Friday, 30 August 2013

SMA vs SMK

Saat anak saya masih kelas 3 SMP, saya pernah bertanya sama dia apakah mau melanjutkan sekolah di SMA ataukah di SMK? Pertanyaan saya membuat dia berpikir terus dan sedikit bimbang dalam menentukan pilihannya. Ternyata sebagian besar orang (baca: saudara2nya) rada bingung bin kaget sewaktu mereka bertanya mau masuk sekolah mana kepada anak saya karena jawaban anak saya waktu itu adalah antara mau masuk SMA atau SMK. Anak saya selalu bilang, bahwa saya menganjurkan dia untuk masuk SMK saja.

Tidak sedikit orang-orang disekitar saya yang rada kaget saat mengarahkan ke SMK. Mereka menganggap bahwa SMA is better than SMK. Anak-anak itu masih labil, dan kalau udh langsung masuk SMK pilihan untuk meneruskan pendidikan jadi sangat terbatas. Bahkan ada beberapa orang memiliki pandangan bahwa masuk SMK itu hanya untuk orang-orang yang tidak mampu meneruskan pendidikan ke tingkat yg lebih tinggi karena biaya. SMK hanya untuk bisa lebih cepat kerja.
Saya hanya cuma tersenyum kalau mendengarkan anak saya diceramahin orang...kalau SMA is better. Namanya anak-anak, setiap ada orang yang condong menyuruh masuk SMA, dia mau masuk SMA. Giliran ada yang mendukung masuk SMK, diapun jadi mau masuk SMK....hehehehe. Saat seleksi penerimaan sekolah negeripun, dia masih sedikit bimbang. Kebetulan anak saya kena peraturan baru yakni ga bisa mendaftar lewat jalur lokal dan membuat namanya terlempar dari persaingan untuk sekolah di SMA Negeri. Keputusan dia, kalau sekolah swasta ga mau SMA tapi memilih SMK saja.

Akhirnya SMK jurusan Multimedia menjadi pilihan dia dalam melanjutkan pendidikannya. Sebagai latar belakang kenapa saya mengarahkan dia masuk SMK sebenarnya sangat sederhana. Saya melihat keseriusan dia dalam membuat tugas atau project2 dari gurunya. Kegemaran membuat materi presentasi, materi makalah maupun desain project, mengalahkan kewajiban belajar rutin untuk ulangan maupun ujian. Intinya sih, teori atau mengerjakan soal2 sangat berat dijalankan, sebaliknya kalau udah yang langsung praktek dengan semangat 45 dia tekuni. Nah, berbekal pengamatan inilah saya menyarankan dia masuk SMK.

Bukan itu saja, keinginan kuat saya mengarahkan dia masuk SMK karena saya melihat sebuah passion yang ada di dalam diri dia begitu besar untuk bisa berkarya. Kalau di SMA, saya ga yakin dia bisa mengembangkannya dengan baik.

Banyak sekali orang-orang belum tahu kalau sekarang ada SMK dengan jurusan Multimedia. Beberapa kali ngobrol dengan teman kantor, mereka belum tahu akan hal itu. Bahkan secara eksplisit mempertanyakan atau meragukan keputusan menyekolahkan di SMK. Masih banyak yang berpendapat, sekolah mesti tinggi kalau ingin sukses....hehehehe. Saya sih tidak mau menyalahkan mereka, tapi menurut pendapat saya kalau saat ini apalagi beberapa tahun ke depan...akan terjadi perubahan yang cukup signifikan di dalam dunia kerja. Sekolah formal tidak menjadi pilihan utama, tapi Skill yang dibutuhkan.

Kalau nantinya mau meneruskan kuliah, sebenarnya juga ga jadi masalah karena banyak universitas2 yang bagus dan memiliki jurusan multimedia. Dari univ negeri maupun swasta sudah banyak yang membuka jurusan tersebut. Mudah2an saya tidak salah mengarahkan anak yah... :-)

Sebulan pertama masuk sekolah, SMK malah sudah gigi lima alias ngebut banget. Sementara anak2 SMA masih santai2 dengan rencana penjurusan, anak saya sudah banyak tugas dan project....hehehehe. Alhamdulillah sih dia enjoy dengan sekolahnya padahal jam sekolahnya dari 7.30 sampai jam 4 sore. Belum lagi kalau ada ekstrakurikuler...bisa2 sampai rumahnya bareng sama saya....hehehe. Sepertinya sekolah dia sudah mempersiapkan mental anak didiknya untuk siap kerja...jadi yang namanya tugas atau project ga pernah sepi....so, pilihan SMK atau SMA untuk saat ini ga ada bedanya lho...tergantung dari minat si anak deh....

NE

9 comments:

imelda said...

memang masyarakat sekeliling biasanya lebih cerewet daripada keluarga sendiri jika pilihan kita agak "melenceng" dari kebiasaan umum.

Waktu saya memilih masuk sastra Jepang juga begitu. Sayanya tenang-tenang saja, tapi mama yang di"ributin" ibu-ibu : "Kok anakmu lulusan IPA masuk sastra sih?"
Untung Ibu saya kuat mental hehehe

Betul sekali, menurutku sekarang sdah bukan jamannya lagi pekerjaan melihat "gelar", tapi lebih ke kemampuan. Kadang saya juga jadi waswas dengan kehidupan anak-anak saya kelak .... semoga diberi kebijaksanaan deh

NECKY said...

hhahahaha...jaman kita dulu stigma anak ips itu anak 'buangan' sangat kentara banget yah. Kalau masuk IPS kesannya ga akan jadi sukses... Padahal kalau masuk IPA itu justru jadi teknisi atau engineer...yg jadi boss justru anak ips ...khan?

nh18 said...

Saya pujikan keputusan Pak Neck untuk memilihkan jurusan SMK yang sesuai dengan minat dan passion Nedia ...

Dan saya rasa ke depannya ... ada banyak sekali jurusan di Universitas yang berkaitan dengan Multimedia ini

Sukses selalu untuk Nedia ...

(en Jangan lupa jaga kesehatan yaaa ...)

Salam saya

NECKY said...

om enha...saya hanya mengarahkan saja pak. Untuk keputusan, saya kembalikan kepada anaknya...kalau bener2 bingung baru saya yang memutuskan.
Saya mencoba mereka untuk belajar membuat keputusan...apapun konsekuensinya. Kita hanya memberi masukkan resiko konsekuensi yang mereka pilih... :-)

Terima kasih atas perhatiannya om enha

niee said...

Kalau sekolahnya emang bagus gak masalah ya mas mau sma or smk gitu.. tapi seleksi memperlihatkan dikota aku smk masih minim dari fasilitas dan sdm girunya. jadi kadang emang kurang meyakinkan >_<

Bibi Titi Teliti said...

Baaaaang...
aku juga baru tau lho ada SMK multimedia...keren sekali :)

Dan kalo memang sang anak udah ketahuan minatnya kemana, sebaiknya langsung diarahkan sih bang...
JAdi ketika kuliah udah gak bingung lagi pilih jurusan kan yah...

Abah juga dulu lulusan STM listrik bang...
lumayan lah sekarang, selain suka ngangkat galon, berfungsi buat bener benerin lampu juga...lho..hihihi..

NECKY said...

niee....berarti itu ada peluang untuk buat sekolah swasta yg sdmnya bagus2 tuh....*selalu mencari sisi positif*

NECKY said...

erry.....kasihan sekaleee cape2 belajar listrik cuma disuruh angkat galon....hahahahaha

Aditya Wani said...

Refleksi yang bagus. Kalau di LN, misalnya aussie, lulusan SMK (namanya TAFE disana) justru gajinya tinggi2 karena pekerjaan trampil, seperti plumber atau tukang listrik.