE

20 comments:

nicamperenique said...

saya punya kecenderungan yang aneh mas. klo hak saya yang dihilangkan, saya tidak berani frontal, memilih jalan persuasif, membicarakannya langsung dengan atasan atau yang berkompeten. Jika tidak ada titik temu, ya sudah, kembali pada diri sendiri, take it or leave it.

Tapi untuk kepentingan orang lain, saya berani vokal :D segimanapun saya perjuangkan, jaman masih kerja dan punya anak buah ya gitu, klo ada yg kena potong gaji atau apalah pokoknya merugikan mereka, mau sampai ke owner juga saya jabanin. Rasanya lebih feel free u/ bergerak. Entahlah, kok saya rada sungkan klo buat kepentingan sendiri :D

Imelda said...

idem dgn Nique...kalo untuk orang lain, vokal banget hahaha
Tapi masalahnya aku kan ngga pernah kerja d perusahaan, jadi ngga tau deh. Karena aku honorer, ya kalo sudah tidak terpake, cut deh... Ada sekali digituin sama radio station krn mrk ngga ada budget, sedihnya sampai setahun! hehehe

Abi Sabila said...

Saya berpendapat, ikhtiar dulu baru tawakal, termasuk bersyukur di dalamnya.

Tidak harus dengan marah-marah, tapi menanyakan untuk mencari kejelasan adalah sebuah keharusan, dan setelah dilakukan secara maksimal ( termasuk bertanya ke beberapa pihak yang dianggap tepat ) barulah kita tawakal, dan salah satu wujud tawakal itu adalah mensyukuri hasil dari yang kita ikhtiarkan.

NECKY said...

nique...kalau gitu gw jadi anak buahnya aja deh. Abis, dibelain mati2an sih...enak banget kalau punya boss kayak gini.... yg ada sebagian besar boss itu cari aman sendiri lho....

NECKY said...

Mbak EM...emang ga ada radio station lain yg punya acara sejenis?? saya doain ada radio station yg mau bikin acara yg seperti mbak EM mau deh...

NECKY said...

abi...nice sharing nih. Saya jadi dapat pandangan yang berbeda nih. Jadi ga salah khan kita berikhtiar menanyakan yang sebelumnya sdh dijanjikan? ini bukannya ga bersyukur khan yah??

nicamperenique said...

hahahaha makanya aku ga bertahan lama di situ mas, terakhir itu didepak dengan alasan tidak jelas, nanti deh aku bikin tulisan sendiri ya. kepanjangan klo cerita di sini hehehe

NECKY said...

entah bener atau ngga....khan nique sbg owner nih sekarang... seorang manager yg pro sama anak buahnya cenderung tidak disukai oleh pimpinannya yah?....mohon maaf ini hanya opini pribadi lho...

walank ergea said...

Mas Necky, menuntut atau menanyakan hak bukanlah bentuk tidak syukur tetapi justru kewajiban. Kecuali bila meminta hal yang bukan hak kita. Itu udah kemaruk namanya. Setelah kita udah tanyakan/upayakan, baarulah kita ikhtiar. Menurut saya :) Salam kenal sekalian ninggalin jejak

nicamperenique said...

ya udah pastilah mas
apalagi klo pimpinannya rada2 :D
maksudku udah dari sononya emang ga fair.

NECKY said...

walank ergea....kita sependapat nih kayaknya...sebab menanyakan hak kita merupakan bagian dari ikhtiar ya...

NECKY said...

nique...kalau udh ga fair susah banget bisa jadi fair euy...

Bibi Titi Teliti said...

Duh...
kok pas bisa kebeneran Bang Necky posting tentang ini yak...

Baru kemaren ini abah komplen berat ke kantor karena sepertinya ada kesalahan perhitungan pajak dan jamsostek dari kantor....

abah nyari data yang akurat dulu sampe ke konsultan pajak sebelum berani komplen...dan baru mengajukan surat setelah sudah yakin benar ama hitungan nya...

memperjuangkan hak menurut aku sih perlu ya...dan bukan masalah nominal nya sih...cuman tetap aja hak kita...
Tapi kita harus yakin dulu sama aturannya...

dmilano said...

Saleum,
Kami dijajaran PNS juga sering merasakan kebijakan2 yang merugikan bang. Gak usahlah saya ceritakan lagi apa itu, karena dimedia massa sudah banyak berita tentang pegawai negeri yang dicurangi oleh instansinya.

NECKY said...

erry....tul betul....cari data yang akurat sebelum kita menanyakan dan keberatan atas kebijakan yang ada. Mudah2an akhirnya selesai dengan baik ya ...salam buat abah... maju terus pantang mundur

NECKY said...

dmiano....bukannya pns sekarang ini justru sedang enak2nya...dibanding swasta...sekarang lebih ok jadi pns lho

Lidya said...

ternyata blognya pak Necky belum masuk lagi ke blog list saya :) maaf pak

Gaphe said...

bukankah biasanya keputusan itu sudah dipikirkan masak-masak segala resiko yang akan terjadi.. yaa semacam perubahan yang terjadi di perubahann, entah menyenangkan di satu sisi atau malah buruk di kedua pihak.. yang jelas, pasti sudah dipikirkan juga solusinya kan

NECKY said...

mbak lidya...saya maafkan ...hehehe

NECKY said...

gaphe...saya yakin mereka pasti sudah memperhitungkan segala sesuatu tatkala membuat perubahan. Kalau ada yang meleset dari perhitungan mereka apakah sudah mereka perhitungkan juga?? itu yg kita mesti berbaik sangja aja lah :-)