Friday, 12 October 2012

Apakah Harus Dipaksa?


salah satu potret transportasi publik di jakarta
Beberapa tahun belakangan, pro kontra tentang penyelenggaraan Ujian Akhir Nasional (UAN) sudah sering diperdebatkan. Bahkan seorang JK justru sangat mendukung penuh UAN. Biasanya saya sependapat dengan beliau karena terobosan yang dilakukannya sering 'menabrak' kebiasaan orang Indonesia. Alasan beliau adalah ingin melakukan standarisasi terhadap semua lulusan sekolah di Indonesia. Beliau berpendapat orang Indonesia itu 'harus' dipaksa untuk berubah.

Ketika subsidi BBM dipergunjingkan karena harga minyak dunia naik dan nilai tukar dollar Amerika Serikat makin menguat membuat APBN harus menambah subsisdi. (Meskipun hingga saat ini, Kwik Kian Gie tidak sependapat dengan istilah subsidi). JK memaksa orang-orang di Jabodetabek (terlebih dahulu) untuk mengkonversi penggunaan minyak tanah dan beralih ke gas (LPG). Awalnya banyak pertentangan tentang kesiapannya namun pada akhirnya proses konversi berhasil (karena dipaksa) meskipun pawa awalnya banyak kejadian bahkan korban jiwa akibat tabung gas warna hijau mudah meledak.
Kalau memang rakyat Indonesia harus dipaksa untuk berubah, bagaimana kalau kita membalik keadaannya. Maksudnya kita 'memaksa' pemerintah untuk melakukan penghematan BBM dengan menyediakan transportasi publik. Sangat ironi sekali kalau rakyat 'dipaksa' hemat BBM tapi pemerintah cuma bisa menyuruh tanpa memberikan solusi sesungguhnya.

Salah satu moda tranportasi publik yang massal adalah kereta api. Khusus untuk Jabodetabek menggunakan disebutnya KRL (Kereta Rel Listrik). Seperti yang saya pernah ceritakan bahwa saat pertama menggunakan KRL, kondisinya sangat nyaman. Di saat orang2 bermacet ria dengan kendaraan pribadi dan bis, saya dengan nyaman naik KRL. Beberapa orang saya 'racunin' untuk naik KRL aja dan berhasil mengubah kebiasaan mereka jadi naik KRL...tapi ini cerita dulu.

Sejak Divisi Jabodetabek di spin-off dari PT KAI menjadi perusahaan sendiri yang bernama KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) petaka sebagai pengguna KRL (sebut saja ROKER-rombongan kereta) mulai dirasakan. Wapres Boediono mencanangkan KRL akan mengangkut sebanyak 1,2 juta per hari (dibandingkan dengan negara tetangga soalnya). Tahu sendiri donk, yang ada manajemen KCJ berinovasi agar dapat menembus target yang telah ditetapkan.

suasana di stasiun pondok ranji setiap pagi di peak hours
Dengan segala keterbatasan dana (karena KCJ swasta murni dan bukan BUMN), mulailah ekperimen dibuat yakni dengan memberlakukan Single Operation (SO). Tidak ada lagi, KRL Ekpress AC dan Ekonomi AC, semuanya menjadi Commuter Line (CL). Semua CL akan berhenti di setiap STASIUN tanpa terkecuali. Harga tiket disesuaikan dari Ekpress turun, namun tiket Ekonomi AC justru menjadi naik. Belum satu tahun SO diberlakukan dan dievaluasi  oleh KCJ, CL menerapkan sistem Loop Line (LL). Lalu apa bedanya dengan sistem sebelumnya?


Dengan sistem LL, roker jalur serpong berakhir di stasiun tanah abang. Kalau biasanya sampai stasiun manggarai, roker harus berganti CL yang menuju bogor/depok. Jadwal CL memang bertambah tapi yg lucunya penambahan jadwal kurang tepat sasaran. Sebagai contoh peak hours itu (versi saya) adalah jam 17.30 - 18.30. Sebelum LL berlaku ada 3 CL keberangkatan 17.46, 17.55 & 18.30 dari tanah abang menuju serpong. Setelah LL berlaku hanya ada 1 CL yakni 17.45 dan CL berikutnya 18.45 (perbedaannya satu jam). Saat diprotes akhirnya ditambah satu jadwal jam 17.19.....alhamdulillah nambah tapi plis deh peak hours itu 17.30 - 18.30. Sementara CL yang malam (setelah peak hours) memang banyak bertambah. Apakah roker dipaksa untuk pulang lebih malam??

Belum selesai permasalahannya, tiket CL dinaikkan Rp.2000 dengan alasan untuk memperbaiki layanan dan sudah lama tidak pernah menaikkan harga tiket (Hallloooo...kita punya pemerintah ga sih??) KCJ ga punya uang untuk mendatangkan atau membeli tambahan rangkaian udah gitu disuruh dapat untung pula. Bahkan untuk memberikan dispensasi keringanan pajak (PPN) atas pembelian rangkaian bekas sekalipun konon katanya ditolak oleh pemerintah (sumbernya bisa dipercaya lho). 

Puncak dari kekesalan adalah KCJ memberikan jadwal tambahan untuk RKW (Rangkaian Khusus Wanita). Apa alasannya saya ga tahu yang jelas ini seperti Jaka Sembung Bawa Golok...Ngga Nyambung G****k. Saya pribadi mengapresiasi adanya RKW namun permasalahan yang ada saat ini adalah kekurangan rangkaian untuk umum. Alasan keterbatasan rangkaian dan dana yang selama ini dihembuskan jadi bertentangan dengan yang dilakukan oleh manajemen. Bukannya saya gender tidak setuju adanya RKW tapi timingnya sangat tidak tepat untuk saat ini.

Lantas sampai kapan rakyat harus dipaksa menerima penderitaan. Apakah rakyat yang harus memaksa pemerintah pusat dan daerah, dan pengelola KRL agar menghentikan penderitaan? Terlalu banyak ongkos yang akan terbuang nantinya namun sampai kapan ini akan berlangsung...wallahualam

NE

12 comments:

nicamperenique said...

walaupun saya perempuan, saya juga TIDAK SETUJU adanya KRL, tapi kalau GERBONG KHUSUS WANITA gpp.
soalnya MUBAZIR, emangnya penumpang kereta perempuan semua, engga kan?

jadi sebaiknya dihapus saja itu KRW, diganti dengan hybrid (istilah saya u/ kompi yg bisa browsing sm nge game hehehe), tapi sediakan berapa gerbong khusus perempuan.

semoga tak perlu ada paksa memaksa, dan pemerintah mau mendengarkan keluhan ROKER sejabodetabek.

dmilano said...

Saleum,
Sepertinya mesti harus ada aksi dulu dari masyarakat, barulah pemerintah turun tangan. Biasanya dinegara kita begitu, jika belum ribut maka jangan harap pemerintah menengok.

applausr said...

betul kita memang suka dipaksa... tapi kayaknya kali ini beneran giliran pemerintah yang kita paksa untuk berbuat sesuatu yang memihak rakyat.

Arman said...

sabar ya... emang kadang gak ngerti kok gimana bapak2 yang di atas itu memutuskan segala sesuatunya. kok rasanya gak pas dan gak sesuai dengan kondisi rakyat gitu...

NECKY said...

Nique...malah sebagian besar dari kita2 menduga (mudah2an salah) sengaja RKW diluncurkan untuk memecah belah soliditas pengguna dan membuat pengguna laki2 dan perempuan jadi tidak satu suara. Biasanya khan yg paling 'bersuara' itu pengguna perempuan...hehehe

NECKY said...

dmilano...sebenarnya pengelola juga sudah curhat sedikit ke pengguna tapi yang sangat disayangkan kenapa pengelola dan pengguna kompak untuk menekan pemerintah dengan mogok misalnya?...

NECKY said...

applausr...masalahnya para pengguna krl khan sebagian besar pekerja. Kalau diajak untuk demo ke jalanan rada2 sulit tuh

NECKY said...

arman...kepentingan golongan dan pribadi masih di atas kepentingan rakyat banyak. Perlu dibuat mekanisme yang solid kalau rakyat itu menginginkan sesuatu yang nyata. Mungkin di pemilu 2014 ada perubahan yang radikal

evi said...

Mereka tuh kalau mau membuat perubahan dalam manajemen kayaknya tidak pernah melakukan studi lapangan ya Mas. Pokoknya kalau mau dirubah ya di rubah saja dan diberlakukan saja. Gak lihat gimana kondisi lapangan...

Lidya - Mama Cal-Vin said...

gak selesai-selesai ya masalah perkeretaapian dinegara ini

irniirmayani said...

Jangankan mas yg jauh dari pemerintahan. aku aja yg jadi bawahan langsung kalau bisa dibilang gt gak ngeh dengan kebijakan yg diambil. terlalu politis menurut aku.. seharusnya gak ada kepentingan politis dipemerintahan.. seharusnya yg jadi kepala pemerintah putus hubungan dengan parpol.. entahlah..

Btw.. aku baru tahu kereta itu murni swasta.. dan baru tahu juga ternyata pengelolaan diberikab ke swasta gak akan juga menjadi lebih baik ya

Belajar Cinta said...

Pengelola & pengguna harus protes.. atau hanya pengguna saja ??