Thursday, 10 December 2009

Apakah UASBN Memang Cara Yang Paling Tepat Dilakukan?


Hari Sabtu yang lalu (15-8-09), saya diundang ke pertemuan wali murid yang khusus untuk murid kelas 6 SD. Sebenarnya berat hati ini untuk pergi jam 1/2 delapan pagi dengan mengorbankan waktu santai. Namun niat untuk mendapatkan informasi tentang tips menghadapi UASBN tahun depan mengalahkan segalanya.

Awal pertemuan berlangsung terasa lama karena hanya berisi seremonial belaka. Setelah dibuka sesi presentasi dan diskusi yang dipandu oleh seorang Psikolog, keadaan menjadi lebih 'hidup' dan bersemangat. Inti dari presentasi (mudah-mudahan ga terlalu beda dengan yang sesungguhnya) adalah:
  • Orang tua hendaknya belajar menjadi pendengar aktif
  • Harapan orang tua harus melihat kemampuan dan potensi anak
  • Memberikan waktu rekreasi dalam rangka menghindari potensi stress akibat kurikulum sekolah yang membebaninya
  • Mengenali lebih dalam perilaku anak khususnya di rumah dan di sekolah
  • Kita wajib memberikan peraturan dan jadwal harian (kalau perlu dalam bentuk tertulis) kepada anak agar dapat mengurangi miskomunikasi antara anak dan orang tua.
  • Hendaknya tetap tegas dan disiplin atas pelanggaran setiap aturan yang disepakati bersama.
  • Penerapan Punishment dan Reward diharapkan dijalankan konsisten oleh orang tua. Berikan penghargaan atas setiap pencapaian prestasi sekecil apapun dan juga sebaliknya untuk memberikan punishment atas setiap pelanggaran.
  • Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda, kenali potensi mereka dengan baik. Anak yang underachiever (potensi tinggi namun tidak dapat mengembangkan prestasinya) hendaknya diberikan perhatian lebih agar tidak menjadi inferior (minder) dan bisa berprestasi dengan baik
Akhirnya saya bersyukur sudah dapat hadir di acara tersebut, bahkan sempat mengajukan pertanyaan berkaitan dengan kemampuan anak yang menurut pendapat saya underachiever. Sayangnya jawaban beliau belum tuntas karena waktu yang sangat terbatas.

Adapun pertanyaan kepada beliau adalah: Kenapa hanya IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia saja yang diujikan di UASBN? padahal tidak setiap anak menggemari 3 mata pelajaran tersebut? Menurut saya hal ini tidak FAIR sebab anak saya memiliki potensi di luar 3 mata pelajaran tersebut. Bagaimana cara mengatasinya? Tanyakanlah kepada "Rumput Yang Bergoyang" kata Ebbiet G Ade

10.17 PM, Ciputat, Pondok Ranji.

http://sentilan.blogspot.com

No comments: