Monday, 1 April 2013

Tulisan Mbeling : Apakah KRL itu Kereta Rusak Logikanya?

Bukannya tidak mau kasih tulisan asli, tapi isi tulisan dibawah ini sangat menggambarkan kegundahan yang sama tentang logika berpikir (serupa dengan tulisan terakhir saya tentang KRL Ekonomi). Informasi penulis ada diakhir tulisan ini.

 Naik kereta api
Tut tut tuuuuuut…
Biarpun kampungan, saya pernah tinggal di Jakarta lho, Bung. Tapi, terus terang, saya sama sekali belum pernah menggunakan angkutan umum bernama Kereta Rel Listrik (KRL). Selama di Jakarta, saya dulu biasa naik angkot non AC, termasuk bemo, dan hepi-hepi saja. Kalau ke Yogyakarta, saya pun biasa naik kereta api kelas ekonomi alias non AC. Saya maklum pada, 1) kemampuan kantong saya; 2) kondisi kereta api kelas ekonomi.
Nah, saat ini logika saya sedang rusak, Bung. Oh ya? Iya! Berita seputar KRL, gara-garanya. Kata Bung, PT. KAI tetap bersikeras menghapus KRL kelas ekonomi per 1 April 2013, untuk relasi Serpong dan Bekasi. Alasannya, KRL non AC tersebut sudah berusia tua sehingga tidak aman dan nyaman, serta suku cadangnya tidak tersedia lagi. Maka PT KAI akan menggantikannya dengan KRL ber-AC.
Di situlah rusaknya logika saya sebagai orang awam yang mencoba mengoptimalkan diri dalam berpikir untuk bangsa-negara (ceile!). Menurut logika kampungan saya, kereta yang tua itu ya sebaiknya diremajakan kembali dong. Dengan peremajaan itu tentu saja tidak lagi mempersoalkan suku cadang yang tak tersedia, dan keamanan-kenyamanan. Lha kok malah akan dihapus? Bagaimana logika Sampeyan, Bung?
Selanjutnya, apakah PT KAI tidak mempunyai pabrik sendiri untuk membuat KRL baru? Ah, mosok sih? Saya tidak percaya lho. Serius, Bung!
Berikutnya, apakah PT KAI tidak memiliki insinyur-insinyur yang mampu membuat KRL non AC? Ah, yang benar saja, Bung. Mosok sih para insinyur dan teknisi PT KAI tidak mampu membuat KRL non AC yang baru? Kan mampu membuat KRL ber-AC? Super aneh!
Atau, begini saja. Saya usul. Bagaimana kalau para insinyur dan teknisi di PT KAI yang tidak mampu membuatnya, dipecat saja. Lho iya! Percuma dong, otak tidak mampu tapi masih saja dipelihara, digaji, diberi tunjangan, dan lain-lain. Jangan sampai menghambur-hamburkan uang negara (uang rakyat Indonesia) hanya untuk menghidupi orang-orang berotak soak itu, Bung.
Saya juga heran, KRL non AC akan diganti dengan KRL ber-AC. Ini kok maksa banget sih agar rakyat berekonomi menengah-ke bawah bisa menikmati kenyamanan versi orang-orang yang selalu hidup dalam ruang ber-AC? Memangnya murah biaya tiket angkutan umum ber-AC itu?
Bagi rakyat kelas ekonomi, kenyamanan itu bukanlah persoalan ada atau tidaknya AC. Apalah gunanya kenyamanan ber-AC jikalau harus menguras saku mereka. Dengan keuangan yang sudah ngepas bahkan ngepres itu masih harus mereka kelola sebaik-baiknya. Lha kok malah harus menanggung biaya AC yang sama sekali bukan kebutuhan prioritas mereka?
Biasanya, yang ngotot untuk nyaman ber-AC itu adalah orang-orang yang biasa dimanjakan oleh AC dan memang mampu ‘membeli’-nya. Benar, nggak, Bung? Kalau Bung beserta para petinggi KAI berpikir bahwa kenyamanan itu, salah satu faktor penentunya, adalah ber-AC, ya wajar dong. Ruang kerja Bung-Bung pasti ber-AC. Coba kalau hanya berkipas angin, pasti Bung ngedumel, “Kerja kok masuk angin melulu? Gimana bisa nyaman?” 
Saya masih tidak habis mengerti, kenapa persoalan non AC malah harus mengorbankan rakyat kelas ekonomi. Justru saya berpendapat, PT KAI benar-benar tidak pro rakyat berkelas ekonomi nih. Dikiranya seluruh rakyat itu selalu berduit buanyak sehingga mampu membiayai tiket KRL ber-AC? Bah! Sampeyan belum pernah hidup melarat ya, Bung?
Logika, Bung. Sekali, logika. Pakai logika selogis-logisnya logika, jangan pakai dengkul melulu. Apakah Sampeyan-sampeyan itu sudah menghitung berapa penghasilan rakyat yang berkelas ekonomi sehingga wajib menumpangi KRL ber-AC? Kalau tidak mampu berhitung, serahkan kepada ahlinya dong. Biar dihitung dulu, baru rencana disampaikan. Dan, kalau sebatas rencana, tidak usahlah dipaksakan untuk diwujudkan. Repotnya, kalau Bung belum pernah jadi orang melarat, ya begitu itu keputusan Bung.
Sampeyan-sampeyan memang mendapat hak penuh untuk membuat keputusan apa pun. Tapi, ingat “tapi”, mbok yao pakai logika berkebangsaan dan berkeadilan sosial bagi SELURUH rakyat Indonesia dong. Baca baik-baik, SELURUH rakyat, bukan sebagian-sebagian yang khususnya pada bagian rakyat yang terbiasa hidup ber-AC. Coba lakukan survey seakurat-akuratnya survey, apakah semua rumah rakyat kelas ekonomi itu ber-AC.
Hargai dong rakyat kelas ekonomi yang selama ini hanya mampu membayar tiket non AC. Mereka tidak memikirkan kenyamanan AC (karena bukan prioritas dalam hidup mereka) melainkan bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Mereka bertanggung jawab bagi keluarganya agar tetap mampu menghadapi tantangan hidup yang kian mahal ini. 
Bersyukurlah, Bung, mereka masih mau bekerja keras untuk menjaga nama baik Indonesia dari kategori negara melarat peringkat pertama sedunia. Mereka tidak mengemis, apalagi mengemis di sepanjang rel kereta api. Saban hari mereka bersusah payah dengan aroma dalam gerbong yang tidak senyaman kelas AC demi menghidupi keluarga. Dan bersyukurlah, mereka tidak melakukan pemberontakan alias revolusi, Bung.
Hargai juga kerja keras mereka itu, yang sama sekali tidak terlibat aksi korupsi seperti sebagian pengelola negara yang kelihatannya mentereng tapi sejatinya maling belaka. Oknum-oknum itu kelihatannya mentereng dengan segala fasilitas ber-AC yang jelas nyaman tetapi semua itu didapat dari merampok. Merampok, Bung. Merampok.
Sekali lagi, pakai logika dong, Bung. Negara pun wajib menyejahterakan rakyatnya, bukan menyelamatkan koruptornya. Kalau negara tidak mampu lagi menyejahterakan rakyatnya, apakah masih pantas disebut negara? Coba renungkan, Bung.
Dan, jika sebuah negara tanpa rakyat, mungkinkah? Sampeyan pasti bilang, “Tidak mungkin.” Nah! Apakah seluruh rakyat diwajibkan untuk hidup kaya-raya? Tentu tidak, kan? Yang namanya rakyat, tidaklah seluruhnya kaya-raya. Makanya, Bung, pakai logika selogis-logisnya logika, jangan dengkul melulu yang diandalkkan untuk maju dalam berkeputusan.
Bung sempat beralasan pula bahwa biaya subsidi tiket penumpang ekonomi yang seharusnya ditanggung pemerintah melalui dana public service obligation (PSO) kerap datang terlambat. Lho, itu, kan bukan kesalahan rakyat kelas ekonomi, Bung?
Soal bayar-membayar begitu jelas banget deh bukan kesalahan rakyat kelas ekonomi. Tapi, kok kelihatannya malah mengorbankan rakyat kelas ekonomi ya? Logika saya kok jadi rusak-berantakan ya, Bung? Tega nian Bung memorak-poradakan logika saya yang dangkal ini.
Tapi, yach, apa boleh buat. Beginilah repotnya kalau pengelola transportasi massal milik negara hanya berorientasi pada keuntungan profit tanpa memikirkan kondisi ekonomi rakyat. Rakyat yang sedang berjuang menaklukkan tekanan kebutuhan hidup, masih saja diperas untuk menguntungkan negara. Bisa makin botak saya kalau begini, Bung!
Saya pun berpikir, apakah negara ini sedang jatuh miskin/melarat sehingga terpaksa memeras sumsum-darah rakyat sedemikian rupa melalui BUMN-nya. Lagian, mosok sih BUMN itu singkatan dari “Berorientasi Untung Melulu Nih” atau “Berorientasi Untung Meskipun Nabok/Nempeleng/Nampar/Ngemplang/Nendang/Nginjak/Ngisap/Nindas”? Ah, mosok sih sekeji itu? Mohon, jangan bikin saya mengalami kebotakan total dalam memikirkan semua ini.
Menurut saya, sepatutnya negara, melalui BUMN-nya, tetap berbelaskasihan kepada rakyat kelas ekonomi yang selama ini gigih (tidak cengeng) dalam menyiasati nasib di Negeri Para Koruptor ini. Keringat dan darah mereka adalah jimat paling bertuah bagi keluarga mereka. Ketika keluarga mereka bisa terjamin, niscaya cukup untuk meredam gejolak emosional mereka terhadap tawa-ngakak para pengkhianat rakyat yang kerap tertayang di layar televisi.
Juga PT KAI, sewajibnya lebih teliti dan bijak dalam mengalkulasikan untung-rugi. Eling, Bung, hidup tidaklah melulu meraup keuntungan (profit). Keuntungan profit untuk KRL ber-AC dapat dialokasikan (subsidi silang, begitu deh istilahnya) untuk menanggulangi kerugian pada KRL non AC. KRL ber-AC, yang nyaman, dan mampu dibayar oleh penumpang berduit banyak, bisa menjadi penopang bagi rakyat kelas ekonomi sehingga terjadi sinergi yang adil-harmonis dalam tatanan sosial seluruh rakyat Indonesia.
Coba deh Pak Dirut PT KAI meniru gaya Mas Jokowi, blusukan ke stasiun-stasiun KRL, bertanya langsung pada rakyat kelas ekonomi. Kalau takut dikeroyok bahkan digebuk habis-habisan, menyamarlah sebagai siapa, gitu. Dengarkan secara cerdas-cermat keluhan-keluhan dan harapan-harapan mereka. Inventariskan baik-baik.
Terakhir nih, di manakah Dahlan Iskan? Saya bertanya begitu lantaran saya menduga bahwa menteri yang suka cengengesan satu ini sama sekali tidak pro rakyat kelas ekonomi. Cengengesannya identik dengan pelecehan terhadap rakyat kelas ekonomi. Bahkan, cengengesannya cenderung mencederai hati rakyat kelas ekonomi serta merusak logika saya.
*******
Balikpapan, 26 Maret 2013
Penulis adalah Agustinus Wahyono (Gus Noy), Cerpenis, tinggal di Balikpapan

8 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

KRL gak ada habis-habisnya ya cerita tentang kertea. Mudah-mudahan aja kedepannya bisa lebih baik lagi

DewiFatma said...

Aku tertawa-tawa mbacanya, Mas.. Yang nulis lucu sih.. Lagian aku blom pernah naik kereta api yang berbunyi tut..tut..tuut..itu. Cuma tau nyanyinya doang.. :D

NECKY said...

mbak lidya...terlalu banyak bahan yg bisa dibuat stand up comedy. Seandainya saya comic seperti si erry banyak banget bahannya tuh hehehehe

NECKY said...

dewi....apa kabarnya?? namanya penulis ,,,bahasanya keren abiss dan straight to the point sambil sindir sana sini ....mantap khan??

Inzra said...

Saya tidak butuh KRL pake AC, perjalanan cuman 40 menit aja kok mesti pake AC, kipas angin aja cukup kok.
Matiin aja semua AC-nya dan jadiin single tarif ekonomi, beres deh

Mampir dong ke Visit humorbbm.com!

NECKY said...

baik gan inzra....hehehhehehe. segera meluncur kesana deh....:-)

Anonymous said...

Siapa tahu PT. KAI mau menghilangkaan Gerbong Ekonomi dan diganti dengan Ber-AC tapi harga EKonomi... ALhamdulillah ya....

molen said...

Siapa tahu PT KAI akan memberlakukan Gerbong Ber-AC tapi dengan harga ekonomi...