Thursday, 25 September 2008

Fenomena Lebaran

Setiap setahun sekali pemerintah mengantisipasi lonjakan pengguna transportasi apapun bentuk moda transportasinya. Setiap tahun juga pemerintah memiliki kesan tidak well prepared dalam menanganinya. Hal ini terlihat dari proyek-proyek perbaikan jalan yang dilakukan pemerintah. Rentang waktu pekerjaan sangat singkat dan target penyelesaiannyapun menjelang hari raya.

Pernah saya bertanya kepada rekan-rekan di kantor yang setiap tahun melakukan ritual mudik. Kenapa sih mau melakukan sebuah perjalanan yang bagi orang awam adalah perjalanan yang tidak nyaman, karena kemungkinan macet di perjalanannya sangat besar. Diluar dugaan saya, jawaban mereka sangat beragam. Namun apabila kita ambil kesimpulan, sebagian besar tidak merasa tersiksa oleh ketidakpastian perjalanan (unpredictable journey). Bagi mereka, menaklukan perjalanan tanpa kena hambatan merupakan prestasi tersendiri.

Kita dapat melihat di terminal, stasiun kereta api, maupun bandara, bagaimana pemudik rela berdesak-desakan, mengantri hingga berjam-jam, dan mengeluarkan uang lebih hanya untuk mendapatkan tiket pulang ke kampungnya. Begitu banyak energi yang dihabiskan oleh mereka tetapi begitu tiket sudah ditangan apalagi sudah menginjakkan kaki di kampung halamannya, energi yang telah dikeluarkan seperti mendapatkan tambahan yang luar biasa besarnya.

Rindu akan suasana kampung halamannya, rindu bersilahturahmi dengan tetangga, rindu dengan teman sepermainan, rindu akan makanan khas daerahnya, rindu akan kenangan masa kecil, dan rindu-rindu lainnya....membuat kekuatan super bagi pemudik dalam melewati rintangan-rintangan di atas tadi.

Jadi, sebesar atau seberat apapun hambatan maupun tantangan apabila tidak menganggap semua itu menyusahkan kita malah sebaliknya menjadi hal yang biasa untuk dilewatinya. Kekuatan hati dan pikiran adalah MODAL utama kita untuk menghadapi semua rintangan di depan mata.

Jakarta, 26 September 2008

No comments: