Wednesday, 12 December 2012

Pilihan Hidup

Beberapa waktu yang lalu,  saya chit-chat dengan teman kantor yang sudah membulatkan tekadnya untuk RESIGN. Sebenarnya dia hanya mau pensiun dini (lama bekerja sudah 18 tahun) namun perubahan peraturan membuat keinginannya tidak dapat direalisasikan dengan mulus. Sebelum ada peraturan baru, karyawan memang bisa mengajukan pilihan pensiun dini ketika sudah bekerja lebih dari 15 tahun. Dia bertekad untuk meninggalkan zona nyaman (comfort zone) yang dimiliki saat ini. Dia ingin men-challenge dirinya untuk membuat perubahan agar lebih baik.

Kemudian saya sempat membaca diskusi di milis kereta yang membahas tentang penggusuran pedagang kaki lima (PKL). Banyak yg tidak setuju dengan caranya menggusur, ada yg berpendapat tidak membela kaum ekonomi lemah karena di setiap stasiun pasti ada minimart, ada juga yg bilang kenapa tidak dari dulu2 menggusurnya, ada juga yang bilang apakah mereka berani menggusur yang ada di sepanjang rel menuju tanah abang?, ada juga yang mengkaitkan dengan somasi yang dilakukan oleh penumpang kereta kepada KAI/KCJ atas pelayanan amuradul selama ini, dan lain-lain. Diskriminiasi terhadap pedagang kecil dibandingkan dengan minimarket yang menjamur di tiap stasiun.....ini yang paling keras menanggapi penggusuran.

Saya melihat untuk cerita pertama, bahwa teman saya memilih jalan hidupnya agar lebih maju dengan mengembangkan dirinya di luar perusahaan. Tentunya dengan segala resiko yang pastinya sudah dia perhitungkan sebelum memutuskan resign. Dia mau melakukan sebuah perubahan dengan keputusan mengambil resiko. Ada yang berpendapat kalau teman saya itu terlalu gegabah dan karena emosi sesaat. Namun setelah saya berdiskusi lebih lanjut dengan beliau ternyata dia memang sudah punya banyak agenda yang akan dilakukan dan dia yakin bahwa Allah senantiasa akan memberikan hal yang terbaik bagi diri dan keluarganya.

Sedangkan untuk cerita kedua, saya menanggapi dengan berbeda. Di satu sisi, saya setuju dilakukan penataan yang lebih baik di setiap stasiun. Namun saya kurang setuju dengan cara-cara yang dilakukan (mungkin udah ada kegiatan pendahuluan atau pembicaraan sebelumnya tapi tidak terjadi kesepakatan ....*berpikir positif saja*) dengan membuldozer semua bangunan. Di stasiun sudirman, PKL diatur dan ditata baik dengan memberikan lahan kepada mereka untuk berjualan. Bagi saya, apabila memang terjadi diskriminasi terhadap PKL, langkah pribadi yang saya lakukan adalah memutuskan untuk tidak akan berbelanja di minimarket yang ada di stasiun.

Mengutip dari salah seorang ustadz kondang "Berikan waktu utama Mu kepada keluarga apabila menginginkan keluarga Mu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah. Jangan dibalik dengan hanya memberikan Sisa waktu Mu kepada keluarga tapi kamu menginginkan hal yang lebih"
Pilihan memberikan waktu khusus kepada keluarga terkadang bertentangan dengan ritme kehidupan orang kota terutama yang bekerja di Jakarta karena pulang kantor dan sampai di rumah terkadang anak-anak sudah tertidur dan kalaupun bertemu dengan mereka hanya sesaat. Apalagi kalau suami istri yang sama2 bekerja di kantor. Apapun kehidupan yang anda pilih...semuanya pasti ada konsekuensi dan resikonya masing. Semoga saja pilihannya adalah yang terbaik buat anda dan keluarga....

NE

9 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

Allhamdulillah suami saya pergi kerjanya tidak harus pagi-pagi sekali pak. jadi setiap hari masih bisa main-main dulu sama anak

nique said...

yahhh begitulah hidup ini mas Necky
kami yang secara pekerjaan dianggap sudah ideal karena sama2 di rumah sepanjang waktu, dans ebetulnya jika punya anak maka sepatutnya kami bisa didik dan besarkan bersama2, tapi apa mo dikata justru blom dikasih hehehe sementara banyak orang yg seperti mas Necky dan teman2, yang ingin membagi waktu lebih banyak dengan keluarga tapi masih harus berladang di lahan orang lain yang mana tak bisa suka2 hati menggunakan waktu.

Nchie Hanie said...

Yah begitulah hidup ya Bang..
harus memilih, dan harus yakin dengan apa kata hati kalo itu pilihan hidupnya yang terbaik..

NECKY said...

mbak lidya....indahnya punya waktu yg agak longgar ya mbak...

NECKY said...

nique...tetap berpikir positif dan ikhtiar yaa. Allah tahu yang terbaik buat nique dan suami. Mungkin di saat ini khan sedang membuat pondasi yang ok. Baik dari segi finansial dan mental. HE knows better than us. Semoga di tahun 2013 Allah mengijabah apa yang menjadi harapan Nique dan suami.....aamiin

NECKY said...

nchie...itulah gunanya kita berdoa, semoga Allah selalu membimbing kita di setiap keputusan yang kita buat... semakin kita dekat dengan NYA semakin sering DIA menjaga kita dari keputusan yang keliru...aamiin

nh18 said...

"Berikan waktu utamamu kepada keluarga dst ... Jangan dibalik dengan hanya memberikan Sisa waktumu kepada keluarga ... dst

Saya membaca berkali-kali tulisan ini Pak Neck ...

Lalu saya pun merenung ...
Sudahkah saya memberikan waktu utama yang cukup dan berkualitas untuk keluarga ?

Terima kasih telah menuliskannya disini ...

salam saya Pak Neck

air.st said...

resign..
tampaknya hanya ada diperusahaan saja, kalo PNS sepertinya jarang sekali yang mau resign.. :D

Susi Susindra said...

memilih dan tetapkan pada pilihan itu. sudah lama saya meninggalkan confort zone demi anak dan mulai tergiur kembali bekerja setelah si bungsu masuk TK B nanti. apapun kelak pilihan saya, semoga yg terbaik bagi keluarga.