Monday, 24 June 2013

Sistem Baru Di Penerimaan Siswa Baru

tampilan print out pendaftaran online
Seharian dari pagi (tentunya ambil cuti dulu lah) sudah melanglang buana ngurusin pendaftaran sekolah buat Nafis dan Nedia. Tahun in pendaftaran siswa untuk masuk SMP dan SMA memang dilaksanakan secara serentak Untuk saya yang tahun ini kebetulan kedua anak saya nyari sekolah SMP dan SMA jadi agak ribet deh. Peraturan penerimaan untuk tahun inipun ada perubahan. Nah kalau ada perubahan peraturan pastinya ada yang dirugikan namun ada juga yang diuntungkan.

Kebetulan sekali saya yang termasuk dirugikan (hiks...hiks...hiks) karena kesempatan anak2 saya mendapatkan sekolah negeri di DKI menjadi lebih kecil. Dari kapasitas penerimaan siswa baru mis: 200 orang, anak2 saya hanya bisa bersaing untuk mendapatkan bangku ...separuh dari kapasitas maksimalnya yakni 100 orang. Hal ini disebabkan oleh domisili tempat tinggal saya yang sudah bukan penduduk DKI (terhitung dua tahun yg lalu saya memutuskan untuk pindah domisili di tempat tinggal saat ini. Saya berpikir positif aja saat memutuskan pindah domisili karena memang sebelumnya ga punya masalah apalagi yg berhubungan dengan sekolah). Aturan yg berlaku sebelumnya adalah asal sekolah saja dan tidak melihat domisili.
Nah adanya peraturan baru itu yang bikin ribet karena ada tambahan proses verifikasi. Pada proses ini data-data terutama alamat dicocokan dengan Kartu Keluarga (KK) asli. Kalau tahun sebelumnya sekolah asal bisa membantu proses pendaftaran, untuk kali ini KK asli harus dititipkan pula apabila pendaftaran dilakukan secara kolektif. Sementara itu, saya harus melakukan pendaftaran untuk anak yang lainnya. Pastinya bakalan repot banget kalau sampai daftar ga pake KK asli. Sementara itu setelah proses verifikasi ada tahapan lain yakni data yg terverifikasi kemudian di print out sebagai tanda bukti untuk lapor diri kalau sudah diterima.

Sekolah pertama yang saya datangi adalah SMP 87 untuk Nafis, ketika saya tiba di sana....mayoritas ibu-ibu bergerombol di depan loket pendaftaran sampai-sampai panitia sama sekali tidak terlihat dari belakang kerumunan. Saat saya ingin memasukkan data-data untuk verifikasi ternyata saya DIHARUSKAN mengisi sebuah lembaran yang berisikan data yang sama seperti di print out pendaftaran online. Dalam hati saya, lho kenapa mesti isi data lagi sedangkan saat daftar online sudah dilakukan? Terus terang saat itu (dalam hati lho) saya kesal setengah mati...wah ini mah cuma akal2an panitia setempat aja. Saya menolak untuk mengisi lagi dan langsung ajak Nafis untuk pindah SMP untuk proses verifikasi.

Kami berdua memutuskan untuk pindah lokasi ke SMP 177. Sesaat sampai disana....yang ada adlah lautan manusia. Menurut pendapat saya, penanganan pendaftaran di lokasi ini lebih baik dari lokasi sebelumnya. Setelah memasukkan berkas untuk diverifikasi saya menunggu panggilan yg pertama untuk mendapati nomor urut pendaftaran sekaligus verifikasi awal. Tiba-tiba ada pengumuman bahwa nomor antrian telah mencapai 500an, dihimbau bagi para pendaftar untuk mendaftar di tempat lain bagi yang baru datang atau sudah dimasukkan tp belum dipanggil karena jaringan sedang offline sehingga proses verifikasi masih belum dapat dikakukan (error).

Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung ambil lagi semua berkas untuk pindah ke lokasi pendaftaran lain. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke SMP 87....heheheheh bolak balik deh. Saya mau mengisi lagi form yang disuruh deh. Berhubung antrian sudahjauh berkurang..akhirnya saya dapat panggilan untuk verifikasi setelah menunggu 30-45 menit. Tadinya saya mau menunggu print out hasil verifikasi tapi berhubung
harus mengantar Nedia untuk daftar SMA, sayapun memutuskan mengambil besok saja (karena memang diperbolehkan) mengambil print out verifikasi keesokan harinya.

Di SMA 86, kejadian yang sama ditemukan, saya HARUS mengisi formulir dua rangkap dengan format ala panitia lokasi ini (berbeda dengan di SMP). Well...saya makin bingung dengan fungsi pendaftaran online karena informasi yang ditulis...hampir sama dengan isi informasi di print out (seperti yang ada di gambar). Tapi kali ini saya ga protes....udah karena cape dan menjadi maklum bahwasanya fungsi pendaftaran online belum maksimal digunakan oleh sekolah-sekolah. Namanya sistem baru...banyak yang belum paham dan untuk meminimalisir disinformasi mereka semua mempunyai solusi sendiri...it's okay lah (sedang berpikir positif lagi...). Namun sampai jam 2 menunggu, panggilan print out verifikasi belum dipanggil dan disuruh kembali esok hari. Kalau gitu...posisi daftar SMP dan SMA jadi seri deh...sama2 belum ambil tanda bukti print out verifikasi....hehehehehe.

Lepas dari segala permasalahan di sekolah waktu pendaftaran, PPDB DKI dengan baik menyajikan data pergerakan di internet dengan baik. Kekhawatiran servernya hang atau jeblok tidak terbukti meskipun diakses oleh puluhan ribu (bahkan ratusan ribu kali yah). Kita bisa memantau pergerakan nama anak2 kita bergeser dari awal pendaftaran....awalnya yang ada di halaman satu makin lama pindah ke halaman berikutnya apabila ada yang masuk mendaftar dengan nilai yang lebih baik...hehehehe...

Overall...kekurangannya adalah tidak maksimalnya print out pendaftaran online. Semoga aja di tahun mendatang bakalan lebih baik lagi...dan ada kemungkinan besar banyak orang pindah domisili menjadi Jakarta lagi karena penerapan sistem zona...padahal maksudnya dibuat sistem zona bertujuan mengurangi kemacetan. Jarak rumah dan sekolah tdak terlalu jauh (sekecamatan) jadi ga perlu banyak mobil atau kendaraan bermotor di jalanan....

NE
 


8 comments:

yayats38 said...

Wah selamat Pak sudah putranya sudah masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Sudah besar-besar. Semoga kelak berprestasi.

Anak saya baru mau masuk SMP juga. Pgi ini lagi menunggu kelengkapan persyaratan untuk masuk seperti SKHUN ya. Konon sekolah minta yang asli namun belum diperoleh.
Semoga semua lancar dan kenal anak kita bisa belajar dengan nyaman.

Masalah isi formulir yang sama ... saya juga ikut aneh. Kadang kita harus menoleransi pemborosan energy. Dari yang paling kecil saja, kertas .. berapa banyak yang terbuang kalau data secara online juga sudah tersedia dalam bentuk yang sama he he.

Situs Jual Beli Online Gratis said...

Waah waah..anak abegeh Abang masuk SMA..
selamet2 ya..
mudah2an masuk SMA yang di inginkan Nedia
Iya jaman semakin canggih , pendaftran pun serba onlen, tapi ada aja ribet juga ya Bang :D

nh18 said...

Mudah-mudahan dimasa yang akan datang pendaftaran akan semakin lancar ...
dan bisa mengurangi hal-hal yang tidak perlu ... misalnya mengisi formulir yang hampir sama ... untuk berbagai keperluan ...

BTW ... di sekolah anak-anak kita ... form yang musti diisi (kalau tidak salah) ada 7 ... dan semua memuat informasi yang sama ... tapi untuk berbagai keperluan ...

Semoga Nafis dan Nedia mendapatkan sekolah yang diindamkan ...

Salam saya Pak Neck

NECKY said...

kang yayat....yang saya makin bingung adalah tadi pagi saat mau mengambil tanda bukti verifikasi pendaftaran. Hampir tidak ada bedanya print out yg saya berikan pertama mendaftar dengan yg saya terima. weleh2...ga efisien banget yah. tapi berpikir positif aja mudah2an tahun depan tidak terjadi lagi kejadian buang2 kertas...

NECKY said...

situs jual beli online....sebenarnya sih ga online banget2 koq...cuma pengumumannya doank yg online

NECKY said...

iya om enha...di zaman serba canggih lebih baik meminimasi paper work. Tinggal masukkin satu database aja cukup...kalau mau diambil tinggal di retrieve anytime...less paper work dah....
terima kasih doanya om enha... selamat liburan deh....

Edratna said...

Orangtua ikut pusing ya kalau waktunya pendaftaran sekolah...jadi ingat masa lalu.

Membayangkan jika orangtuanya kurang pendidikan, maka akan lebih sulit lagi....semoga ke depan tata cara pendaftaran makin lancar.

Sukses ya pak Necky, semoga pendidikan putra-putrinya lancar.

NECKY said...

bu enny...banyak juga lho yg saat ini orang tuanya ga paham menggunakan internet...jadi pasrah sama anak2nya aja