Wednesday, 27 March 2013

Sekali Lagi Tentang KRL (Ekonomi)

Seorang anak kecil mengadu kepada ibunya kalau gigi-nya sakit, lantas sang ibupun membawa si anak untuk mengobatinya ke dokter gigi. Ini adalah ilustrasi umum, apabila kita memiliki permasalahan kemudian kita berusaha memecahkannya. Lalu apakah sang dokter menyuruh si anak ganti gigi baru? atau yang paling ekstrim ganti kepala saja agar sang anak tidak sakit gigi??


Bahkan seorang Dahlan Iskan sudah mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi pada KRL Ekonomi. Saya kutip dari acct twitter beliau @."Tentu bbrp kali. Itu bukan milik KAI. Setahun lalu mogok 1.200x, akibatnya ganggu KRL 4.200x." Masalah di KRL Ekonomi adalah gerbong yang sudah tua dan kurang layak digunakan lagi. Kalau kita meng-analogikan dengan ilustrasi anak di atas, seharusnya gerbong KRL Ekonomi diperbaiki kualitasnya entah diperbaiki atau diganti dengan gerbong baru dan bukannya lantas KRL Ekonomi dihilangkan. Sama saja sang dokter bukannya mengobati sakit gigi tapi giginya dihapusin aja :-). Kita tidak usah mengajari pak menteri khan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sayangnya statement beliau di detikcom tidak secara nyata bahwa KRL Ekonomi HARUS dihapus.(belakangan katanya beliau yg mengusulkan KRL Ekonomi untuk dihapus)
Belum lagi statement dari pejabat KAI, Humas PT KAI Pusat Mateta Rizalulhaq "Kami itu prioritas keselamatan. Kalau masalah keselamatan dan biaya memang tidak akan pernah nyambung. Kita tidak bisa memungkiri KRL ekonomi tak layak beroperasi, menyangkut keselamatannya dulu," Sebagai mantan pengguna rutin KRL (sekarang hanya sesekali saja), saya sangat setuju bahwa keselamatan itu sangat penting. Hal ini bolak balik dinyatakan oleh para pejabat KAI sewaktu ingin menaikkan ongkos Commuter Line (CL) beberapa bulan yang lalu. Namun CL juga jauh dari kenyamanan karena apabila kondisi penuh sesak dan padat, saya pribadi lebih suka menggunakan KRL Ekonomi yang bisa mendapatkan 'udara' dari jendela-jendela yang terbuka. Saya merasakan naik CL itu saya bisa tidak 'selamat' karena kekurangan oksigen.

Beliau juga menambahkan bahwa ada 2 hal penting yang tak bisa ditawar sama sekali dalam pelayanan kereta api yang harus berlaku sama bagi semua penumpang. Pertama, adalah keselamatan. Gerbong KRL Ekonomi ada yang beroperasi sejak tahun 1974 dan suku cadangnya sudah tidak diproduksi lagi. Hal ini berpengaruh pada keselamatanKedua, adalah waktu. "Siapa yang berangkat duluan berhak sampai duluan. Yang berangkat lebih pagi punya hak datang lebih awal. Nah, pelayanan kita akan mengarah ke sana," Saat ini masalahnya adalah gerbong krl ekonomi dan itu adalah statement mereka, lantas kenapa juga bukannya ganti gerbong eh malah MENGHAPUS KRL Ekonomi. Sebagai orang yang mampu berpikir jernih dan logis, saya sangat berusaha untuk mengerti namun tetap tidak bisa mengerti langkah penyelesaian masalah yang diajukan.

Sebagai perusahaan yang dituntut untuk untung terus, sang CEO tidak bisa disalahkan karena dipikirannya adalah memberikan profit kepada pemegang saham. Bagi pengelola, mereka menyiapkan KRL dan perusahaan dapat laba bahkan laba sebesar-besarnya. Apalagi dengan tidak adanya 'pesaing' (KRL swasta), otomatis, mereka berpikir bahwa pengguna dipersilahkan menerima apa adanya atau silahkan menggunakan moda transportasi lain (baca: Take It or Leave It). Namun mereka lupa pesaing mereka memang bukan head to head kereta ada juga moda transportasi lain yakni Motor. Mereka sukses memindahkan sebagian pengguna untuk 'menikmati' subsidi lewat BBM.

Well...mungkin juga ini salah satu satu 'terobosan' untuk meningkatkan pelayanan versi pengelola. Mungkin juga pengguna KRL itu pasti banyak yang setuju menurut versi mereka (lagi). Menurut 'kacamata' mereka adalah berangus jenis kereta yang tidak memberikan kontribusi (dengan tidak membeli tiket). Keyakinan mereka sangat tinggi sebab pengguna KRL selalu menurut berapapun kenaikkan tarif tiketnya. Dan memang ternyata hingga saat ini ga ada yang ribut lagi soal harga tiket khan??

Terakhir, adalah sebuah statement resmi di media online dari pimpinan PT KAI bahwasanya pengguna KRL ekonomi mengalami penurunan terus sedangkan pengguna KRL AC mengalami kenaikan setiap tahunnya. Tahu ga sih, turunnya jumlah pengguna KRL Ekonomi itu dikarenakan jumlah perjalanannya dikurangi oleh PT KAI sendiri, dan kenaikan pengguna KRL AC itu juga karena jadwalnya bertambah dan menggantikan jadwal KRL Ekonomi. Yang bikin lucunya lagi, DATA ini merupakan salah satu indikator dalam upaya menghapus KRL Ekonomi.....PLis Deh ah....kalau mau bohong...mbok ya cari cara yang lebih eylekhan *pinjam istilah om enha*

NE

17 comments:

nique said...

lagi2 rakyat kecil yg jadi korban ya mas :( apalagi dengan kenaikan tarif yg drastis seperti. kebayang kok saya kecewanya kayak apa. tapi kita ini bisa apa. paling klo mau kompak, ya semua boikot gak naik kereta. orang2 yg biasa naik AC juga ikutan boikot, biar diperhatikan. Eh tapi saya tahu juga sih, klo hal2 seperti ini tidak satu pemahaman semuanya. Tak sedikit (atau malah kebanyakan?) yang tidak peduli, yang penting urusannya beres, yang lain sabodo teuing deh :( Yeah, kita dituntut menjadi semakin individualis, tak ada lagi kebersamaan ... *eh perlu ada kebersamaan gak sih untuk urusan gini? Jadi gak jelas gini aku hehehe*

NECKY said...

nique...pengalaman pribadi gw sih, kalau semakin banyak uang orang semakin individualis. Ga tahu kenapa gw lebih senang naik KRL Ekonomi ketimbang yg AC karena lebih nyaman dengan orang2 di dalamnya. Susah lah kita mengharapkan orang2 mau bersama-sama utk menghadapi situasi kayak gini

Lidya - Mama Cal-Vin said...

bagi sebagian orang beda beberapa ribu tidak masalah, tapi lihat orang lain beberapa ribu itu bisa untuk jatah makan siangnya. Harusnya rakyat kecil lebih diperhatikan ya

nh18 said...

turunnya jumlah pengguna KRL Ekonomi itu dikarenakan jumlah perjalanannya dikurangi oleh PT KAI sendiri, dan kenaikan pengguna KRL AC itu juga karena jadwalnya bertambah ...

Saya tersenyum ...

Statement resmi (khas public relation) itu memang tidak salah ... PR memang selalu bisa mengambil pernyataan dari sudut yang berbeda ...

saya hanya bisa berharap ...
bisa didapatkan solusi yang baik ... mungkin bukan yang terbaik bagi semua pihak ... namun yang solusi yang "korbanan" nya paling sedikit

salam saya Pak Neck

NECKY said...

betul banget mbak lidya...perbedaan 6500 x 2 = 13000 dan itu merupakan jatah makan siang mereka. Dan kalau dikalikan jumlah hari kerja mereka menjadi 13000 x 22 = 286.000. Kalau dipersentasikan menjadi 13% dari komponen gaji UMP.

NECKY said...

om enha...bener banget deh...kasih solusi yang lebih besar manfaatnya bagi orang banyak. bener kata sebagian orang2 bilang, this is an auto pilot country. Kayak ga ada yg mengendalikan...semuanya sa'karepe dewek....ck ck ck ck....
btw yg ngomong itu bukan PR lho om, tp level pimpinan perusahaan dan itu statement resmi alias press release hehehe

Abk said...

Benar Om Neck, ada beberapa pertanyaan yang sangat mengganggu dalam penghapusan Kereta Ekonomi ini. Mulai dari Alasannya yang tidak keren, solusinya pun tidak ada (mungkin PT. KAI belum punya waktu untuk menjelaskan). Bahkan sialnya, imbasnya bukan hanya pada penumpang ekonomi yang akan membayar lebih mahal, tetapi kapasitas CL juga tidak mencukupi untuk mengangkut semua pengguna kereta api. Bisa kita bayangkan, dengan kondisi saat ini saja, CL sudah begitu sesak apalagi jika aturan ini jadi diterapkan. Jadi anekdot om Necky tentang sakit gigi cabut kepala kita tanyakan juga kepada Jonan dkk, apakah mereka memang benar-benar punya kepala untuk memikirkan secara serius tentang perkereta apian? Saatnya mereka buka ke publik tentang grand design blue print perkereta apian Indonesia.

NECKY said...

iya banget...CL yg sekarang aja udh penuuh sesak gimana ditambah kapasitas krl ekonomi yang jelas2 buanyak banget penggemarnya termasuk gw....hehehehe.
Satu lagi tentang punya kepala atau ngga...gw rasa kepala mereka ada di tempat koq tp ga tahu ya...ada isinya atau ngga?? hehehehe

puteriamirillis said...

KRL jabotabek kita masih kurang armadanya seharusnya ditambah mengingat kereta itu salah satu armada yg diminati warga jabotabek krn bebas macet. KRL ekonomi hrsnya juga jangan dihapuskan, beli aja yg baru, dijadikan krl ekonomi..apa salahnya sih membuat warga pecinta krl seneng...sekali2..drpd korup..hehe

NECKY said...

pa kabar mbak puteri?....lucu dan anehnya negeri ini ya mbak. wong rusak gerbongnya malah krlnya yang dihapus...emang senengnya buat orang sengsara doank nih...

Akun awal said...

walau saya bukan pengguna KRL tapi turut berbelasungkawa terhadapa PT. KAI atas kebijakkannya.

Dari golongan bawah tentunya menjerit, mereka harus mengeluarkan beban yang lebih untuk ongkos sementara mereka memiliki kebutuhan lain.

Jika gerbong rusan dan Spare Part nya tidak diproduksi lagi, maka bautlah gerbong yang baru, produksi saja yang baru

sabda awal said...

Maaf ya mas, nyepam. KOment akunawal dihapus saja. saya salah pakai akun, hehehe

walau saya bukan pengguna KRL tapi turut berbelasungkawa terhadapa PT. KAI atas kebijakkannya.

Dari golongan bawah tentunya menjerit, mereka harus mengeluarkan beban yang lebih untuk ongkos sementara mereka memiliki kebutuhan lain.

Jika gerbong rusan dan Spare Part nya tidak diproduksi lagi, maka bautlah gerbong yang baru, produksi saja yang baru

Bintang said...

Hallo Necky...
Saya belum pernah naik KRL, ekonomi maupun bukan ekonomi. Jadi kalo pendapat saya agak cemen, dimaklumin ya!

Menurut saya, penghapusan KRL ekonomi kalau toh memang perlu dihapus, harus dilakukan secara bertahap. Tujuannya adalah untuk memberi ruang bagi sebuah evaluasi. Baik itu bagi KAI maupun masyarakat.

Segala sesuatu yang dilakukan frontal, biasanya memang mengundang keberatan. Kalaupun ada tujuan positif dikatakan pembuat keputusan, pasti akan 'tertutup' duluan oleh dampak negarif yang dirasakan oleh masyarakat dari sebuah kebijakan.
:)

NECKY said...

mbak Irma namanya pendapat ga ada yg cemen atau tidak cemen semuanya mesti diapresiasi. Masalah rencana penghapusan KRL Ekonomi itu bagi saya merupakan suatu yang sah2 aja bagi sebuah perusahaan yg cari untung. Tapi alasan yg diungkapkan adalah KRL Ekonomi itu banyak gerbong yg rusak. Jadi karena banyak rusak maka KRL Ekonomi HARUS dihapus? Memang dilema sebuah perusahaan... lalu dimana pemerintah yang mestinya menyediakan pelayanan kepada masyarakat??

NECKY said...

mas sabda awal....itulah yg lucu khan?

danirachmat said...

Masalah ini emang nyebelin Pak Necky. Mau mengutuki KAI tapi ya buang energi aja. Lhawong masih tetep milih naik kereta dibanding moda transportasi yang lain.

NECKY said...

welcome to the club bro dani.... hahahaha