Wednesday, 11 January 2012

Belajar Dan Belajar

Dalam beberapa terakhir saya mendengarkan cerita tentang dua macam penanganan penyakit yang diderita oleh masing-masing individu. Saya hanya bermaksud berbagi pengalaman dan bukannya membuka aib seseorang karena kita bisa belajar sesuatu dari pengalaman orang lain agar kita dapat ilmu dan gambaran jelas apa yang harus dilakukan ketika situasi tersebut menimpa diri kita.

Pertama, salah seorang rekan kerja yang memiliki anak balita menderita panas atau demam hingga 39 derajat celcius. Demam sudah berlangsung lebih dari tiga hari dan membuatnya tambah panik karena menurut literatur yang ada, demam lebih dari 3 hari harus mendapat perhatian dan perlakuan lebih intensif. Untuk itu teman saya  membawa anaknya ke dokter untuk mendapatkan penanganan tersebut. Dia minta kepada dokter agar anaknya dapat di cek darah (cek di laboratorium) bahkan minta diberikan infus. Syukur Alhamdulillah, sang dokter memeriksanya dengan teliti. Dokter menanyakan tentang asupan, minuman, buang air, bahkan muntah atau tidak. Oleh karena informasi yang didapatkan cukup detil, kemudian dia tidak menyarankan di cek darah maupun diberi infus karena menyuntik anak balita dapat memberikan trauma kepada si anak. Wal hasil ternyata sang anak di diagnosa dokter hanya radang tenggorokan biasa.


Iseng-iseng saya tanya apakah sudah diberi obat panas sebelumnya, kemudian jenis obat panas apa yang diberikan *saya bukan dokter tapi selama ke dokter, saya sangat concern terhadap kesehatan*. Menurut keterangan teman, dia hanya memberikan obat panas satu sendok teh saja setiap panas. Langsung saya ingat saat konsultasi ke dokter waktu Ajif panas lebih dari tiga hari. Ternyata ukuran obat panas diberikan kepada pasien anak itu disesuaikan dengan berat badan dan bukan umurnya untuk mendapatkan hasil rekasi yang maksimal. Pantas saja demamnya tidak turun2 ternyata obat panas yang diberikan tidak bekerja dengan efektif karena kurang dosisnya.

Pelajaran dari situasi pertama adalah kita mesti tetap tenang dan tidak panik apabila anak atau orang dewasa sekalipun terkena demam meskipun begitu tetap harus waspada. Kita bisa belajar dengan membaca literatur atau dari pengalaman orang yang harus dilakukan menghadapi situasi seperti itu. Pengambilan keputusan yang tidak tepat dapat memberikan dampak kurang baik.

Situasi kedua adalah istri dari teman kantor harus mendekam di ICU karena infeksi tetanus. Hari gini masih ada penyakit tetanus? mungkin itu yang ada dibenak kita karena penyakit itu identik dengan penyakit jaman dulu. Kejadian yang menimpa sebenarnya sangat sepele dan seharusnya tidak terjadi. Berawal dari luka yang melepuh dan kemudian tidak dijaga kebersihan setelah kulit yang melepuh tersebut pecah.

Si penderita kebetulan memiliki riwayat penyakit diabetes yang menahun. Hal ini membuat sensitifitas kulitnya menjadi kurang bagus. Luka yang terlihat mengering di kulit luar ternyata sudah menjadi abses (luka yang bernanah) dan penderita tidak merasakan sakit pada luka tersebut. Infeksi tetanus yang tidak dirasakan membuat bakterinya menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan sulit bernafas serta kejang-kejang. Alhamdulillah teman saya membawa ke rumah sakit yang memiliki penanganan baik sehingga mendapatkan 'treatment' khusus dan tepat. Pagi hari masuk UGD, sore hari masuk ruang perawatan, malamnya dimasukkan ke ruang ICU karena makin sulit bernafas. Penderita berhasil melewati masa krisis dan berangsur sembuh, namun dampak dari kondisi tersebut membutuhkan perawatan ekstra. Mudah2an dalam waktu dekat bisa keluar dari perawatan ICU dan kondisinya lebih stabil.

Pelajaran keduanya, adalah jangan pernah menganggap sepele luka sekecil apapun. Jangan pernah merasa ini hanya luka kecil yang tidak butuh perhatian khusus. Mendatangi tempat penanganan yang tepat membuat cerita yang bisa berbeda. Kalau kita keliru menentukannya mungkin bisa jadi penyesalan di kemudian hari. Mudah2an kita dapat belajar dari dua pengalaman di atas.

NE

36 comments:

nh18 said...

Pak Neck ...
terima kasih telah memberikan kita informasi ini ...
memang betul ... khusus untuk kasus kedua ... kita tidak boleh meremehkan luka sekecil apapun ...

salam saya Pak Neck

NECKY said...

sama2 om enha....besok sabtu ambil raport jam berapa nih?? kira2 ketemu ga yah???....hehehe

nicamperenique said...

kira2 klo luka di hati, bisa kena tetanus juga ga ya mas Necky? xixixi

mabrurisirampog said...

belajar dari setiap kejadian,, setuju sekali pak. alam sekitar kita ini, dari kejadian yang kita lihat sehari-hari, sesungguhnya itu adalah sumber pembelajaran. Termasuk utk tidak meremehkan hal2 yang sepele.

mabrurisirampog said...

belajar dari setiap kejadian,, setuju sekali pak. alam sekitar kita ini, dari kejadian yang kita lihat sehari-hari, sesungguhnya itu adalah sumber pembelajaran. Termasuk utk tidak meremehkan hal2 yang sepele.

Nchie said...

Makasih Bang sudah berbagi pelajaran..
Dimana dari 2 kejadian di atas kita dapat mengambil hikmahnya..

Yang mengerikan itu tetanus..
makanya di sekolah Olive kemaren2 lagi gencar suntik tetanus ulangan..

marsudiyanto said...

Tiap denger kata "tetanus" saya teringat pengalaman waktu kecil, saat secara tak sengaja menginjak paku besar yang menancap di tumit saya...
Beruntung bapak saya sigap dan segera membawa saya ke dokter meskipun jarak dari rumah ada 18 kilo...

Lidya - Mama Pascal said...

hari sabtu saya ambil raport jam 8.30 pak hehehe gak ditanya ya. koko saa sih baru ambil raport juga.
terima kasih pelajaran yang dishare disini pak

Arman said...

kadang dari cerita2 pengalaman orang lain emang kita jadi ikutan belajar ya...

btw emang kalo obat penurun panas untuk anak2 itu berdasrakan berat badan. harusnya ada kok instruksti nya di kotak obatnya.

NECKY said...

nique...kalau hati yang luka nanyanya sama 'betharia sonata' *ada yang masih tahu dengan penyanyi ini yah?*

NECKY said...

mabruri..ga semuanya orang bisa belajar dari lingkungan sekeliling

NECKY said...

nchie....kalau ada luka mendingan langsung pertolongan pertama dengan kasih antiseptik deh....kalau ga ada obat antiseptik bisa juga daun sirih direbus kemudian airnya jadi antiseptik deh...

NECKY said...

pak mars...bener banget tuh, kalau kita ga aware bisa2 parah banget hasilnya

NECKY said...

mbak lidya....ayo ketemuan di sekolah yaaa....:-)

NECKY said...

arman...gw tanya ke dokter juga gitu. Dosis yang ada di kemasan adalah dosis umum. Kalau dokter punya ukuran berdasarkan berat badan. Ya kita mah percaya dong, khan dia belajar tahunan tuh... makanya kita disuruh tetap konsultasi ke dokter khan?

Zippy said...

Wiw, saya baru tau mas kalo sebaiknya berikan obat itu sesuai berat badannya juga agar lebih efektif.
Tapi aturan bakunya ada gak mas?
Maksudnya berat badang sekian dosisnya sekian.
Soalnya di obat2 kan gak ada tuh, jadinya takut salah.
Kelebihan dosis kan bisa berabe jadinya :))

niee said...

karena aku kerja di kesehatan jadi banyak juga sering denger macam macam penyakit.. tapi saking byknya jadi bingung juga perawatannya..

thanks.infonya mas :)

Putri said...

berarti ada baiknya setiap rumah mempunyai termometer untuk mengukur suhu tubuh, ya, pak?

NECKY said...

putri...kalau termometer itu sebaiknya wajib ada di setiap rumah apalagi yang punya anak balita karena fisik mereka memang masih rentan

NECKY said...

zippy...yang tahu itu hanya dokter, nah kalau kita nanya mereka pasti dikasih tahu koq...saya udh dibilangin sih tapi lupa lagi... yg penting utk berat badan anak saya sih hafal....:-)

NECKY said...

niee...ayo donk sharing ttg kesehatan .....hehehehe, siapa tahu bisa mengikuti perkembangan dunia kesehatan....

Endy said...

mungkin ketika yang namanya anak sudah sakit Pak, pikiran pasti agak sedikit cepat dalam berpikir, kan takut kalau si anak sampai kenapa-kenapa...

Ridha Alsadi said...

Assalamu'alaikum mas Necky. :D
Maaf lama tak berkunjung. habis pindahan rumah jadi sebulanan ga ngeblog.
terima kasih artikelnya. bisa jadi tambahan ilmu buat diri sendiri.

krismariana said...

wah, saya baru tahu kalau obat panas itu diberikan sesuai dengan berat tubuh pasien. Info baru buat saya nih :)

edratna said...

Yang sulit, banyak gejala penyakit hanya ditunjukkan oleh demam....yang disebabkan adanya infeksi. Padahal demam tadi bisa disebabkan bermacam-macam sebab, misal: radang tenggorokan, typhus, demam berdarah dll.

Anak pertama saya saat panas tinggi (saat itu masih mahasiswa UI), saya bawa ke UGD, ternyata radang tenggorokan, saya minta periksa darah, thrombocit nya masih diatas 200. Besoknya demam tak turun, saya periksakan darah lagi, th masih di atas 200, tapi menurun ...dan hari ketiga saya kawatir, sebelum ke dokter saya cek lagi thrombocitnya, turun menjadi 190. Saya minta ke dokter, walau masih di atas 150 (demam berdarah dirawat di RS jika th<150), untuk bisa diperiksa lebih teliti dan dirawat di RS. Syukurlah dokter setuju, ternyata begitu masuk RS, sorenya langsung drop menjadi 115, turun terus sampai mencapai 18.000 (terendah)...anaknya sudah lemas. Alhamdulillah tertolong....

Pengalaman saya, kita juga harus tetap memahami, dan membicarakan ke dokter berbagai kemungkinannya.

Mechta said...

Terima kasih utk sharingnya pak...ini bisa menjadi pelajaran utk kita semua...

Ykcen said...

endy...emang sih namanya mau memberikan yg terbaik buat anak geto lho

NECKY said...

mbak ridha...selamat datang lagi di dunia maya

NECKY said...

krismariana...yup agar obat tersebut bekerja efektif dan hanya dokter yg tahu tuh

NECKY said...

bu enny...saya jadi inget pengalaman saya sendiri waktu kena db. Hari pertama panas tinggi, maksud hati ga mau ke dokter tp dipaksa. Sama dokter boleh pulang tapi saya mau nginep sehari atau dua hari eh akhirnya jadi 9 hari....

NECKY said...

mechta...semoga bermanfaat ya bu

Asop said...

Tetanus... harus berhati-hati ekstra terhadap penyakit yang satu ini... :(

Necky said...

asop...jangan tetanus ya bro...makanya kalau main cari tempat yang bersih yah...:-)

Imelda said...
This comment has been removed by the author.
Imelda said...

diabetes memang begitu, tempat yang luka menjadi busukpun tidak ketahuan :(

Soal obat berdasarkan berat badan memang di sini selalu ditanyakan berat badannya. Karena di sini obatnya puyer semua. Dan tidak ada obat umum yang diperbolehkan untuk balita. Minimum 6 tahun (usia SD). Boleh dibilang obat di Jepang itu lemah, dan di Indonesia kuat. Kalau sudah biasa dengan obat di Indonesia, ngga bakal sembuh di sini. TAPI pernah ibuku waktu ke Tokyo mendadak naik tekanan darahnya sampai 160. Periksa ke dokter dan dokternya heran melihat obat2 yang ibuku terima dari dokter di JKt. STRONG dan katanya dilarang dipakai di Jepang

Lyliana Thia said...

terima kasih atas sharingnya Pak Necky... informasi seperti ini penting sekali loh..

kebanyakan orang malah over dosis kalo minum obat, ternyata ada juga yang under ya Pak..