Thursday, 1 November 2012

Pengorbanan

Sungguh trenyuh saat membaca berita seorang pemulung yang hanya memiliki penghasilan Rp.25.000,- per harinya mengirim 2 ekor kambing ke masjid untuk dijadikan korban di hari raya haji atau idul adha.


"Sudah lama Mak pengen kurban nak. Sejak tiga tahun yang lalu. Tapi kan mak ini kerjaannya cuma mulung, jadi penghasilan nggak jelas. Buat makan sehari saja kadang udah sukur. Jadi Mak ngumpulin dulu duit Rp 1.000, Rp 1.500 sampai tiga tahun, lalu Mak beliin kambing dua ekor. Sampai-sampai penjual kambingnya Mak cegat di tengah jalan saking Mak pengen beli kambing," ujar Mak Yati sambil tertawa.

Pasti sebagian besar dari kita udah mengikuti beritanya donk. Mereka rela menyisihkan penghasilan yang tidak terlalu besar hanya untuk keinginan kuat melakukan kurban. Sementara itu, mungkin banyak diantara kita yang penghasilannya lebih besar malah tidak memotong kurban. Pengorbanan yang dilakukan tidak sia-sia karena mereka telah berhasil mencapai keinginannya.
Sering kita temui keluarga (suami dan istri) yang bekerja keras hingga mereka mengorbankan waktu berkumpul dan bercengkrama dengan anak2nya demi segenggam berlian (kalau sesuap nasi mah ga bakal pulang sampao malam khan?). Sungguh beruntung bagi yang bisa mengkompensasi dengan hal lain akan tetapi apabila yang terjadi ....sudah mengorbankan waktu sedemikian rupa tapi belum dapat sebutir berlianpun.

Ada juga keluarga yang dalam mencari rizqi tidak terlalu ngoyo. Pulang kantor setiap hari hampir tidak pernah telat sampai di rumah. Sementara itu, sang istri hanya bekerja di rumah agar bisa memberikan waktu yang banyak buat mengurus keluarganya. Apapun pilihannya, semua itu adalah pilihan di masing-masing individu. Namun banyak juga yang bilang...mereka semua bekerja keras buat anak2nya bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan kesehatan yang baik.

Sekedar berbagi pengalaman saja, saat memiliki anak pertama, istri memilih untuk bekerja di rumah saja agar dapat mengasuh anak2nya sendiri. Dia mengorbankan keinginannya untuk bekerja kembali semata-mata demi pendidikan anak2nya. Saya sendiripun pernah 'gila' kerja saat anak pertama lahir karena saya menginginkan agar kebutuhan anak saya dapat terpenuhi dengan baik. Saat saya mau menggendong si bayi, eh ternyata sang bayi tidak mengenali sang ayah karena jarang sekali bertemu dengannya. Terus kalau sang anak tidak mengenali ayahnya...lalu buat apa sang ayah membanting tulang untuk anaknya yah??

Sejak saat itu saya memutuskan tidak mau kehilangan perasaan seperti itu lagi. Saya ga mau anak2 saya tidak mengenali ayahnya. Saya tidak ingin kehilangan momen2 berharga saat mulai tumbuh dari bayi hingga dewasa nanti. So...apapun pilihannya mudah2an itu merupakan yang terbaik bagi anda.

NE




15 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

dia aja bisa ya pak, kita haurs bisa juga. patut ditiru tuh

applausr said...

jadi malu kalau baca ini.... sebuah niat tulus tidak perlu menunggu kaya dulu.. lakukan pasti nyampai juga yang dicita citakan sama seperti ibu ini... luar biasa...

NECKY said...

mbak lidya...sudah seharusnya kit yg lebih mampu harus malu...

NECKY said...

applausr...ini bukan luar biasa...tapi ruarrr biasa...dimana ada niat pasti ada jalan

nh18 said...

Terus kalau sang anak tidak mengenali ayahnya...lalu buat apa sang ayah membanting tulang untuk anaknya yah??

kalimat ini striking Pak Neck ...
ngakunya kerja untuk keluarga ... tapi kita malah jadi orang asing ditengah keluarga ...

terima kasih pencerahannya Pak Neck

salam saya

fitrimelinda said...

duh kesentil banget ama cerita si emak om.. :(

kalo aku, emang niatnya kalo udah nikah dirumah aja om.. :D

irniirmayani said...

Kalau baca seperti ini aku mikir. apa akan masih sangat berkeinginan buat sekolah lagi kalau udah punya anak? Apa aku bisa menahan egoku mengejar gelar dan meninggalkan anak? hmmm... pilihan emang sulit >_<

NECKY said...

bener om enha, banyak diantara kita banting tulang untuk mencari rizqi tp makna dibalik itu suka dilupakan. Atau memang sebenarnya mereka itu mencari pembenaran kali yah?? tetap semangat om...

NECKY said...

fitri...semuanya kembali kepada pribadi masing2 lah tidak bisa serta merta menyamakan semua keinginan.

NECKY said...

niee...menjadi pintar bagi sebuah ibu juga wajib lho. Bagaimana bisa mengajar dan mendidik anak2nya kalau ibunya tidak pintar...hidup ini memang banyak pilihan...tinggal kita aja mau yg mana untuk menjalankannya

Zizy Damanik said...

Saat anak sudah semakin besar, memang harus jeli saat akan memilih. Boleh saja gila kerja, tapi tentu keluarga juga butuh perhatian. Kalau saya sih, anak makin besar begini ya jgn sampai saya kehilangan momen2 penting perkembangannya.... :)

kakaakin said...

Subhanallah... jadi malu banget karena gak bisa segiat Mak Yati...
Banyk yang salah kaprah tentang kerja yang dilakoninya ya. Tak terperhatikan lagi PR si kecil oleh si bapak. Si ibu juga terlalu sibuk dengan anak2 lainnya...

Elsa said...

hebat yaa....
dia bersusah payah berqurban...

dia gak pernah mikir tuh, beli tas seharga puluhan juga, kacamata ratusan ribu, atau plesir ke luar negeri...

yang dipikirkannya hanya bagaimana tahun depan bisa berqurban

kalo dia bisa, harusnya kita semua juga bisa

NECKY said...

zee...betul banget...waktu itu tidak akan pernah berulang. Jangan sampai menyesal belakangan..

NECKY said...

kaka akin dan elsa...kita pasti bisa seperti mak yati