Thursday, 29 September 2011

Proses Atau Hasil

Hari ini saya mendapat pencerahan saat ikut pengajian di pagi hari oleh Ustadz mengenai pendidikan. Kesalahan mendasar dalam cara mendidik dalam dunia pendidikan kita adalah terlalu menitikberatkan kepada hasil. Nilai yang tinggi mendapat penghargaan lebih tinggi tanpa memperdulikan prosesnya. Anak-anak dituntut untuk mendapatkan nilai tertinggi baru kemudian kita memberikan rewardnya. Idealnya kita memberi reward tatkala anak-anak melakukan proses belajar yang benar, sebab sebuah proses belajar yang baik dan benar secara otomatis akan memberikan hasil yang baik pula.


Ada tiga tipe cara belajar anak-anak yakni Visual, Auditory dan Kinestetik. Masing-masing memiliki cara-cara yang berbeda dalam prosesnya. Proses belajar dan mengajar saat ini yang umum berlaku sangat pro terhadap anak-anak dengan tipe Visual dan Auditory. Dimana sang anak duduk di dalam kelas disuruh membaca buku dan mendengarkan pelajaran saat guru menerangkan di depan kelas. Sedangkan untuk cara belajar tipe Kinestetik, hanya sekolah-sekolah alam (bukan sekolah umum) yang mengakomodasinya. Anak tipe belajar seperti ini cenderung tidak bisa duduk tenang mendengar dan senangnya saat tidak membahas teori namun langsung praktek. Kecenderungannya tipe kinestetik memiliki daya khayal dan kreatifitas yang sangat tinggi karena mereka selalu ingin mencoba segala sesuatunya dengan cara yang lebih baik menurut mereka.

Sayangnya baik sekolah umum dan sekolah alam memiliki kesenjangan diantara keduanya. Anak-anak yang berasal dari sekolah umum akan unggul dalam berkompetisi mendapat sekolah unggulan (karena memang yang dilihat adalah nilai-nilai mereka). Sedangkan untuk anak-anak sekolah alam akan sulit masuk sekolah unggulan (baca sekolah negeri) karena keunggulan mereka bukan di bidang akademi. Kemampuan anak-anak Kinestetik adalah pada saat menghadapi permasalahan di dunia nyata.
Semua orang tua pasti menginginkan anak-anaknya dapat meraih nilai tertinggi agar mudah memasukkan sekolah anak-anaknya dan ingin anak-anaknya memiliki kreatifitas tinggi. Memang ada anak yang seperti itu sih tapi sangat jarang kita dapat temukan. Kembali kepada orang tua masing-masing menghadapi kenyataan yang ada saat ini apabila sang anak bertipe kinestetik. Secara akademis memang sang anak tidak menonjol prestasinya, tapi dalam mengatasi kegiatan sehari-hari si anak jauh lebih baik dibanding kedua tipe lainnya.


Dari sekarang coba kenalilah anak-anak kita termasuk tipe yang mana cara belajarnya agar kita mereka dapat memaksimalkan potensi yang ada di diri mereka. Jangan paksakan mereka untuk mendapatkan hasil terbaik sebelum menjalankan prosesnya dengan baik. Utamakan mereka menghargai proses karena semua orang akan masuk surga tatkala proses ibadahnya benar.

NE


48 comments:

nh18 said...

Dan yang jelas ...
Merancang pola pembelajaran kinestetis itu ... sangat sulit ...
diperlukan lembar kerja yang lengkap ...
dan alur aktifitas yang runtut
Agar the children learn something-somethink ...
(tepatnya bisa di trigger to learn somethink/thing)

Salam saya Pak Neck

Rubiyanto Sutrisno said...

Benar sekali. Banyak yg sudah melupakan proses dalam mendidik.

NECKY said...

om enha...ajarin buat elmbar kerjanya donk. untuk bekal nih...2 of 3 my children are kinestetik nih. Stock sabar udh terus dikumpulin....hehehehe

NECKY said...

rubiyanto...jaman sekarang sukanya serba instant yah

Orin said...

Wah...baru tau istilah2nya nih mas, tengkyu for sharing ya ;)

NoRLaNd said...

sebenrnya menurut saya, lebih baik dikembalikan kepada kesadaran sang anak sendiri aja deh.. =)

melly said...

wah dpt ilmu ..buat nanti klo sudah pnya anak :)

NECKY said...

orin...n melly....semoga bisa buat masukkannya nanti yah....hehehe

NECKY said...

norland....kalau sang anak ga bisa dikembalikan kesadarannya khan repot....hehehehe

puteriamirillis said...

anak saya azkiya cenderung pola kinestetik pak (kalo saya perhatikan ya) karena dia suka sekali dengan kegiatan memasak, menari, olahraga, menggambar, dll. pernah bilang ke suami kalo kiya sudah besar saya ga mutlak dia harus jadi dokter atau apalah yg lain. dia bisa jadi koki atau design juga oke banget.
kalo anak pertama saya umar malahan pengen jadi koki. tapi dia juga suka dengan bidang teknik sipil karena suka aja melihat excavator, bangunan, kendaraan dll.salam saya pak

bundadontworry said...

kayaknya Ajif ganteng yg bule ini, termasuk type kinestetik ya Necky ? :)


krn masing2 sekolah (negeri dan alam) punya kekurangan dan kelebihan masing2, bila bisa dipadukan, pasti akan menghasilkan anak2 luar biasa di negeri kita.
namun, sepertinya ini termasuk kerja keras yg hrs terencana dgn baik dan telaten dan berkelanjutan.
pe er ini utk depdiknas....
agar masa depan negeri ini bisa lbh baik dgn aset anak2 hebat utk masa depan .
salam

NECKY said...

mbak putri...yang penting kita bisa mengenali dan bisa mendorong anak kita berbuat yang terbaik sesuai dengan minat dan talent nya insya Allah hasilnya akan luar biasa

NECKY said...

bunda...betul sekali tuh ajif termasuk yg kinestetik dari penglihatan saya. Biasanya ada beberapa metoda yg bisa menganalisa jenis tipe anak diantaranya psiko test atau analisa sidik jari.
saya pernah ngobrol dengan temen yg di diknas, saya pernah protes dengan psikolog yang ceramah di sekolah namun masih mentok sepertinya. Akhirnya kemarin ngobrol2 sama ustadz kemarin mau buat konsep yg mendukung anak2 kinestetik tapi tidak ketinggalan kualitas nilai akademis tanpa membuat si anak terbebani. Doa kan aja bunda semuanya bisa berjalan sesuai dengan baik. Meskipun baru mau membuat konsep, yg penting udh ada keinginan dan pergerakan untuk mewujudkan perubahan....

Sang Cerpenis bercerita said...

saya dulu termasuk apa ya..jangan2 kinestetik juga.

didta7 said...

sebenarnya kalau dipikirkan lebih jauh lagi belajar tipe kinestik mempenyai banyak keunggulan, kedepan harus dipadukan

rachmat amienullah said...

mendidik lebih susah daripada mengajar :)

mabrurisirampog said...

bener juga ya pak,
kebanyakan anak2 dituntut untuk mendapatkan nilai yang bagus tanpa harus menilai prosesnya..
mengenai istilah2 itu, saya baru tau,,, :D

semoga akan ada kemajuan yang lebih baik buat pendidikan di Indonesia

niee said...

Dan gak kalah pentingnya itu pergaulan ya mas.. kalau nilai tinggi tapi gak bs bergaul ya sama aja gt..

NECKY said...

sang cerpenis...bisa jadi tuh...di sekolahan sering melanggar peraturan sekolah ga?....hhehehe

NECKY said...

didta7...memang betul anak2 tipe kinestetik lebih bagus dalam menghadapi kenyataan hidup karena mereka itu cenderung ulet dan banyak akalnya...

NECKY said...

rachmat...emang bedanya dimana yah bro? gw sendiri masih bingung nih..

NECKY said...

mabruri...makanya sbenarnya yg perlu dapat pengarahan itu adalah orang tuanya aja. Biar mereka memahami sifat dan karakter anak...

ded said...

Sayangnya pendidikan anak-anak kita sekarang hanya mementingkan hasilnya, kurang peduli terhadap proses.
Ketika saya SD s/d SMA dulu sangat susah untuk mendapat nilai 9 atau 10, sekarang nilai tersebut sudah merupakan hal yang biasa.

vizon said...

Postingan ini pas sekali dengan materi awal saya setiap kali memberi kuliah, Bang Necky..

Saya tekankan kepada mahasiswa bahwa, kesuksesan itu bukan pada hasil akhir, tapi bagaimana mereka menjalankan proses itu. Oleh karenanya, saya mengambil banyak poin dalam penilaian mereka dari proses tersebut; seperti kesungguhan mengerjakan tugas dan keaktifan mereka dalam perkuliahan..

Hal yang hampir sama juga saya coba lakukan di sekolah anak-anak. Kebetulan saya menjadi komite di situ, maka saya usulkan untuk memberi reward kepada masing-masing anak atas "prestasi" mereka. Seperti; yang paling rapi berpakaian, yang paling ramah dalam pergaulan atau yang paling jago main bola... Semua itu diwujudkan dalam selembar piagam yang mereka terima setiap kali pembagian raport. Dan setiap anak pasti menerimanya, sehingga setiap mereka merasa dihargai atas prestasi mereka masing-masing.. Setiap anak adalah istimewa, itu motto yang kami usung.. :)

Saya pernah menulis hal yang kira-kira senada dengan ini: http://hardivizon.com/2009/04/03/contreng/

NECKY said...

uda ded...dulu dapat nilai 8 aja udh top markotob banget yah....sekarang nilai 8 koq seperti malah ga bisa bersaing....hiks...hiks....hiks

NECKY said...

uda vizon....menarik juga tuh. Setiap anak mendapatkan reward bukan semata-mata karena nilai. Jadi inspirasi saya tuh untuk selanjutnya dalam pengembangan anak2. Tinggal dipikirin bentuknya aja yah..
Dulu waktu kuliah saya punya dosen seperti uda, beliau sangat memberi poin plus kepada mahasiswa seperti yg uda jabarkan di atas. Seandainya nanti saya mengajar...mau pakai modl yang sama ah boleh khan diadop?..
Satu hal yang saya sangat setuju..."Setiap anak adalah istimewa" semua memiliki potensi sesuai dengan kompetensinya, tinggal kita2 sbg orang tua bisa mengarahkannya atau tidak....

Sugeng said...

Sangat disanyangkan memang cara pembelajaran seperti jaman sekarang. Mungkin semanjak jaman sekolah saya dulu juga sudah begitu. Yang di hargai cuma hasil tanpa melihat bagaimana cara / proses untuk mendapatkan hasil itu.Beda pada jaman bapak saya dulu sekolah, yang katanya nilainya tidak dengan angka tapi dengan huruf (nilai A, B atau C).

Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

fitrimelinda said...

kali ini cuma bisa manggut2 aja pak.. :)

NECKY said...

mas sugeng...kata ustadz saya kemarin bangsa ini memang sedang menuai hasil dari sistem pendidikan yang mereka rancang sendiri. Makanya kalau bisa kesalahan jangan diteruskan hingga anak2 kita nanti..

NECKY said...

fitri....diingat-ingat aja ga usah manggut2...hehehehe

dmilano said...

Saleum,
Dulu bapak saya selalu mengajarkan cara terhadap sesuatu yg umum dipakai utk hidup. Setiap saya ingin hasil tapi bapak tetap mengajarkarkan cara dan selalu begitu, hingga dewasa saya mengerti bahwa itulah cara yg bijaksana untuk mendapatkan hasil yg baik. karena saya telah diajarkan untuk menciptakan proses penyelesaian sendiri,
saleum dmilano

NECKY said...

Sungguh berntung dmilano mendapatkan pendidikan yang sangat benar oleh orang tuanya. Mudh2an nanti anak2 sampean bisa menjadi seperti ayahnya piss

edratna said...

Manusia mempunyai sifat yang berbeda satu dan lainnya. Anak-anak mempunyai minat beda, juga cara belajar yang berbeda bahkan jika mereka saudara sekandung.

Setelah menjadi manager saya mendapatkan sebuah pelatihan, dan dari hasil test, ternyata saya termasuk tipe orientasi pada hasil. Saya sangat sadar, karena kita dibiasakan untuk hal ini....kita harus belajar baik, agar masuk ke PTN (jaman saya masuk ke SMP/SMP masih relatif mudah). Jadi walau kita termasuk tipt orientasi pada proses, tetap harus punya tenggat waktu.

Oleh psikolog saya diminta lebih memperhatikan pada gesture anak buah, pada proses yang dikerjakan mereka, ...dan ternyata hasilnya lebib baik. Dengan memperhatikan mereka, saya mendapatkan pengalaman yang mencerahkan, betapa hanya dengan perubahan sedikit, target yang dibebankan hasilnya sangat memuaskan...semua orang bekerja dengan semangat tinggi.

Tentu, sebagai orangtua, kita tak bisa menyalahkan, apapun program sekolahnya, ada plus minusnya...namun kita bisa melengkapi kekurangannya dengan mendidik anak sambil bermain di rumah.

TUKANG CoLoNG said...

jikapun ingin fokus ke proses, pemerintah belum menemukan sistem yang bagus untuk digunakan sebagai pengawasan yang menilai sebuah proses KBM di dunia pendidikan kita ini udah bagus. Dengan mengadakan penilaian rutin? nah, balik ke nilai (hasil) lagi kan :)

NECKY said...

bu enny....terima kasih banyak udah sharing dgn kita. Pengalaman bu enny tentu sangat bermanfaat bagi kita2 yg masih sedikit jam terbangnya. Alangkah damainya apabila semua pimpinan seperti bu enny, karena ibu mau merubah sedikit tapi mendapatkan hasil yang optimal.
Bener banget ga akan ada program sekolah yg sesuai banget dengan yg kita inginkan. Orang tua harus menjadi pemeran utama dalam pendidikan anak2nya

NECKY said...

tukang colong...memang sih tidak mudah membuat sistemnya tapi program yg mereka miliki sekarang banyak perlu diperbaiki untuk kepentingan bangsa.

Lidya - Mama Pascal said...

kalau prosesnya baik Insya Allah hasilnya juga ya pak.
Pak Necky apa kabar?

NECKY said...

betul mbak Lidya...alhamdulillah kabar saya baik dan sehat....

Putri said...

bener, pak...

walaupun barangkali tidak semua anak bisa terdeteksi secara dini 'tipe belajar' nya seperti apa...

Toh, alternatif bentuk sekolah yang berbeda dari yang kebanyakan bisa memberikan pilihan 'proses belajar' yang berbeda..

NECKY said...

putri...temen saya mendeteksinya dengan analisa sidik jari dan katanya cukup menggambarkan dengan baik dibandingkan test lainnya. Kalau saya sendiri tidak melakukan test tapi observasi langsung sama anak -anak saya di rumah aja.

yoga said...

menurut saya proses yg lebih penting, hasil yg bagus pasti akan menyusul kalau prosesnya bagus

cheater said...

setuju pak,hehe salam kenal aja deh kunjungan perdana nih

ghea said...

Anak-anak yang berasal dari sekolah umum akan unggul dalam berkompetisi mendapat sekolah unggulan (karena memang yang dilihat adalah nilai-nilai mereka). Sedangkan untuk anak-anak sekolah alam akan sulit masuk sekolah unggulan (baca sekolah negeri) karena keunggulan mereka bukan di bidang akademi. Kemampuan anak-anak Kinestetik adalah pada saat menghadapi permasalahan di dunia nyata.

benar sekali pak, saya suka pendapat bapak

r10 said...

tiap2 anak punya bakat atau kencenderungan minat tertentu, jadi kalau anak suka mengambar gedung-gedung misalnya boleh jadi dia berbakat jadi insyiyur, karena itu ga cocok kalau dimasukan ke sekolah alam

NECKY said...

yoga...bener banget tuh bro

NECKY said...

cheater....salam kenal juga dan terima kasih atas kunjunganya....

NECKY said...

ghea...terima kasih sudah sependapat dengan saya. Siapkan aja stock sabar sebanyak2nya untuk menghadapi anak2 bertipe kinestetik...

NECKY said...

r10...makanya biar ga salah dalam melihat tipe2 anak, disarankan melalui test yang ada dimana2 maupun jenisnya. Test2 itu bukan peramal melainkan atas dasar statistik dan kecenderungan yang pernah ada.