Monday, 20 May 2013

'Preman'.....

Untuk sementara waktu, saya kembali menjadi roker karena kejadian beberapa hari yang lalu sampai ada perubahan di sisi cash flow....(hehehe). Selama bertahun-tahun menggunakan KRL, saya turun di StasiunTanah Abang ataupun stasiun Dukuh Atas /Sudirman (gimana mood aja mau turun di stasiunnya).

Dalam rutinitas sepanjang hari banyak diantara kita yang mengalami kejenuhan karena melakukan suatu aktifitas yang berulang-ulang. Nah dalam kaitan menghilangkan kejenuhan, seorang teman di kantor menyarankan  agar melakukan aktifitas yang tidak sama setiap harinya. Misalnya kalau naik motor, kita bisa menggunakan rute yang berbeda-beda setiap harinya. Sedangkan kalau naik KRL, bisa menggunakan jadual kereta yang berbeda dan turun di stasiun yang berbeda juga. Ternyata...metode ini cukup ampuh menghilangkan kejenuhan...menggunakan KRL.

Kaitannya dengan KRL, perusahaan saya bekerja memberikan fasilitas tambahan bagi pengguna kereta dengan penjemputan menggunakan mobil operasional kantor yang kalau pagi belum beraktifitas. Mobil-mobil tersebut stand by (menunggu karyawan) di stasiun-stasiun yang banyak karyawannya turun menuju kantor. Kebijakan ini muncul setelah salah seorang direksi melihat salah satu managernya turun dari bis dan jalan menuju kantor. Sang direksi lantas mengajak ngobrol hingga beliau baru 'ngeh' kalau banyak karyawannya yang naik kereta (KRL). Nah semenjak hari itu beliau memerintahkan sebagian kendaraan operasional digunakan untuk menjemput di stasiun tertentu sebagai bentuk dukungan penggunaan transportasi publik... (hehehe lebay banget yah bahasanya....)

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kabar dari beberapa driver yang biasa menunggu karyawan di stasiun2 itu. Mereka di-briefing untuk memberikan 'upeti' karena telah menggunakan 'lokasi' mereka. Namun permintaan tersebut tidak diluluskan sehingga para driver terpaksa pindah dari lokasi biasa tempat. Bagi saya pribadi yang bikin miris adalah 'preman' tersebut menggunakan baju seragam yang gaji dan seragamnya dibelikan oleh kita (rela ga sih pajak yang kita bayar buat gaji mereka malah kelakuannya macam gitu?) Saya lagi membayangkan seandainya hadir sewaktu para driver 'dipanggil' kira-kira apa yang bakal saya lakukan? hal yang paling halus saya lakukan ...barangkali...hanya bertanya siapa nama mereka kali yah?? Habis itu potret mereka dan upload di twitter, FB dan blog......hahahahaha.

Akibat perubahan lokasi itu, saya jadi belum menemukan lokasi parkirnya yang baru padahal sudah dikasih tahu lokasi yang terbaru. Meskipun tidak menemukan mobil kantor, saya menikmati rute baru menuju kantor. Mampir sarapan bubur ayam di tempat baru (meskipun harganya tidak murah tapi minimal tahu rasanya khan?), merasakan suasana baru dengan orang dan lingkungan baru. Saya tetap berupaya untuk berpikir positif agar tidak dipenuhi aura negatif seperti marah dan kesal.

Mudah2an preman-preman berseragam semakin hari semakin berkurang deh....atau kita kudu kasih laporan?? ah...ribet...mendingan doain mereka2 yang masih 'salah' menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi agar kembali ke jalan yang benar dan di-ridhoi Allah.

NE


8 comments:

nh18 said...

Kalau sudah yang namanya "doktorandus" yang satu itu ...
Saya nggak bisa ngomong apa-apa ...

sedih ...
tapi mau gimana lagi ...

Sudah terbayang nanti kira-kira bagaimana Monorel ? MRT ?

Salam saya Pak Neck

Lidya - Mama Cal-Vin said...

gimana rakyat mau nyaman menggunakan fasilitas umum ya kalau belum apa-apa ada preman :)

NECKY said...

mbak lidya....yg bikin nyesek dada adalah premannya berseragam lho. Kalau dari cara nanyanya ke para driver kelakuan mereka itu udh sama dengan preman pasar

NECKY said...

semoga nanti stasiun2 itu di jaga sama kopasus dan marinir aja deh om..

Abi Sabila said...

preman yang 'modis' ya, Pak? Tapi sayang, tindakannya nda didasarkan pada pola pikir yang logis.

NECKY said...

abi sabila...bukan modis lagee, para driver digiring dan dikondisikan sedemikian rupa...kalau menunggu di lokasi tersebut ga boleh...karena tempat tersebut 'masuk' kawasannya weleh2...

niee said...

hmmmmmmm...

sebagai sesama yang pake seragam aku jadi malu sendiri deh, kenapa yak masih meminta-minta gitu. Padahal apa yang ada diberikan rasanya udah lebih dari cukup deh.

Apalagi untuk ukuran Jakarta yang tunjangannya paling besar se-Indonesia. Masih kurang juga? >.<

NECKY said...

niee....ga jadi jaminan kalau tunjangan dinaikkan terus kelakuan jadi bener? lha ini...komandan mereka sendiri yg turun tangan... artinya bukan oknum khan? tapi udh mendekati bobroknya sebagian besar sistem mereka.... dari bawah ke atas upeti terusssss