Thursday, 23 February 2012

FTM

Gara-gara om enha buat karsini, akhirnya nique buat tulisan ttg ibu bekerja dan tidak bekerja. Banyak juga yang memberikan komentar dengan pro dan kontra....hehehehe. Inti dari semua komentar-komentar yang ada adalah untuk menjadi ibu yg bekerja di kantor atau bekerja di rumah (ini istilah saya untuk Full Time Mother*FTM* merupakan sebuah pilihan sulit karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kebetulan saya dibesarkan oleh ibu yang bekerja di rumah maka dari itu saya kurang bisa bercerita tentang pandangan dan perasaan menjadi anak dengan ibu yang bekerja di kantor (di luar rumah). Dan kebetulan juga, istri juga tidak bekerja di luar rumah. Padahal sebulan memiliki anak, istri bekerja bahkan saya bertemu dengannya di tempat kerja lho. Keputusan tidak bekerja di kantor sepenuhnya merupakan keinginan dia sendiri dan saya selalu mendukung apapun yang dipilih olehnya. Sudah barang tentu saya selalu memberikan pandangan2 yang rasional.
Kemarin ini saya sengaja mengambil day off karena istri harus pergi mengurus pembuatan SIM C dia yang hilang beberapa waktu yang lalu. Kalau hari biasa, saya hanya mengantar pagi2 anak ke sekolah sebelum berangkat kantor naik kereta, untuk hari ini menjadi luar biasa karena semua pekerjaan jemput menjemput harus saya take over.

Start jam 6.30, seperti biasa saya mengantarkan Ajif dan Nafis dengan motor karena dengan moda transportasi inilah yang paling cepat dan efisien. Kembali ke rumah jam 7.30,  saya bersiap kembali mengantarkan istri ke halte PIM trans Jakarta sekalian memasukkan mobil ke bengkel untuk servis besar di Pondok Pinang. Dari bengkel jam 9.30, saya pulang naik angkot untuk bersiap kembali mengantarkan Nedia ke sekolah. Sampai di rumah jam 10 lewat, saya mengingatkan Nedia untuk bersiap berangkat jam 11.00.

Akhirnya saya baru berangkat jam 11.30 sedangkan perjalanan ke sekolah Nedia menghabiskan waktu 30 menit. Dari sekolah Nedia yang terletak di Cilandak/Fatmawati, saya kudu bergegas ke sekolah Ajif  karena dia pulang jam 12.  Dengan cepat-cepat mengendarai motor, saya berhasil sampai jam 12.30. Untuk pulang dulu ke rumah sepertinya tanggung banget karena Nafis pulang jam 2. Bisa2 baru anter Ajif di  depan pagar, saya harus balik ke sekolah lagi.

Perjalanan ke rumah dari sekolah tidak macet, namun berhubung Nafis dan Ajif makan siang dulu di sekolah akhirnya sampai di rumah sudah jam 3 kurang deh. Sementara itu saya berniat potong rambut setelah tertunda terus rencananya. Kelar jam 4 sore begitu sampai di rumah Nafis kasih tahu kalau tadi bengkel mobil telpon dan beri tahu kalau mobil sudah selesai servis. Tadinya masih mau santai, eh Nafis bilang jam 4 bengkelnya tutup....wuahhh...buru2 mandi dan pergi ke bengkel karena takut keburu tutup. Bisa berabe kalau sampai harus ngambil mobilnya keeokan harinya.

Selesai urusan administrasi, saya langsung meluncur ke sekolah Nedia yang jaraknya 4 km kali yah??? Ternyata sesampai di sekolah pas waktunya pulang. Dari sekolah Nedia, saya meluncur langsung ke rumah dengan kondisi badan yang sangat capek sekali.

Sesampainya di rumah, saya jadi makin salut dengan profesi ibu rumah tangga karena saya belum tentu sanggup seperti mereka. Kalau sampai ibunya anak2 sakit, mau tidak mau saya harus meangambil day off agar semua schedule berjalan dengan baik.

Lalu bagaimana dengan ibu yang bekerja?...saya yakin mereka juga berjibaku membagi waktunya antara keluarga dan kewajiban sebagai pekerja yang menerima gaji bulanan. Ini juga tidak mudah karena banyak perusahaan yang tidak mau kompromi dengan aturan-aturan yang dibuatnya. Anak sakit aja masih sering ditelpon dan ditanyai soal pekerjaan malahan ada juga yang disuruh masuk bekerja demi profesionalisme.

Kesimpulannya, baik itu ibu bekerja maupun FTM, keduanya merupakan dua pilihan yang sangat sulit bagi seorang perempuan zaman sekarang. Keduanya memiliki adrenalin tinggi sehingga masing2 individu selalu memberikan  argumentasi kelebihan dan kekurangan pilihannya...

NE

36 comments:

Mama Olive said...

Horee..aku termasuk FTM

dulu aku di besarkan oleh Mama yang bekerja,aku sama mbah hiks..

Bang gimana rasanya ngojeg antar jemput anak sekolah,seruu kan yaa?/

apapun pilihan Ibu baik bekerja atau FTm,pilihan hidup dan harus konsekwen dengan pilihannya.

Mama Olive said...

Aihh tumben pertama..
ada door prizenya ga Bang..

salam buat si bule Ajif,tolonk cubitin pipinya ya..

nicamperenique said...

Dan sepertinya ada salah persepsi dengan pemahaman FTM yg kumaksudkan pada tulisan itu Mas. Tapi ya sudahlah :D toh maksudku, pilihan yang mana pun yang diambil, seyogyanya dijalani dengan PENUH KEIKHLASAN.

Jangan lagi ada komentar kayak gini niy : "klo aja gw kerja, bla bla bla" kedengerannya kok ga rela ya jadi ibu ngurusin anak di rumah
atau ada lagi gini :"sayang 'kan ijasah sarjana gw klo CUMA ngurusin anak dirumah."

Aiii ... denger yg begitu itu sebenernya maka tulisan kemarin ada.

Saya sih dibesarkan oleh ibu yang bekerja, dan gak masalah juga karena ibunya tetap WASKAT sama semua anaknya hehehe gak sibuk sendiri gitu.

Kan masih banyak tuh, emak2 yang bisa kongkow di luar, padahal udah kerja seharian, dengan alasan "gw jg berhak dong punya ME TIME." yaaa sah2 saja jika anaknya udah mandiri, katakanlah ngomong pun udah jelas maunya apa.

Hlaaa klo masih bisanya ngower2 mpe keluar biji matanya, atuh kasian bukan? :D

eh panjang ya komennya, dapet hadiah gak mas? xixixi

Arman said...

istilah FTM untuk menyebut ibu ayng gak bekerja udah diralat om. istilahnya yang bener adalah SAHM (stay at home mom).

seorang ibu, baik bekerja atau gak bekerja, pasti ya selalu jadi full time mom. dari sejak anaknya lahir, yang namanya ibu ya akan jadi ibu seumur hidupnya... :)

Fahrie Sadah said...

Menarik juga nyimaknya, bisa jd bahan pertimbangan buat nyari calon istri .. ^^

Orin said...

Nah...aku lg binun nih mas, kelak kalo punya momongan mau gmn ya, msh binun hehehe

Niar Sri Sadono Ningrum said...

wah jadi wanita harus survive.. hidup ituh kejam :D

Susi Susindra said...

Saya lebih nyaman menjadi FTM daripada bekerja. Dan yah, dulu saya pernah heran sekali karena suami tak bisa secepat saya dalam mengerjakan sesuatu. Akhirnya saya sadar. Ya.. menjadi FTM tanpa asisten memang membuat kami selalu mengerjakan 2-3 pekerjaan bersamaan. Memasak sambil mencuci baju dan momong anak. Menyetrika sambil nonton TV, mengecek Binbin bermain, masih disambi pula membantu Destin belajar. Hehe..

Endi said...

Kiranya mungkin mas, untuk memiliki seorang istri yang kita berkeinginan bahwa isteri kita itu cukup dirumah saja, mengurus anak-anak dan lain-lain, tentunya ada kesepakatan dulu. Apakah sang suami sanggup memenuhi kebutuhan keluarga, khususnya dari segi ekonomi ?
Karena 1 hal yang menjadi alasan, mengapa beberapa isteri ikut bekerja, adalah untuk membantu ekonomi keluarga..

NECKY said...

nchie...istilah FTM=ibu yang bekerja dari dan di rumah kali yah. Waktu mereka ini sangat fleksible dibanding kerja di kantor yang kudu absen datang 8 pagi pulang jam 5 sore.
Istri saya sempat mau kerja di kantor lagi setelah Ajif masuk SD tahun lalu. Namun ketika tangannya patah, keinginan itu otomatis sirna lagi. Mungkin karena dari bayi, dia mengurus semuanya (tanpa baby sitter). Istri tidak sampai hati untuk meninggalkan anaknya saat dia sakit....
Jangan di cubit donk pipinya Ajif, nanti dia ngamuk...repot emak sama bapaknya buat memenangkan dia tuh... maklum galak banget...hehehe

NECKY said...

sorry ya nique...gw salah mengintepretasikan makna FTM. Sebenarnya saya juga sering banget mendapati keluhan teman kerja wanita yang juga seorang ibu terutama saat anaknya sedang sakit dan dia tidak bisa menemani sepanjang waktu. Bagi seorang ibu yang normal hal ini merupakan sebuah pergulatan batin yang tidak main-main lho.
Memang benar juga, banyak alasan yang dipilih oleh seorang ibu yang bekerja. Apapun alasannya, gw yakin banget itu sudah merupakan kesepakatan dengan pasangannya. Namun paling banyak alasannya adalah membantu ekonomi keluarga. Betapa mulianya mereka ini mau membantu beban sang suami sebagai pencari nafkah.
Sedangkan untuk alasan ijazah, sebenarnya dalam mendidik anak2 kita harus memiliki ilmu? dengan ilmu tinggi yg dimiliki seorang ibu, insya Allah anak2nya semakin berkualitas khan??
Apapun pilihannya...semuanya top deh pokoknya

niee said...

iyaaa.. masok gara2 dia bekerja jadi 'setengah waktu menjadi ibu' kan yak.. klo aku dilahirkan dari ibu yg bekerja.. tapi ibu aku bekerjanya cuma setengah hari (soalnya guru SD :D ) dan sekolah aku dulu dipilih yg deket rumah.. jadi ya aku pergi dan pulang sendiri ke sekolah.. udah smp dan ibu merasa bisa melepas aku baru deh sekolah yg agak jauhan.. tapi ya tetep pergi pulang sendiri pake angkot. jadi seumur2 jrg diantar jemput sama ibu bapak deh :D

dmilano said...

Saleum,
Aku juga dibesarkan oleh ibu yang bekerja, namun sebagai PNS beliau hanya bekerja setengah hari saja, aku salut dengan kesigapan dan kekuatannya memberekan kewajibannya sebagai ibu walaupun dia sudah capek ngajar disekolah....

Jurnal Transformasi said...

Mas Necky, sejak anak sulung saya berusia setahun, saya juga memutuskan jadi ibu yg fullkerja di rumah. Awal2nya sih suka minder ketemu teman-teman yg kerja di kantor, lah kok sdh sekolah tinggi2 akhirnya mendampar kan diri di rumah. Sayang atuh orang tua sdh keluar duit banyak untuk pendidikannya...

Awal2 terguncang juga menerima kenyataan. Padahal keputusan utk berhenti kerja di luar gak ada yg nyuruh kecuali emngikuti suara hati terdalam karena gak rela anaknya cuma kenal pembantu.

Tapi sekarang, setelah bertahun-tahun dan menengok lagi kebelakang, saya tak pernah menyesal jadi FTM. Anak2 saya tumbuh dengan baik, perangai alhamdulillah gak ada yg aneh-aneh. Dan tampaknya mereka bahagia, menikmati bahwa saya adalah ibunya hehehe..

marsudiyanto said...

Kalau saya malah turun temurun Mas
Mbah saya, ibuk saya dan istri saya 100% murni sebagai ibu rumah tangga, maksud saya nggak kerja yg punya atasan dan digaji rutin.
Yg saya bingung adalah manakala ngisi form yg ada isian tentang pekerjaan.
Harus diisi apa ya?
Yg saya juga masih nggak jelas adalah ibu yang bekerja dikantor atau di perusahaan. Beliau2 ini pasti nggak mau jika dikatakan "bukan ibu rumah tangga"

mechta said...

Wah...sehari jadi pe-Ternak Teri (nganter anak nganter istri)cukup heboh juga ya pak... oya, boleh juga tuh istilah SAHM yg disebutkan bung Arman...

anna said...

setuju mas...
setiap pilihan punya konsekwensi sendiri.

baik Ibu yg 100% di rumah maupun yang kerja. tantangan membagi waktu.

dulu ibu saya bekerja (dgn 4 anak), jadi saya bisa ngerasain di rumah harus belajar mandiri. sempat punya asisten, tapi sepertinya begitu saya udah masuk TK.. udah gak pake asisten.

saya kalo besok punya anak... kira2 gimana ya... sementara ini msh kerja... :)

nicamperenique said...

SAHM? Nahhh... ini baru pas!

MAKASI ya Man, elo emang top dah xixixi ...

NECKY said...

Arman...sebenarnya SAHM itu boleh juga tapi sbenarnya yg punya usaha sendiri atau free lancer masuk yang mana yah???....hehehe

NECKY said...

fahrie...yang manapun itu tipe dipilih...semuanya memiliki konsekuensi masing2 koq...tinggal kesepakatan aja...dan itu ga sulit bagi pasangan yang komunikasinya baik

vizon said...

Capek ya Bang ngantar jemput anak-anak seharian? Haha.. itu barangkali karena sekali-sekali melakukannya. Coba kalau sudah menjadi rutinitas, biasa aja kali ya..

Ok, apapun namanya, menjadi Ibu (dan Ayah) itu adalah sebuah konsekwensi yang harus kita terima dan jalani dengan ikhlas dan baik.

Semoga anak-anak kita tidak luput dari perhatian kita, apapun pilihan profesi kita, mau full di rumah atau bekerja di luar.. Iya kan Bang? :)

NECKY said...

orin...yang penting itu pilihan dari dalam hati orin sendiri. Jangan mengambil keputusan dengan terpaksa. Paling enak tuh sholat istikharah bagi yang bimbang....hehehehe

NECKY said...

niar....semua manusia kudu survive koq ..ga laki2 atau perempuan. Yang penting kita bisa siap dan mempersiapkan kepada penerus kita agar bisa survive

Lyliana Thia said...

kalau menurut aku, seorang ibu yg bekerja, pastinya membutuhkan orang lain untuk menangani pekerjaan yg biasanya dikerjakan oleh FTM, dgn kata lain nggak bisa 100% menjadi seorang homemaker dan pd saat bersamaan punya karir luar rmh.. bener bahwa semua itu pilihan.. dan dua2nya punya tingkat stress yg cukup tinggi... jd inget ibu saya.. hiks..

NECKY said...

mbak susi...tanpa asisten memang membuat anak2 kita lebih mandiri dan mau mnegerjakan pekerjaan rumah secara gotong royong.... selalu ada aja hikmahnya

NECKY said...

endi...bagi seorang istri yang mau mebantu ekonomi keluarganya dan dia ikhlas dalam menjalankannya... sungguh mulia hatinya...karena dia mau bahu membahu dengan suami untuk meringankan bebannya...

NECKY said...

niee..yg namanya orang tua tuh akan selalu mengkhawatirkan keadaan anaknya meskipun nanti dia udah punya anak sekalipun. Orang tua yang normal itu selalu menjaga anak2nya dengan baik karena anak itu khan titipannya Allah SWT

NECKY said...

dmilano...kalau zaman dulu PNS itu emang ga kerja sampai sore seperti sekarang. Jadi waktu untuk keluarganya masih banyak yang bisa dilakukan...

NECKY said...

mbak Evi....dulu tuh perempuan yg kerja di rumah aja memiliki stigma rendah namun alhamdulillah saat ini stigma seperti itu sudah ga ada lagi. Baik yg kerja di kantor atau kerja dari rumah, semua memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Apapun keputusan yang sudah diambil memang ga perlu disesalkan...untuk itu kita enjoy aja ya mbak dengan semua keputusan kita....hehehe

NECKY said...

pak mars...ibu rumah tangga itu sebenarnya bukan profesi khan? melainkan sebuah status yg dipilih tp sebuah pilihan hehehehe

NECKY said...

mechta...ember...perempuan itu udh biasa mengerjakan pekerjaan secara paralel sedangkan laki2 secara serial..makanya ga terbiasa

Imelda said...

mama tinggal di rumah, padahal aku tahu potensinya bagus untuk tetap bekerja. Pernah kutulis juga di TE ttg apakah mama pernah menyesal tidak bekerja lagi? Dan tentu dijawab tidak. Meskipun aku tau wkt itu keuangan mama dan papa sungguh tidak mencukupi.

Sekarang aku? Mau dibilang FTM, SAHM bukan dan karir juga bukan. Aku tidak bekerja full time, shg bisa mengatur waktuku sendiri. Ideal mungkin, tapi kalau pas dtg kerjaan spt terjemahan dan recording bertumpuk, kewalahan juga deh.

NECKY said...

anna...kalau memang merasa bisa meninggalkan anak dalam waktu yg lama dan yakin semuanya bisa dijalankan dengan baik....ya silahkan saja bekerja dari rumah. Apabila ga yakin, jangan sampai kerja di kantor namun pikirannya justru di rumah mikirin si bayi.... hehehehe...yg mana pilihannya pastikan aja itu yg terbaik buat anna

NECKY said...

uda vizon...100% setuju, mungkin karena aktifitas saya lebih banyak non fisik kali yah. Sedangkan kalau aktifitas full fisik jadi rada2 kaget.
Yang pasti sih, kita sbg ortu harus memberi bekal kepada anak2 kita agar mereka bisa mandiri serta berakhlak baik dan mulia....:-)

NECKY said...

mbak thia....semuanya ada resiko dan tanggung hawab yang sangat besar ya mbak....?!!!?!

NECKY said...

mbak EM...sapean adalah free lancer seperti halnya istri saya. Bekerja secara musiman (kalau ramai pesanan doang....hehehehehe). Memang sih kalau lagi dead line bisa kurang tidur tuh untuk nyelesaikan kerjaannya.....