Tuesday, 20 May 2014

Hidup Harus Ikhlas

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke tempat pengobatan khusus mata dalam rangka menemani saudara yang bermasalah dengan matanya. Menurut dokter, penglihatannya berkurang karena ada kemungkinan dengan penyakit diabetes yang dideritanya dan kemudian menyebabkan katarak (karena usianya yang sudah lebih dari 65 tahun).

Namun setelah diperiksa lebih seksama oleh dokter, katarak di matanya belum parah dan belum memerlukan operasi katarak. Apalagi kondisi gula darahnya yang naik turun banyak dokter yang tidak ingin mengambil resiko dengan melakukan operasi. Nah...saat di pengobatan alternatif...diagnosanya.....persis banget dengan diagnosa dokter...ga ada bedanya.
Beliau bercerita pengalaman mengobati pasien selama ini lebih senang mengobati orang yang sama sekali kehilangan penglihatannya alias buta karena biasanya orang yang sama sekali tidak bisa melihat itu....sudah pasrah bahkan ikhlas dengan keadaan dirinya. Semakin orang tersebut ikhlas dan pasrah, semakin cepat juga proses penyembuhannya. Sebaliknya, kalau pasien masih bisa melihat...ada ada aja yang dipermasalahkan. Dengan kata lain, sang pasien belum ikhlas dan pasrah dengan keadaannya.

Saya jadi teringat tentang asal usul datangnya penyakit pada diri kita: Makanan, Gaya Hidup dan Pikiran. Dari ketiga faktor ini, pikiran merupakan penyebab utama sumber penyakit. Kalau dari makanan, kita tinggal menghindari atau mengurangi jenis makanan. Mis: Asam Urat ..hindari Melinjo dan turunannya atau makanan yang mengandung purin tinggi. Sedangkan gaya hidup, kita ubah kebiasaan tidur bergadang dsb.

Untuk Pikiran, dampaknya sangat luar biasa, bisa ke lambung (meningkatnya asam laambung secara abnormal), bisa ke kepala (tiba2 migrain atau vertigo), atau bisa berdampak ke lever, dsb. Lalu kenapa pikiran ini dapat berakibat buruk?? yang pasti.....Kuncinya adalah Ikhlas.

Kita tidak terima saat rekan sejawat dapat promosi sedangkan kita beranggapan kalau kemampuannya jauh dibawah kita. Hati ini tidak terima dan ga ikhlas dengan keadaan yang ada. Jadi uring2an, berkomentar negatif hingga jadi sakit sendiri. Coba kalau kita bisa menerima dengan ikhlas. Oh...dia mendapatkan rizqi dari Allah. Alangkah senangnya dia bersama keluarganya, ini bisa meningkatkan keadaan ekonomi rumah tangganya, dan lain-lain alasan yang bernada positif.


Alangkah bahagianya bila hati ini ikhlas bisa menerima semua bentuk kekecewaan. Bahkan kita dapat mengkonversi kekecewaan menjadi dasar kita mengucapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Wah semua ini teori.....iya bener semua ini teori tapi minimal kita bisa belajar untuk memulainya. Semoga kita semua bisa ikhlas melakukan di segala bentuk aktifitas kita sehari-hari

NE

4 comments:

dey said...

Bener banget bang, setuju kalau pikiran itu penyebab utamanya. Soalnya suka ngerasain sendiri, hehehe. Buat saya yang mengidap hipertensi, mengurangi makanan pemicunya mah gampang banget. Tapi mengurangi pikiran itu, waduhhh ... perlu usaha yang terus menerus untuk bisa ikhlas menerima apapun.

NECKY said...

bener dey....paling sulit untuk mengurangi pikiran. Sesama pengidap hipertensi saya jadi paham banget tuh....ikhlas tidak mudah namun bisa kita paksakan untuk memulainya

NECKY said...

bener dey....paling sulit untuk mengurangi pikiran. Sesama pengidap hipertensi saya jadi paham banget tuh....ikhlas tidak mudah namun bisa kita paksakan untuk memulainya

nh18 said...

Ini benar sekali
Sedikit banyak penyakit kita itu berasal dari pikiran dan nafsu kuta sendiri

Semoga kita tetap bisa menjadi pribadi yang ikhkas

Terima kasih diingatkan Pak Neck

Salam saya

(28/5 : 2)