Sunday, 3 March 2013

Beda Generasi, Beda Tantangan

Saya masih beberapa tahun yang lalu, saat masih duduk di sekolah, Ibu saya selalu menekankan bahwa saya harus sekolah setinggi-tingginya agar bisa menjadi 'orang'. Saya suka tersenyum sendiri kalau mengingat kata2 beliau karena bolak balik saya selalu menjawab...(sambil bercanda tentunya) 'emang sekarang belum jadi orang yah??' Keinginan beliau agar anak2nya bisa sekolah tinggi sangat besar. Meskipun keluarga kami bukan keluarga yang berkecukupan, namun kalau untuk biaya sekolah ....beliau selalu bisa memenuhinya dengan cara apapun....

Sekali-sekali saya suka menjawab serius tapi santai bahwa untuk jadi 'orang' khan ga mesti lewat jalur sekolah formal. Masih banyak jalan untuk menjadi 'orang'. Saya suka mencoba memahami ucapan2 beliau khususnya tentang sekolah ini. Keluarga bapak yang berjumlah 10 orang, hanya 2 orang saja yang tidak menjadi sarjana. Lantas saya berpikir apa karena ada contoh itu kali ya?? Meskipun suka protes2...saya tetap berusaha untuk menyenangkan hati beliau. Alhamdulillah sebelum beliau meninggal, saya sudah berhasil mewujudkan cita2nya tersebut. Ga terbayang betapa kecewanya kalau sampai saya tidak mewujudkan mimpinya tersebut.
Lain Zaman Lain Tantangan
Saya pernah diledek habis oleh salah seorang adik bapak tatkala tidak berhasil masuk ke PTN. Padahal saya sudah menjelaskan bahwa persaingan masuk PTN saat itu sangat ketat dan berat. Setelah anaknya mengikuti jejak saya, perlahan tapi pasti ledekan tersbut hilang begitu saja ...hehehehe.

Kebetulan tahun ini Nafis dan Nedia akan Ujian Nasional (UN) untuk masuk ke SMP dan SMA. Kalau dulu bapaknya bersaing masuk PTN, sekarang ini persaingan untuk masuk SMP dan SMA/SMK Negeri aja sudah sangat berat. Untuk SMA, agar bisa 'safe' nilainya harus 36 (rata2 9 dengan 4 mata pelajaran). Sedangkan SMP sedikit relatif lebih ringan namun kalau mau lokasi yang dekat dengan rumah nilai amannya ya kudu rata2 9 juga.

Kalau tahun 80an, kita punya titel sarjana aja...kita bisa mendapatkan tempat kerja yang merupakan pilihan kita sedangkan menjadi sarjana S1 di tahun 2013...sangat sulit bersaing bahkan S2 sekalipun. Pendidikan formal sudah bukan kartu truft lagi karena sudah berubah menjadi kartu biasa.
SMK yang dulunya merupakan pilihan setelah SMA, saat ini malah berbalik. Saya lihat kondisi ini melalui arsip penerimaan siswa baru dki tahun lalu (yang ada di websitenya). Beberapa keahlian seperti Multimedia di SMKN minimal yang diterima rata2 9....wow...

Mudah2an saya bisa mempersiapkan anak2 saya sesuai dengan kemampuan mereka masing2 sebab setiap anak itu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Kalau saat ini sekolah formal hanya cocok untuk anak2 yang memiliki kecerdasan logial-mathematik padahal ada 7 kecerdasan lainnya seperti yang saya pernah tulis disini. Kalau nantinya mereka tidak bisa masuk sekolah negeri, bukan berarti selesai dengan impian mereka. Memang sih rada ga nyambung antara nilai yang saya terapkan kepada anak2 bahwa yang saya inginkan adalah bukan nilai mereka yang tinggi melainkan proses belajar mereka yang 'BENAR'

Untuk blogger yang anak2nya mau masuk SMP atau SMA....jangan nambahin beban anak2...yang penting dampingi saja mereka agar mereka bisa nyaman mengerjakan apapun.....cheers...

NE

10 comments:

nh18 said...

Saya setuju banget Pak Neck ...
Jangan malah menambah stress mereka ...

Jujur saja ... saya merasa ... sistim seperti ini sangat membuat anak-anak stress ... guru-guru apa lagi ...

Semoga sukses untuk Nedia dan Nafis

Salam saya Pak Neck

applausr said...

setuju ah, jangan sampai ditambahkan dengan target target tidak penting... biarkan anak anak menikmati dunia belajarnya...

Dongeng Denu said...

Kasian anak2 skrg, pelajarannya susah2 bgt.

NECKY said...

om enha...tahu sendiri donk sekolah anak2 kita punya standard yang tinggi khan?? bingung ya pak... ujian koq bikin semua pihak jadi stres yah? mestinya ujian itu dilakukan dengan santai dan tenang sehingga semua kemampuan akan terlihat dengan optimal

NECKY said...

pak rom...bener banget...jangan sampai udh tua dan umurnya banyak baru seneng main yah? sebab ada temen yg bilang ttg penelitian kalau seseorang waktu masa kecilnya kurang bermain...kalau sudah dewasa jadi bermasalah

NECKY said...

dongeng denu ..bener banget sekarang pelajarannya makin sulit aja

dey said...

bener tuh bang, bukan nilai yang tinggi, tapi prosesnya mencapai nilai itu. Saya juga selalu bilang begitu sama anak saya. Kasian ah kalau di haruskan mendapat nilai tinggi. Sementara beban anak2 disekolah udah berat.

NECKY said...

dilema orang tua sebenarnya kalau anak2 mendapat nilai tinggi khan minimal bisa membantu cash flow mereka..... :-) (secara sekolah negeri khan gratiss tis tis...)

niee said...

Tuntutan lingkungan ya mas.. bukan mencari ilmu lagi jadi rasanya..

NECKY said...

bener niee...pada nyari nilai doank hehehehe