Tuesday, 22 April 2014

Etika Dan Akhlak Yang Baik

Beberapa hari ini rame banget tentang seorang ABG yang menceritakan kegalauan hatinya di KRL sehingga mengomentari ibu hamil dengan isi komentar yang membuatnya dibully di dunia maya. Sebenarnya saya sudah berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar apapun yang berhubungan dengan KRL karena saya mau MOVE ON dari per-KRL-an hingga ada perbaikan yang signifikan. Soalnya kalau ngomongin KRL, malah bisa naik lagi nih tensi...padahal saat ini alhamdulillah kondisinya sudah normal.

Saya agak gemes kalau baca komentar orang yang kurang paham situasi tentang KRL saat ini. Mereka dengan yakinnya membuat komentar yang ga nyambung dengan situasi sebenarnya. Mbok ya...kalau kurang paham ga usah sok tahu khan lebih enak tuh. Apalagi ga pernah naik KRL tapi bisa2nya bilang penumpang KRL itu manja-manja dan cuma bisa komplen doank.....

Lantas banyak banget komentarin si ABG dengan melenceng dari substansi dan langsung men-judge kalau ABG sekarang sudah tidak memiliki empathy lagi. Terus masalahnya berkembang deh...menjadi perdebatan antar generasi bahwa ABG zaman sekarang tidak lebih baik dibanding ABG generasi terdahulu. Mereka yang menilai mungkin sedikit lupa kalau ABG ini merupakan produk pendidikan dari orang tua yang mungkin seumuran dengan yang mengkritik.

Kaum muda generasi saat ini memiliki tantangan besar globalisasi dan persaingan tingkat tinggi. Mereka diberi pendidikan agar dapat berkompetisi dengan negara2 lain. Apalagi kalau sampai Free Trade di Asia Tenggara tahun depan diberlakukan. Namun begitu ada yang mungkin terlupakan dalam penyusunan  kurikulum pendidikannya.

Saya pernah membahas kalau pelajaran IPA kelas 4 SD saat ini sama dengan pelajaran kelas 1 SMP di tahun 80an. Belum pelajaran Matematika, dan lain-lain. Generasi muda saat ini sangat cerdas secara intellegent, orang dulu bilang IQ mereka ini tinggi-tinggi. Anak umur pra sekolah aja udh bisa mengoperasikan Tab atau Ipad dengan fasih...sementara generasi terdahulu di usia yang sama bermain di depan rumah bersama tetangga maupun saudara-saudaranya.

Banyak yang berpendapat generasi saat ini secara IQ (baca intellegent) dinilai bagus, namun secara etika dan akhlak mengalami penurunan dibanding generasi sebelumnya. Ada yang bilang tidak diajarkannya etika di sekolah yang termasuk di dalam kurikulum sekolah menjadi salah satu faktor penyebabnya. Kalau masih ingat di akhir tahun 70an pelajaran etika (ada yang bilang "civic") termasuk yg diajarkan di kelas. Sedangkan di tahun 80an...ada pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang merupakan jelmaan dengan nama lain.

Di era tahun 2000an, sedikit demi sedikit pelajaran non inti mulai dikurangi bahkan hilang begitu saja. Mungkin dampaknya tidak langsung terasa namun kita bisa lihat keadaan sekeliling kita saat ini, ditambah lagi jenis permainan yang makin individualistis. Gadget atau Smartphone membuat anak-anak ataupun orang dewasa sekalipun tenggelam di dalam dunianya masing-masing. Padahal permainan tradisional itu banyak sekali mengasah emosi kita. Bagaimana kita berinteraksi dan berkompetisi langsung namun tidak meninggalkan rasa emphaty terhadap lawan main kita....

Marilah kita sekarang banyak-banyak memberi contoh dan memberi bekal kepada generasi berikutnya agar etika dan akhlak masih terjaga dan dimiliki oleh bangsa ini. Jangan tertipu oleh film2 Hollywood yg sama sekali tidak menggambarkan budaya sesungguhnya kehidupan di negeri asalnya. Seperti halnya kita, mereka justru sangat senang melihat kehidupan kita (di negeri ini) yang masih memegang tradisi tentang keluarga. Waktu beberapa malam yang lalu di acara talkshow yg baru Sule dan Andre di NetTV, seorang bule terang2an mencintai kehidupan di negeri ini dibandingkan dengan negeri asalnya karena tradisi keluarga yang kental dan rasa emphaty masih cukup tinggi. Dengan Akhlak baik insya Allah kita akan hidup dengan etika yang baik......

NE

1 comment:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

say agak ikut komen kok pak :)