Wednesday, 26 October 2011

Kecerdasan Anak

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat tagged notes tentang macam-macam kecerdasan. Di dalam tulisan tersebut ada sembilan kecerdasan dasar yang dibuat oleh Howard Gardner. Kalau pernah mendengar Multiple Intellegence ...yah ini yang dimaksud oleh tulisan tersebut.

Sebagaimana setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, namun di dunia pendidikan dasar Indonesia hanya beberapa saja yang diserap atau digunakan sebagai bahan penilaiannya. Pada artikel itu disebutkan bahwa setiap anak bisa memiliki kecerdasan lebih dari satu (multiple intellegences). Adapun kecerdasan yang dimaksud adalah:

  • Logical-mathematical: Kecerdasan dalam penggunaan angka dan penalaran logika. Tipe anak seperti ini menyenangi cara belajar dengan berargumentasi dan penyelesaian masalah. Paling sesuai ditampilkan di dalam kelas. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh progammer komputer, ahli matematika, insinyur, akuntan, bankir, ahli statistik, ilmuwan, dan sebagainya.
  • Spatial (atau visual): Kecerdasan ini menghasilkan dan 'melihat' sesuatu di dalam kepalanya karena peka terhadap warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan antar-unsur tersebut. Si Anak belajar secara visual dan berpikir secara holistik untuk memahami segala sesuatunya. Untuk kecerdasan ini biasa kita temukan pada pelukis, arsitek, fotografer, sutradara, desainer,dll.
  • Linguistic: Kecerdasan dalam menggunakan kata-kata dalam lisan dan tertulis. Baik itu secara tata bahasa, makna bahasa, penggunaan bahasa untuk mempengaruhi orang untuk melakukan tindakan, dsb. Beberapa profesi yang sangat cocok antara lain, orator, pembawa acara, politisi, pendongeng, wartawan, editor, pembicara, dll.
  • Bodily-kinesthetic: Kecerdasan yang sangat spesifik dalam kemampuan mengontrol penggunaan fisik atau tubuhnya. Mereka sangat terlatih menggunakan tubuhnya (seperti koordinasi keseimbangan, ketrampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan) untuk mencapai target atau keinginannya. Latihan fisik membuat gerakan mereka menjadi gerakan refleks. Karir yang sesuai antara lain sebagai olahragawan, penari, tentara, pilot, dokter bedah, dll.
  • Musical: Kecerdasan yang memiliki kepekaan suara pada irama, titian nada, melodi, dan musik. warna nada atau warna suara suatu lagu. Biasanya mereka menggunakan lagu atau irama dalam proses belajarnya. Kecerdasan ini biasanya dimiliki pemain musik, penyanyi, komposer, penari, dll.
  • Interpersonal: Kecerdasan ini mampu membedakan berbagai tanda interpersonal dan menanggapi secara efektif tanda tersebut dengan tindakan pragmatis tertentu melalui kepekaan dalam melihat ekspresi wajah, suara, dan gerak-isyarat. Kemampuan berkomunikasinya sangat efektif dan sangat berempati dengan orang lain. Profesi yang cocok dengan kecerdasan ini antara lain sebagai politisi, tenaga penjual, guru, pekerja sosial, dll.
  • Intrapersonal: Kecerdasan yang mampu memahami diri sendiri (kekuatan dan keterbatasan diri) seperti memotivasi, berdisiplin diri, mengatur temperamen, keinginan dan maksud. Biasanya kecerdasan ini dimiliki oleh ilmuwan, psikolog, penulis, spiritualist, dll.
  • Naturalistic: Kecerdasan dalam hubungannya dengan alam sekitarnya, termasuk dalam mengkategorikan dan mengenali binatang, tumbuhan, batu-batuan dan gunung. Karir yang cocok biasanya sebagai petani, peternak, penambang,dll.
  • Existential : Kecerdasan ini oleh teori lainnya disebut juga sebagai kecerdasan spiritual atau kecerdasan religi. Kecerdasan ini mampu mengkontemplasi fenomena atau pertanyaan tanpa didasari oleh data empiris. Profesi yang sesuai adalah ulama, pendeta, ilmuwan, dll.
Jadi kalau anak anda ternyata test IQ-nya tidak tinggi atau bahkan di bawah rata-rata, bukan berarti kita dapat melabel sebagai anak itu bodoh atau tidak cerdas. Teori ini menjadi menarik tatkala kita akan menilai dan mengenali anak-anak kita. Kita harus dapat menggali dan menggali terus serta mencocokan kecerdasan mana yang menonjol pada buah hati kita. Kebetulan sekali sistem pendidikan kita banyak yang mengadaptasi bahwa dibutuhkan nilai IQ tinggi yang dapat atau bakal maju dan sukses padahal itu bukan harga mati. Sekali lagi, kenalilah secara seksama pada buah hati kita agar mereka dapat berkembang sesuai dengan komptensi dan kecerdasannya.

NE

 *Sumber diambil dari beberapa artikel yang ada di internet.*

15 comments:

Lidya - Mama Pascal said...

masing-masing anak punya bakatnya sendiri gitu ya pak?

DewiFatma said...

Bener, Mas. Aku pernah juga baca tentang ini. Tapi masyarakat kita menilai anak pinter itu adalah anak yang nilai matematikanya 9.

Padahal bisa aja anak yang nilai metematikanya 7 kelak lebih sukses dibanding yang nilai matematikanya 9 itu, kan?

Apa yang menyebabkan masyarakat kita berfikir sedangkal itu ya, Mas? *pertanyaan sok keren* :D

NECKY said...

lidya...betul banget. makanya kalau bisa jangan pernah membandingkan diantara mereka karena memang kecerdasannya berbeda...

NECKY said...

pertanyaan yang mudah dijawab ...karena yang gampang dinilai itu yang pakai angka. Misal: penilaian kinerja pegawai antara sales dan bagian support. Kalau sales udh jelas targetnya dalam nominal rupiah sedangkan untuk bagian support agak sulit membuat penilaiannya...

Imelda said...

dalam nalar dan bahasa memang terlihat Kai lebih pandai dibanding kakaknya, tapi aku membicarakan hal ini dengan papanya jika Riku tidak ada, atau berbicara dalam bahasa Inggris sehingga Riku tidak dengar. Untung Riku juga sering mengakui bahwa adiknya itu pintar.

(Dan waktu kecil aku seperti Riku, mempunyai adik yang bisa dikatakan "jenius")

sarabose said...

Very interesting blog!
hp laserjet 1020

NECKY said...

mbak EM...kira2 RIku menonjol dimana mbak??
soalnya diantara ke-3 anakku, hanya nafis yg menonjol nilai2nya tapi bukan berarti dia superior di kecerdasan lainnya...

NECKY said...

sarabose...thx

Ejawantah's Blog said...

Perkembangan anak itu tergantung dari pada apa yang dia lihat dan dia dengar ya mas ?

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

krismariana said...

kalau dilihat dari kerjaannya, saya langsung mengacu ke kecerdasan bahasa (linguistic). hehe. dan rasanya entah kenapa saya suka bahasa.

Endy said...

saya sangat setuju mas...kadang orang tua atau orang-orang hanya menilai suatu kecerdasan dengan melihat nilai akademik, padahal kecerdasaan itu sendiri banyak macamnya...dan saya berpendapat bahwa tiap manusia memiliki kecerdasan masing-masing pada suatu bidang.....

pemain bola mungkin tidak tahu menulis proposal peneletian, tapi coba kita berikan dia bola, maka apa yang terjadi..

Nafizal Muhammad Effendy said...

ejawantah...iya betul...tapi talent atau bakat juga berpengaruh

Necky said...

krismariana...itu mah ga usah dipungkiri lagi...hahahaha

Susindra said...

Sekarang ini dunia kerja sangat menyoroti EQ.
Saya setuju dengan postingnya, Pak. Kebetulan punya beberapa bukunya juga. :)

NECKY said...

Jadi yang saya tulis itu termasuk EQ ya bu??....hehehehe maklum ga beli buku tapi baca2 di internet aja