Sunday, 4 December 2011

Membuat Kebijakan

Saya bukan seorang pengusaha, dan juga bukan seorang praktisi keuangan. Sependek pengetahuan saya tentang cash flow, setiap perusahaan akan senang mendapatkan pendapatan dimuka. (istilahnya dapat duit dulu, produk/ jasa diberikan belakangan). Bahkan PLN dengan giatnya memberlakukan Listrik Prabayar bagi pelanggan barunya, operator telpon selular mendapatkan kemajuan pesat waktu sistem telpon prabayar dilakukakan beberapa tahun yang lalu. Namun dalam beberapa waktu belakangan ini saya melihat ada perusahaan yang punya pandangan berbeda. Lebih kongkrit, sebenarnya ada dua kejadian tentang kebijakan PT Kereta Api Indonesia dan restoran makanan cepat *K.

Pada kasus PT KA, saya tidak bermaksud mengkritisi kebijakan mereka namun dengan dihapuskan KTB (Kartu Tanda Berlangganan) sungguh sangat membingungkan logika berpikir. PT KAI menolak mendapatkan uang cash dimuka dengan dalih banyak yang mengaku memiliki KTB (padahal tinggal diperketat pemeriksaan) dan adanya pemalsuan KTB. Bingung karena disaat perusahaan berlomba2 mendapatkan uang dimuka, tapi perusahaan ini justru sebaliknya. Dari pembicaraan dengan para pembeli KTB, dasar mereka membeli karena tidak perlu mengantri lagi saat datang ke stasiun. Lokasi loket yang ada di ditengah membuat mereka harus beli tiket ke dalam stasiun. Apabila mereka datang  terlambat ke stasiun, sudah tentu tinggal naik langsung kereta deh.
Untuk kasus kedua agak sedikit perbedaannya. Saya mendapatkan Voucher Gift Certificate saat turnamen boling beberapa waktu yang lalu.  Ternyata voucher tersebut dapat saya belanjakan di beberapa tempat department store, toko-toko olahraga hingga restoran cepat saji yang salah satunya resto *K. Di resto ini saya sudah beberapa kali mengajak keluarga dan pada kunjungan kedua terakhir (bukan kunjungan terakhir) sang pramusaji sekaligus kasir memberitahu ada diskon 10% asalkan bisa menunjukkan struk belanja Giant. Nah terakhir beberapa hari yang lalu kami meluncur ke resto dengan sebelumnya belanja dulu di Giant. Setelah selesai kami masuk ke resto dan melihat banner diskon 10%. Ketika saya membayar dengan voucher dan saya tanya apakah mendapatkan diskon 10%, sang pramusaji menyatakan kalau membayar dengan voucher diskon tidak berlaku.....

Sungguh mengagetkan jawabannya, perusahaan sudah mendapatkan uang dimuka justru tidak memberikan diskon. Sedangkan kepada pelanggan yang belakangan memberikan uangnya justru mendapatkan dsikon tambahan. Saya jadi bingung, apakah ini peraturan baku atau improvisasi sang pramusaji. Sudah seharusnya pelanggan yang memberikan uangnya terlebih dahulu mendapatkan kemudahan lebih dibandingkan pelanggan yang memberikan uangnya belakangan.

Seandainya saya menjadi pengusaha, pelanggan yang memberikan uang terlebih dahulu adalah pelanggan yang saya harus hargai lebih dan memberi kemudahan bukan malah sebaliknya. Mereka ini adalah loyal customer tapi malah disia-siakan. Pelajaran ini sangat baik bagi saya apabila di tahun mendatang menjadi full pengusaha. Pendapatan maupun keuntungan saya justru berasal dari pelanggan-pelanggan loyal.

NE

24 comments:

nique said...

hehehe seperti pulsa aja mas, aku yo sempet bingung, mosok yang prabayar itu murah2 banget jatohnya, ada promo ini dan itu terus,t api yg pasca sudah flat dan ga ada tuh promo ini itu, klo ga salah provider si kuning yg gitu waktu itu. ampon ga sih, saking aja sayang nomernya makanya bertahan wlo ngerasa ditipu mentah2 :D

sepertinya mereka memang berimprovisasi yang tidak biasa, karena saya di sini ya spt mas bilang, klo yg jadi member mendapat privelege yang lumayan, tp gpp karena toh saya sudah bisa pakai uang mereka di saat mereka blom juga pakai jasa kami.

Imelda said...

Kalau di Jepang gift voucher MEMANG tidak bisa mendapatkan discount khusus atau digunakan bersama potongan yang lain, dan itu TERTULIS di dalam voucher tersebut. Dan pemakai maklum karena memang sudah tertulis. Karena biasanya pakai Gift Voucher berarti hadiah dari orang lain, bukan bayar sendiri, jadi ya tidak merasa rugi.

Sebagai gantinya di kebanyakan toko mempunyai sistem tabungan point yang bisa dipakai jika sudah mencapai target tertentu.

Lidya - Mama Pascal said...

ooh ternyata skr sudah tidak bisa pakaiabudemen lagi ya kalau naik kereta

Arman said...

kadang resto/toko menjual gift voucher dalam jumlah besar ke perusahaan tertentu dengan corporate rate, jadi udah dengan harga diskon. jadi make sense sih om kalo mereka gak memberlakukan diskon lagi kalo bayarnya pake voucher.

nh18 said...

Wah ...
Kartu berlangganan tidak ada ?
saya bisa membayangkan ... berdasarkan cerita pak Neck ... ini akan menyulitkan para pelanggan loyal ya ...

(BTW ini kayak kartu toll berlangganan itu ya pak ... yang setiap saat bisa kita isi ulang ... model pulsa ?).

Salam saya Pak Neck

Sukadi said...

Kebijakan yang mungkin saja tidak bjak, bagaimanapun juga semua bisa diatasi, tergantung dari sistem..
Kalau ada yang lebih mudah, kenapa juga harus memilih yang lebih ribet?.. kebijakan oh kebijakan.. :(

NECKY said...

nique...memang seharusnya sebagai pengusaha khan melakukan perlakuan khusus untuk orang yang sudah memberikan uang mereka. Itu juga yg buat saya memilih menggunakan pra bayar dibandingkan pasca bayar

NECKY said...

memang sih...bukan uangnya dan dapat hadiah namun pada intinya si perusahaan menerima uangnya duluan terlepas yg akan menggunakan voucher itu bukan si pembeli. Kalau sampai pemegang voucher complaint sama yg kasih hadiah bakalan si pembeli ga akan membeli voucher perusahaan itu lagi dan ujung2nya yang rugi siapa donk...ya perusahan itu sendiorri khan?...hehehe

NECKY said...

mbak lidya...abonemen krl ekonomi yang dihapus oleh PT KA

bunda Lily said...

kebijakan demi kebijakan di negeri ini kadang tidak jelas,Necky
kebijakan ini utk siapa?
bijak bagi siapa?
hedeh hedeh ....kebijakan oh kebijakan ...
salam

DewiFatma said...

Kalo di negara maju apa-apa malah senengnya pake kartu aja ya, Mas *macam pernah ke LN ajah*

Lah, PT KAI kok malah menghapuskan sistem KTB-nya. Negara ini emang suka bikin rakyatnya bingung kok, Mas. nggak usah heran :D

niee said...

Kalau aku lebih suka pakai DP dan setelah selesai bayar lagi mas.. hehehe *gak nyambung deh dengan KAI dan si restoran*

NECKY said...

arman...kalau jualpake corporate rate gw percaya deh diskon ga akan berlaku. Tapi kalau di indonesia, gw ga pernah belanja pake corporate rate karenanya gw bingung kalau ga bisa ikutan diskon...apa gw yg bego yah? belanja gift certificate ga pernah dapat diskon?....hahahahha

NECKY said...

om enha...bukan om, ini KTB eko yg ga perlu antri beli karcis kalau mau naik kereta. jadi kalau datang ke stasiun agak telat ga perlu ngantri di loket lagi...kalau kartu toll itu khan cema seperti kartu debet aja...

NECKY said...

mas sukadi...jadi inget anekdot..... kalau simpel kenapa juga ga diribetin sekalian...hahahahaha

NECKY said...

bunda...kebanyakan pembuat kebijakan itu ga pernah merasakan atau menggunakan produk/layanan yang mereka buat sih. Jadi, banyak ga tepat sasaran....

NECKY said...

dewi...kalau di negara yang lebih 'maju' dalam bertansaksi mereka lebih senang menggunakan cashless karena rsiko ditodong atau dicopet lebih besar. Makanya kalau ketemu sama orang Indonesia yg bawa duit berlembar2 dengan pecahan 100 bingungnya bukan main....*maklum orang Indonesia tuh kaya2...sih...hahaha*

NECKY said...

niee....hahahaha...elo bikin gw rada bingung waktu baca pertamanya....

Bibi Titi Teliti said...

ckckck...
ribet banget ya bang???

Itulah alasannya kenapa aku memilih untuk TIDAK menjadi pengusaha...hihihi...
jadi emak emak yang suka nonton drama korea dan mainan blog aja deeeeeh....hihihi...

ceritabudi said...

Heee ternyata ribet juga...tok..tok..udah lama nich

NECKY said...

erry...itulah enaknya bagi emak-emak hahahaha...ga perlu mikir yg ribet khan? ....*erry banget sih*
btw mana donk komtung jilid ke-2 nya?...*penasaran banget*

NECKY said...

bli bui...iya nih...sedang kena sindrom malas bin bingung beresin pc di rumah yg kena virus lagi...

edratna said...

Membayangkan, kalau di LN kita bisa beli karcis untuk seminggu (jika kita berminat tinggal selama seminggu) sebulan atau bahkan lebih dari satu bulan...makin lama langganan makin murah.

Tapi mungkin PT KA berhadapan dengan penipuan ya. Jadi ingat saat ada stiker untuk kendaraan masuk suatu universitas terkenal di Jabar, belakangan stiker tsb dicabut, diganti dengan kartu pengenal sebagai dosen atau karywan, gara-gara banyak stiker palsu.

NECKY said...

bu enny...orang Indonesia itu pinter2 lho...pinter ngakalin... hehehe liat aja mereka2 yg ahli di IT bisa ngecrack apa aja...atau hape yang dilocked dengan mudah dibuka sistemnya di Roxy