Sunday, 16 February 2014

Pengalaman Di Area Bencana

Berangkat dari Jakarta tanggal 13 Februari 2014 dengan menggunakan pesawat dari bandara Halim Perdana Kusuma bersama-sama rombongan kantor yg berjumlah sekitar 17 orang untuk mengadakan workshop di Jogyakarta. Berangkat jam 14.25 dan sampai di Adi Sucipto jam 15.40.

Sewaktu mau masuk pesawat, seorang rekan memberi info tentang pesawat2 pribadi yang sedang parkir di bandara Halim. Langsung aja saya sebisa mungkin mengabadikan pesawat pribadi sepanjang mau masuk pesawat dan sewaktu berada didalam pesawat.  Sayang banget ga semua pesawat bisa direkam  kamera. Tapi yang penting saya bisa melihat sendiri tentang pesawat jet pribadi secara langsung (seperti yang kayak di film-film....hehehehhe)

Sebelum check in di hotel Ibis Style, saya dan rombongan sempat mampir makan siang menjelang sore di resto dan tempat penjualan kaos Dagadu yg terletak di dekat keraton Jogya. Baru selesai mandi, kami dan rombongan bersantap malam bersama di kawasan keraton nama restorannya Bale Raos (yang ternyata milih pemerintah lho...soalnya ada simbol Sarinah-nya...hehehehehehe). Saat menjelang selesai makan malam, big boss mengajak lihat sunrise di Borobudur sebelum workshop... (dalam hati...kapan lagi nih diajakin big boss). Meskipun rombongan yg ikut pergi hanya berlima saja, saya tetap antusias banget.

Jam 3 pagi dikontak rekan untuk ngumpul di lobby hotel...meskipun rasa ngantuk luar biasa tapi semuanya kalah oleh rasa senang mau foto sunrise di Borobudur. Sampai di lokasi sekitar jam 4an dan ternyata cukup mahal juga saudara2 untuk ikut event seperti ini. Satu orang dikenakan biaya sebesar Rp.250.000,- (wah kalau bayar sendiri mana kuat yah....hehehehehe). Dari pembicaraan dengan sang resepsionis, kejadian meletusnya G. Kelud tadi  malam sampai terdengar oleh mereka. Kami masih kurang percaya karena mengingat lokasi gunung meletus dengan Magelang atau Jogya itu khan jaraknya ratusan kilometer.

Tidak ada sedikitpun yg terbersit dipikiran saya kalau dampak meletusnya G.Kelud itu akan sampai di Jogya sewaktu melihat beritanya di TV sebelum saya tidur. Namun sewaktu saya dan rombongan mau naik ke candi, salah seorang anggota rombongan yg tinggal di jogya menginformasikan kalau di rumahnya sudah ada abu yang jatuh di sekitar halaman rumahnya. Saya baru menyadari saat naik ke candi, kami semua diberi jas hujan plastik untuk melindungi dari hujan abu (belum ada masker). Dalam perjalanan menuju puncak candi, saya merasakan hujan abunya semakin deras, namun keinginan yg tinggi membuat kami semua maju terus ke puncak candi. Jam menunjukkan pukul 5 kurang tp tiba2 petugas keamanan dari Candi menyuruh kami semua turun dan mengevakuasi secepatnya karena kondisi semakin buruk. Well ...dengan sedih terpaksa kami turun menuju tempat resepsionis tadi.

Kamipun bergegas pulang untuk menghindari keadaan yang lebih buruk. Ternyata dalam perjalanan kami ke Jogya, cuaca kamin tidak bersahabat. Guyuran hujan abu makin kencang...belum lagi abu yang beterbangan dari kendaraan lagi saat berpapasan dengan mobil kami. Keadaan makin diperparah dengan turunnya hujan rintik...karena bukannya menyabu abu yang menempel tapi malahan membuat abu tersebut menjadi sulit hilang oleh wiper mobil. Beberapa kali jarak pandangan hanya 1 meter dan membuat mobil terpaksa berhenti sejenak. Kami sempat mampir di masjid untuk menyiram kaca mobil agar kami tetap bisa melanjutkan ke Jogya dengan selamat. Sesampai kota Jogya, kami seperti memasuki kota mati karena hampir jarang orang berada di jalanan. Debu yang sangat tebal berasal dari hujan abu G. Kelud membuat orang-orang jadi malas keluar rumah.

Setelah sampai di hotel, workshop ditunda pembukaannya karena big boss menyarankan untuk membuat backup plan kepulangan. Bandara Adi Sucipto dipastikan tutup hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Kami memutuskan untuk mencari tiket kereta api dan secepatnya pulang ke Jakarta. Situasi di jalanan sangatlah tidak mendukung..meskipun kelihatannya hujan abu sudah tidak turun kagi namun dampaknya sangat signifikan bahkan malioboro seakan menjadi kota mati yang ditinggalkan penghuninya. (Sayang banget rencana jalan dan foto2 di malioboro tidak sempat terlaksana karena suatu hal) Di tempat pemesanan tiket kereta, belum terlalu banyak orang yang pesan namun meskipun begitu, kami rada kecewa karena kehabisan tiket hari itu (14-2-2014) tapi akhirnya kamipun tetap dapat tiket untuk berangkat keesokan harinya. Begitu kami bergegas pulang, baru deh banyak calon penumpang yang akan memesan tiket.

Beberapa gambar tentang suasana kota Jogya setelah hujan abu yang hebat. Sempat juga saya berbincang dengan tukang becak yang mangkal di depan hotel. Kalau hujan abu G. Kelud lebih hebat dibandingkan sewaktu meletusnya G. Merapi beberapa tahun yang silam. Kasihan juga dengan orang kecil macam tukang becak yang menggantungkan penghasilan dari turis. Saya sempat bertanya sama si abang becak, kenapa nekad keluar dan tetap narik becak padahal dia juga tahu bahayanya abu vulkanik ini. Menurutnya kalau dia tidak narik...(cari nafkah...terus anak istrinya makan apa?) Dia bilang juga sejak pagi belum dapat sewa. Saya ingin sekali naik becak beliau namun mengingat bahaya abu vulkanik, jadinya mengurungkan niat tersebut. Padahal ingin banget jalan-jalan di malioboro dan ambil foto di daerah sekitar situ.

Well...untuk pertama kalinya saya memiliki pengalaman di daerah bencana alam. Dari sana, saya mendapatkan beberapa ilmu..seperti kecepatan mengambil keputusan dengan membatalkan tiket pesawat dengan tiket kereta api. Menjadi paham dan mengerti suasana hati para penduduk yang mengalami musibah. Namun begitu pada saatnya sholat Jumat, kami mendapati masjid tidak kosong alias tetap penuh seperti biasa. Suasana yang tidak kondusif tidak menurunkan niat orang untuk tetap beribadah sholat Jumat.... Semoga saja kita menjadi lebih empat kepada masyarakat yang terkena musibah seperti ini.

NE




7 comments:

danirachmat.com said...

Alhamdulillaah dapet tiket ke Jakarta tanggal 15nya ya Pak. Padahal Jogja "hanya" menjadi daerah yang terkena hujan abunya ya Pak. Tidak bisa membayangkan situasi di daerah yang dekat dengan gunungnya. Semoga tidak ada korban jiwa dan semoga bisa lekas teratasi

nh18 said...

Wah pengalaman yang luar biasa ya Pak Neck

Saat erupsi ... justru Pak Neck ada di Yogyakarta ...
saya bisa melihat betapa tebalnya abu yang ada disana

Semoga teman-teman kita di daerah bencana ... dimanapun ... bisa diberikan kekuatan dan kesabaran

salam saya Pak Neck

nh18 said...

(15/2 : 12)

Lidya - Mama Cal-Vin said...

harus sigap dalam keadaan seperti itu ya pak. Say apernah mengalami abu kelud waktu kelas 5 SD pak saat itu perjalanan menuju Malang

NECKY said...

iya mas dani...kita beruntung bisa dapat tiket KA pas tanggal 15. Karena dapat dibayangkan rebutan tiketnya setelah itu...apalagi bandara baru dibuka 5 hari kemudian

NECKY said...

om enha...tadinya saya bertanya tanya apa maksud angka2 tersebut...setelah menyimak...baru deh ngeh maksudnya.... bener2 bikin mikir nih.... hihihihihi

NECKY said...

mbak lidya...yg pasti harus cepat ambil keputusan agar ada rencana cadangannya...berjalan dengan keinginan