Tuesday, 17 February 2015

Obat....Dont Leave Home Without It




Tayangan tulisan Uda Vizon tentang GA yg dibuat oleh mbak Myra, membuat saya bisa meng-update blog ini dengan tulisan baru....hehehehe. Thank's to both of you.

Tadinya saya mau menulis dengan HP atau Kamera namun setelah membaca kembali syarat dan ketentuan yang diberikan mbak Myra akhirnya saya berpikir kembali apa yang mau ditulis. Mau membahas PS 2 atau XBOX tapi koq kita pernah pergi tanpa membawa itu...setelah mengingat lagi saya baru ngeh...kalau pergi jalan-jalan itu selalu tidak ketinggalan membawa obat.


Awalnya sih sewaktu sebelum menikah saya punya alergi yang sering muncul disaat saat tidak terduga. Giliran alerginya kumat....langsung kalang kabut deh. Seiring dengan waktu yang berjalan, obatnya pun makin beragam...hehehe.


Istri tercinta selalu membawa tas khusus untuk obat2an...apalagi setelah punya anak kecil. Tas tersebut sudah menjadi Benda Wajib yang harus diikutsertakan di dalam mobil. Kalau dulu hanya obat alergi dan vitamin, seiring waktu menambah jenis obat yang dibawa untuk penyakit seperti penurun demam, penahan rasa sakit, asam urat, kolesterol, darah tinggi dan obat luar untuk luka kecil. Tidak lupa dengan plester penutup luka kecil (ga mau nyebut merk ah....hehehe)
Saya jadi ingat sewaktu dinas keluar kota urusan kantor ke Yogyakarta (ada koq ceritanya) yang pas banget dengan meletusnya gunung Kelud. Saya dengan yakinnya tempat obat dibawakan oleh istri. Tapi sih sebenarnya memang ga nanyain apa tempat obat dibawain ke istri sewaktu membantu packing pakaian. Pikir2..cuma 2 malam aja ga perlu bawa yg macam2. Lagipula sudah tidak pernah kumat penyakit-penyakitnya....(sok pede abisss).

Semenjak kena penyakit asam urat, saya selalu menjaga asupan dengan tidak memakan makanan pantangan dan membatasi makanan yang tidak disarankan, karena saya sudah merasakan beberapa kali rasanya ketika penyakit tersebut kambuh. Singkat cerita, beberapa rekan yang tertarik dengan fotografi ingin mengabadikan sunrise dari candi borobudur. Saya ga ngeh kalau ke tempat (spot) untuk ambil fotonya itu berada diketinggian yang cukup signifikan. Seharusnya kalau ke lokasi seperti itu, sepatu yang digunakan minimal adalah sepatu kets, dan saya hanya membawa satu jenis sepatu yakni sepatu kasual.

Kita semua menaiki candi borobudur ditengah kegelapan, ga menyadari kalau sebenarnya cukup tinggi dan lumayan melelahkan hehehe. Kaki saya juga belum menunjukkan keanehan apa2. Namun begitu kita turun dari lokasi....kaki mulai memberikan alarm yang tidak seperti biasanya (saya berpikir mungkin sudah lama ga pakai sepatu dalam waktu yg cukup lama tapi dalam hati doank sih). Makin turun, makin banyak menjejakkan kaki, makin terasa ada yg tidak beres nih. Posisi sudah di candi borobudur, sedangkan semua peralatan obat ada di tas (di hotel Jogya).

Dalam perjalanan pulang, sepatu mulai dicopot. Biasanya kalau sudah seperti ini langsung minum obat anti nyeri. Sesampainya di hotel, kaki mulai terlihat sedikit membengkak. Di kamar saya mulai membongkar tas obat....dan ternyataaaaa...obat anti nyeri sudah abisssss sodara-sodara. Ya sudah, minum obat lainnya dengan harapan bisa membantu meredakan sakit. Seharusnya kalau sudah seperti itu, saya harus mengistirahatkan kondisi kaki dengan tidak banyak melakukan aktifitas. Namun berhubung tidak mungkin istirahat, akhirnya saya paksakan beraktifitas normal.

Benar saja, sorenya keadaan kaki makin tidak kondusif dan sayapun harus cepat2 mencari obat anti nyeri yang habis. Setelah mengkonsumsi obat tersebut rasa sakit sedikit berkurang. Namun hingga saya pulang ke Jakarta, kaki tetap bengkak sehingga selama perjalanan pulang menggunakan sendal hotel....

Moral story: jangan pernah menganggap remeh penyakit anda meskipun sudah lama tidak kambuh, tetap membawa semua obat untuk penyakit2 yang anda pernah derita, pepatah sedia payung sebelum hujan merupakan hal yang nyata dan harus kita perhatikan.

NE
 
1st GA – Benda yang Wajib Dibawa Saat Jalan-Jalan











9 comments:

Lyliana Thia said...
This comment has been removed by the author.
Lyliana Thia said...

Waduh mosok iya traveling bawa PS2 Pak Necky, hehehe...

Bener juga, obat jadi benda wajib bawa kalau traveling... Keluarga kami juga sama...

wah saya jd ingin ikut GA nya juga hahhaa...

sukses GA nya yah Pak Necky, dan semoga sehat selaluu... ^_^

Pakde Cholik said...

Saya juga selalu membawa obat jika bepergian. Apalagi setelah lansia he he he
Salam hangat dari Surabaya

Lidya - Mama Cal-Vin said...

kalau sudah siap obat biasnaya lancar gak ada masalah kesehatan ya

NECKY said...

mbak Thia....percaya atau tidak memang begitu deh anak2.... kalau selesai main outbond....sambil bercanda...mereka main game. Mungkin jamannya dulu kita mainnya main kartu remi atau cangkulan hehehehe

NECKY said...

pakde ...saya jadi bisa daftar jadi lansia donk .... :-)

NECKY said...

mbak lidya....emberr....kalau obat ready...malah ga ada masalah apa2 ya

Ihwan Hariyanto said...

Waduh bisa saya bayangkan betapa sakitnya kaki Bapak waktu itu, semoga ga terulang lagi ya Pak.
Kalau lagi sakit di perjalanan tanpa ada anak istri itu memang ujian banget :D
Salam kenal Pak, dari saya Ihwan, Keluarga Biru di Malang.

Keke Naima said...

Kalau pergi rumah mertua atau sodara, biasanya saya maish suka bawa PS3 kalau anak-anak minta hihihi

Bener, Pak. Obat itu memang penting. Biasanya, saya obat sakit kepala dengan merk tertentu hehe