Thursday, 31 October 2013

Yang Tersisa Dari Lomba Foto

Di postingan sebelumnya saya meng-upload poster tentang lomba foto keseteraan gender yang digelar di JCC 19 Oktober 2013. Meskipun pengumuman lomba sangat mepet dengan tanggal dilaksanakan lomba, peserta yang berpartisipasi ternyata melebih target awal. Saya sendiri baru kali ini membuat lomba foto, sehingga mekanisme penjurian agak sedikit canggung. Untungnya, salah seorang rekan panitia punya jam terbang yang mumpuni tentang Lomba Foto. Selain penjurian, Alhamdulillah saya tidak ada masalah sama sekali (maklumlah buat event itu jadi passion sendiri buat saya).

Peserta yang mendaftar sangat  beragam, dari anak SMA/SMK hingga Bounty Hunter Photographer (ini istilah saya untuk para fotografer yang senang ikut lomba dan sudah pasti sering menang lah). Jenis fotografer ini memiliki komunitas tersendiri. Diantara mereka meskipun kompetitor namun tidak pelit berbagi ilmu tentang teknik fotografi. Bagi saya kondisi seperti ini sangat jarang lho...coba aja di kantor tempat kita bekerja...berkompetisi sesama yang lain aja pakai berpolitik....hehehehehehe

Panitia sudah membuat cara yang paling fair pada saat penjurian dilakukan sehingga si juri tidak mengetahui nama fotografernya. Dan kita melaksanakan dengan juri yang terdiri dari wakil bappenas, wakil MCA Indonesia (yg punya gawe lomba foto), wakil dari wartawan dan satu lagi wakil dari komunitas foto. Setelah kita menutup waktu untuk mengirimkan foto, juri menyaring 10% dari jumlah foto yang masuk. Setelah saringan pertama kita tentukan saringan terakhir dengan pemberian nilai untuk setiap nominasi foto. Dan inilah para pemenang lomba foto kali ini.

Foto ini mendapat nilai paling tinggi oleh keempat juri. Waktu pertama kali melihat foto ini, saya salut karena si fotografer sangat jeli untuk mendapatkan momen yang sesuai dengan tema yakni: "Kesetaraan Gender"

Bagi si fotografer, bentuk kesepakatan diantara dua pihak saat ini tidak melihat gender. Pimpinan biasanya laki-laki namun di foto ini menggambarkan bahwa perempuan juga bisa melakukan kesepakatan.
Saya sempat bertanya pada si fotografer, koq bisa2nya dapat momen seperti ini. Eh ternyata dia men-setting semuanya. Alasannya dengan tema yang 'berat' dan harus di lokasi pameran sangat sulit untuk mendapatkan momennya. Untuk itu dia minta tolong kepada orang-orang di booth untuk 'beraksi'

Si fotografer tidak menyangka kalau foto ini bisa menang sebagai juara kedua karena dia menjagokan foto satunya lagi (setiap fotogorafer boleh mengirimkan maksimal dua foto). Tapi juri punya pendapatyang berbeda dengan si fotografer.

Biasanya yang 'mengasuh' anak itu adalah perempuan khan? nah momen seorang bapak yang sedang mengajak jalan-jalan anaknya di pameran menjadi sebuah momen yang menurutnya bisa sesuai dengan tema. Berbeda dengan juara satu, momen ini didapat secara natural (tidak di setting).

Ternyata pemenangnya adalah muka baru dalam kancah lomba foto, Entah kebetulan, atau luck yang tinggi namun menurut si juara satu, untuk kedepannya tidak boleh dianggap enteng karena pertama kali ikut lomba dan langsung menang bukan hal yang biasa dan tidak mudah melakukannya. Kalau kata sang juara satu bilang, "Bahaya nih kalau dia ikut lomba lagi...bisa jadi saingan berat."



Nah untuk juara ketiga ini, sepintas lalu udah bisa menebak khan kenapa juri memilih foto ini? Ya...benar, emansipasi perempuan membuat lapangan kerja yang dulunya hanya buat kaum laki-laki kemudian bergeser sedikit demi sedikit. Seorang satpam wanita belum terlalu populer atau masih jarang kita lihat meskipun di tempat2 tertentu ada sih seperti di mal atau sekolah.

Saya sendiri tidak sempat ngobrol dengan sang fotografer karena beliau berhalangan hadir untuk menerima hadiah dan malah menitipkan kepada rekannya yang menjadi juara satu (nah seperti yang telah ditulis di awal bahwa mereka berdua ini merupakan fotografer yang sering ikut lomba. Dan pada hari itu mereka datang bersama rombongan.

Saya sangat terkesan dengan sang juara yang sama sekali tidak pelit dalam berbagi ilmu tentang fotografi. Saat ini tidak dibutuhkan camera digital SLR  untuk bisa menang. digital camera semi slr (Seperti pocket namun menggunakan lensa) juga cukup.

Last not but leastmau tahu juara2nya? karena sang juara belum nongol waktu pembagian hadiah akhirnya hanya juara kedua yg menerima hadiahnya secara langsung yakni NEDIA.... (bapaknya ga ikutan jadi juri lho, dan penilaiannya ga ikut2an hehehehehe).

8 comments:

Pakde Cholik said...

Kayaknya harus mulai memotret momen2 apik dan langka ya mas
Jangan hanya narsis diri saja ha ha ha
Yuk ikut kontesku Mas
Salam hangat dari Surabaya

Indra Kusuma Sejati said...

Ternyata acaranya seru juga ya Mas, dan pemiihan foto-fotonya justru jarang terpikirkan. he,, he,, he,,,,

Salam,

dherdian said...

Pengen deh kayaknya menjadi fotografer hebaat :)

dherdian said...

Pengen deh kayaknya menjadi fotografer hebaat :)

dherdian said...

Pengen deh kayaknya menjadi fotografer hebaat :)

Lidya - Mama Cal-Vin said...

saya jarang memotret2 nih pak haru smulai ya siapa tau bisa jadi bahan postingan juga

niee said...

seru ya mas acaranya :)

NECKY said...

pakde cholik....siap langsung ke tekape dulu yah