Tuesday, 4 June 2013

Pintu Rizqi Ada Dimana Saja

Terakhir sebelum saya hijrah menjadi biker, KRL Ekonomi menjadi pilihan saya. Bukan karena murahnya aja tapi menghindari 'sakit hati' membayar lebih mahal tapi tetap kepanasan bahkan kalau AC ngadat dan kipasnya ga kencang...dapat ekstra sesak nafas....hehehehe.

Memang sih yang namanya PT (perseroan terbatas) itu adalah mencetak laba. Kalau tidak mencetak laba, kudu ditutup tuh perusahaan. Hebatnya manajemen yg saat ini mengelola KAI bisa mencetak laba yang cukup signifikan. Bahkan bisa membuat terobosan-terobosan terkait dengan peningkatan laba setiap tahunnya.
Salah satu gebrakannya adalah menghapus KRL Ekonomi di jalur2 Jabodetabek. Berawal dari jalur Tangerang pada beberapa bulan yang lalu. Kemudian di jalur Serpong, Bekasi hingga Bogor (yang saat ini baru dikurang-kurangin jadwalnya...secara perlahan bakalan selesai juga deh...KRL ekonomi jalur Bogor).

Terlepas pro dan kontra atas kebijakan yang dibuat oleh manajemen, saya jadi teringat oleh pedagang-pedagang asongan yang suka jualan di atas KRL Ekonomi. Dari tukang kue basah, asesoris perempuan, koran, pengamen tuna netra, hingga asesoris HP. Kemanakah mereka pindah jualannya? Memang sih mereka itu menabrak aturan yang melarang berjualan di atas kereta.

Sepanjang pengalaman naik KRL Ekonomi, para pedagang tersebut tidak beroperasi kalau Kereta sudah sangat padat. Artinya mereka juga mengerti bahwa situasi yang tidak memungkinkan berjualan, mereka juga tidak beroperasi. Saya sering membeli kue basah di atas kereta apabila saat berangkat dari rumah tidak sempat sarapan. Lontong isi (arem-arem) dan risol adalah kue favorit.

Tadi pagi eh siang (izin masuk siang) secara tidak sengaja melihat langganan tukang kue basah di stasiun. Pada awalnya saya tidak memperhatikan, namun setelah saya seksama melihatnya baru menyadari ketika melihat dua keranjang tempat kue yang ditutupi plastik hitam. Saya langsung sedikit trenyuh melihat si tukang kue...mengingat tempat dia jualan sudah (relatif) berkurang. Dari raut muka yang terlihat, saya hanya bisa menduga-duga kesulitannya. (mudah2an saya salah menilainya).Mungkin bingung karena dagangannya sudah siang tapi masih banyak....

Semoga saja semua orang2 yang terkena dampak akibat kebijakan baru tetap mendapat rizqi yang berlimpah sebab Allah selalu membuka pintu Rizqi yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Tukang gorengan favorit di stasiun juga ikut terlibas ...kena gusuran (karena stasiun ingin memperluas tempat parkir namun sayang minimarket ga tersentuh digusur tuh)...semoga segera mendapatkan tempat yang lebih bagus dari sebelumnya. Juga untuk warung yg jualan minuman dan yang lainnya.....

NE

6 comments:

Idah Ceris said...

Jika memang para pedagang tersebut mau mengikuti aturan pihak KAI, sebenarnya tidak masalah berjualan di KA ya, Pak. Dengan catatan bisa ikut menjaga keamanan, ketrtiban dan kebersiha.

Meski rejeki sudah ada yang mengatur, tapi kasihan juga.

Salam kenal dari Idah. ^_*

vizon said...

Sebuah kebijakan pastilah akan melahirkan dampak-dampaknya, salah satunya ya seperti yang dialami ibu-ibu penjaja kue tersebut. Dilema memang. Namun, dengan segala ikhtiar dari si ibu, saya percaya, beliau akan menemukan jalan lain untuk menjemput rezeki..

Kubah Masjid said...

Terima kasih infonya, mudah2an bermanfaat...
Ditunggu kunjungan baliknya

... >>> SUKSES

NECKY said...

mbak idah ceris...met kenal juga, saya sendiri perasaan sangat familiar dengan namanya karena sering BW tp belum sempat berinteraksi.
Untuk pedagang...yg di stasiun, terkadang malah ada yg membantu pengguna krl lho mbak...tapi yah istilahnya kalau tuan rumah ga terima tamu yg tidak diundang... kita khan ga bisa maksain.... :-)

NECKY said...

uda vizon....bener banget tuh, Allah pasti akan memberikan pintu lain dalam menjemput rizqi mereka. Saya sangat yakin hal ini akan terjadi.

NECKY said...

kubah masjid...terima kasih sudah mampir... insya Allah akan mampir bro