Innalillahi wa inna lillayhi rojiun,
Sedih rasanya mengikuti berita tragedi Situ Gintung. Tsunami kecil (compare kejadian beberapa tahun yang lalu di Aceh) kata orang-orang yang selamat dari musibah itu. Sudah 3 hari berlalu, angka korban yang meninggal mulai mendekati angka 100 orang sementara orang yang masih hilang tercatat lebih dari 100 orang juga. Umur, Rezeki dan Jodoh memang hanya menjadi rahasia Allah semata. Namun kewajiban semua manusia adalah berusaha sekuat mungkin berbuat yang terbaik.
Di balik cerita sedih ada juga cerita yang membuat hati ini senang ketika melihat orang-orang yang bahu membahu membantu materil dan moril di lokasi kejadian. Mudah2an mereka semua mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT.
Satu yang tidak pernah berubah dari bangsa kita yakni....saling menyalahkan. Pihak Pemkot menyalahkan pihak pemerintah pusat. Pihak pemerintah pusat tidak terima disalahkan langsung menuding ke masyarakat. Selanjutnya kita semua tahu semua pihak ramai-ramai menunjuk siapa saja yang dapat di tunjuk agar lepas dari tudingan kesalahan.
Tidak ada sebuah institusi yang menyatakan kejadian kemarin merupakan kesalahannya, hanya satu yang saya baca yakni dari pihak pemkab yang secara eksplisit menyatakan kesalahannya namun ujung2nya menyalahkan ke pemprov.
Tidak heran selama hampir 64 tahun merdeka bisanya menyalahkan pemerintah sebelumnya tanpa membuat solusi ke depan.
Apa tidak sebaiknya, mereka duduk bersama dan kemudian mengundang wartawan untuk membuat konferensi pers tentang rencana ke depan dari Situ Gintung? Buat rencana untuk tahun 2009, mau dilakukan apa? kemudian di tahun 2010 mau ada apa? Bukankah hal ini jauh lebih baik dibandingkan saling menyalahkan??
Seorang leader seharusnya cepat tanggap untuk hal ini (memang ada pernyataan dari petinggi republik untuk merevitalisasi situ tersebut). Cepat tanggap yang dimaksud adalah bukan sekedar janji pepesan kosong semata tapi sebuah rencana dan implementasi yang langsung direalisasikan dengan segera. Jangan kejadian lumpur lapindo berulang di Situ Gintung.
Marilah kita bantu korban dari bencana tersebut melalui lembaga yang amanah baik berupa materi maupun tenaga. Turut berduka yang mendalam kepada semua korban dan keluarga.
Jakarta, 30 Maret 2009
Sunday, 29 March 2009
Sunday, 22 March 2009
Marketing Tricks
Tadi sore, pas lagi lihat berita-berita di beberapa stasiun Teve, saya agak sedikit terkejut dengan berita tentang sebuah Restoran di Amerika Serikat yang membebaskan pelanggan dalam membayar makanan yang telah dipesan dan dimakan.
Konsepnya cukup sederhana, Bon akan datang sesuai dengan harga standar resoran pada umumnya tapi ada lembaran khusus mengenai jumlah yang akan dibayarkan. Pelanggan bebas menentukan jumlah yang akan dibayar tanpa ada minimum pembayaran.
Ternyata setelah di survey secara acak pada pengunjung atau pelanggan restoran tersebut, banyak juga yang membayar justru lebih dari tagihannya. Misal: tagihan hanya $40, akan tetapi pelanggan tersebut malah membayar $50. Setelah ditanya kenapa dia membayar lebih padahal dia bisa membayar lebih murah? Jawaban si pelanggan adalah dia merasa harus membayar lebih karena kualitas rasa masakan yang sangat baik serta pelayanan yang sangat baik kepadanya. Aneh kah orang tersebut??
Dapatkah kita memahami jalan pikiran orang-orang seperti itu? Tidak sedikit juga orang yang membayar di bawah jumlah tagihan tapi itupun hanya 10-20 persen dati total tagihannya. Saya langsung teringat dengan program 'warung kejujuran' yang dicanangkan di teve-teve. Program tersebut berjalan di sekolah-sekolah dengan tujuan melatih kejujuran para siswa.
Pemilik restoran berpendapat pada saat krisis seperti sekarang ini, orang-orang mulai menahan diri untuk makan di restoran. Dia ingin agar orang-orang mulai mendatangi kembali restoran dan bersantap disana. Sungguh, sebuah terobosan yang sangat unik dan menjadikan pembicaraan orang banyak. Sebuah Iklan yang tepat sasaran
Ciputat, 22 Maret 2009
Konsepnya cukup sederhana, Bon akan datang sesuai dengan harga standar resoran pada umumnya tapi ada lembaran khusus mengenai jumlah yang akan dibayarkan. Pelanggan bebas menentukan jumlah yang akan dibayar tanpa ada minimum pembayaran.
Ternyata setelah di survey secara acak pada pengunjung atau pelanggan restoran tersebut, banyak juga yang membayar justru lebih dari tagihannya. Misal: tagihan hanya $40, akan tetapi pelanggan tersebut malah membayar $50. Setelah ditanya kenapa dia membayar lebih padahal dia bisa membayar lebih murah? Jawaban si pelanggan adalah dia merasa harus membayar lebih karena kualitas rasa masakan yang sangat baik serta pelayanan yang sangat baik kepadanya. Aneh kah orang tersebut??
Dapatkah kita memahami jalan pikiran orang-orang seperti itu? Tidak sedikit juga orang yang membayar di bawah jumlah tagihan tapi itupun hanya 10-20 persen dati total tagihannya. Saya langsung teringat dengan program 'warung kejujuran' yang dicanangkan di teve-teve. Program tersebut berjalan di sekolah-sekolah dengan tujuan melatih kejujuran para siswa.
Pemilik restoran berpendapat pada saat krisis seperti sekarang ini, orang-orang mulai menahan diri untuk makan di restoran. Dia ingin agar orang-orang mulai mendatangi kembali restoran dan bersantap disana. Sungguh, sebuah terobosan yang sangat unik dan menjadikan pembicaraan orang banyak. Sebuah Iklan yang tepat sasaran
Ciputat, 22 Maret 2009
Sunday, 15 March 2009
Kampanye Damai
Alangkah senangnya hati ini ketika membaca kesepakatan seluruh Calon Legislatif (Caleg) dari semua partai politik untuk membuat kampanye Pemilu 2009 ini berjalan dengan damai. Ada perbedaan mendasar kampanye kali ini dibandingkan pemilu tahun-tahun sebelumnya. Dulu, semua caleg menghimbau calon pemilih untuk mencoblos nomor urut Partai Politik yang diusungnya. Kini, semu caleg berlomba-lomba menghimbau untuk memilih mereka sendiri (bukan partai politik saja).
Tidak terbayangkan kisruhnya untuk satu partai politik saja, bila ada 12 caleg tentunya ke-duabelas caleg tersebut berebut simpati dari calon pemilih. Mudah-mudahan bayangan kekisruhan tidak menjadi kenyataan di lapangan....yang terpenting tidak ada chaos atau kericuhan yang akan terjadi.
Sementara itu di kalangan elit politik, masing-masing melakukan manuver politik dengan caranya masing-masing. Presiden PKS, Tifatul Sembiring, melakukan beberapa pertemuan dengan Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla. Puncak dari semua manuver poltik adalah bertemunya 2 partai politik besar yakni PDIP dengan Ketua Umum Megawati bertemu dan membuat kesepakatan dengan Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla, untuk membuat sebuah pemerintahan yang solid (meskipun kita tahu Pemilu belum juga digelar). Pemberitaan pertemuan tersebut malahan mengalahkan berita tentang sakitnya presiden SBY. Dapat kita ambil kesimpulan sedikit bahwa, nilai berita Presiden di bawah nilai berita pertemuan diatas.
Belum lagi tentang peluncuran buku oleh Sintong Panjaitan yang isinya kontroversi seputar beberapa kejadian penting di masa lampau dan menyeret dua nama Capres yakni Wiranto dan Prabowo. Ada sedikit komentar miring bahwa tanggal peluncuran buku tersebut memang ada rekayasa politik, namun ada pula yang membantahnya. Kita semua tidak ada yang tahu tujuannya kecuali yang bersangkutan.
Harapan kita semua mungkin hampir sama yakni Harga-Harga kebutuhan sehari-hari dapat terjangkau oleh sebagian besar rakyat, kepastian ekonomi menjalankan usaha di tengah krisis global, keamanan menjalankan kehidupan sehari-hari, dan hidup normal. Semoga kampanye damai dapat terwujud seperti yang mereka canangkan.
Jakarta, 16 Maret 2009
Tidak terbayangkan kisruhnya untuk satu partai politik saja, bila ada 12 caleg tentunya ke-duabelas caleg tersebut berebut simpati dari calon pemilih. Mudah-mudahan bayangan kekisruhan tidak menjadi kenyataan di lapangan....yang terpenting tidak ada chaos atau kericuhan yang akan terjadi.
Sementara itu di kalangan elit politik, masing-masing melakukan manuver politik dengan caranya masing-masing. Presiden PKS, Tifatul Sembiring, melakukan beberapa pertemuan dengan Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla. Puncak dari semua manuver poltik adalah bertemunya 2 partai politik besar yakni PDIP dengan Ketua Umum Megawati bertemu dan membuat kesepakatan dengan Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla, untuk membuat sebuah pemerintahan yang solid (meskipun kita tahu Pemilu belum juga digelar). Pemberitaan pertemuan tersebut malahan mengalahkan berita tentang sakitnya presiden SBY. Dapat kita ambil kesimpulan sedikit bahwa, nilai berita Presiden di bawah nilai berita pertemuan diatas.
Belum lagi tentang peluncuran buku oleh Sintong Panjaitan yang isinya kontroversi seputar beberapa kejadian penting di masa lampau dan menyeret dua nama Capres yakni Wiranto dan Prabowo. Ada sedikit komentar miring bahwa tanggal peluncuran buku tersebut memang ada rekayasa politik, namun ada pula yang membantahnya. Kita semua tidak ada yang tahu tujuannya kecuali yang bersangkutan.
Harapan kita semua mungkin hampir sama yakni Harga-Harga kebutuhan sehari-hari dapat terjangkau oleh sebagian besar rakyat, kepastian ekonomi menjalankan usaha di tengah krisis global, keamanan menjalankan kehidupan sehari-hari, dan hidup normal. Semoga kampanye damai dapat terwujud seperti yang mereka canangkan.
Jakarta, 16 Maret 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)