Saturday, 19 January 2013

Antara Jokowi dan Dahlan Iskan

Di postingan terakhir saya tentang cerita banjir di Jakarta. Sama sekali saya tidak menyinggung tentang pak Jokowi sebagai gubernur DKI karena memang ingin menuliskan khusus di satu postingan. Ada seorang rekan saya di wall FB bilang kalau Jokowi itu OMDO alias omong doang terkait dengan janji-janjinya waktu masa kampanye beliau. Meskipun saya sering sependapat dengan teman saya tersebut dalam banyak hal namun saya langsung memberi komentar bahwa untuk kali ini saya tidak sependapat dengannya.

Saya berpendapat untuk menyelesaikan masalah itu membutuhkan waktu. Berikanlah waktu kepada beliau untuk meletakkan dasar2 yang sebenarnya agar Jakarta berada di track benar. Salah satunya adalah dengan mendengarkan keluhan dan permasalahan rakyat. Meskipun itu terlihat sederhana namun artinya bagi rakyat sungguh sangat besar. Rakyat kecil itu memang banyak yang kurang beruntung dalam hal ekonomi namun sekedar mendengarkan keluh kesah mereka dapat membuat mereka senang dan merasa dihargai sebagai manusia seutuhnya.

Sekarang ini Jokowi menjadi Newsmaker. Kemanapun beliau melangkah selalu diikuti oleh media elektronik, media cetak maupun media online. Khusus media online, ada yg memberitakan sepak terjangnya setiap hari. Dalam satu hari, Jokowi bisa diberitakan berkali-kali. Apalagi sewaktu banjir kemarin, beliau dengan ringan tangan membantu membawa karung yang berisi pasir atau kerikil aja menjadi sorotan. Beliau sedang memperhatikan jalannya perbaikan tanggul yang jebol menjadi obyek foto menarik untuk dibahas. Bolak balik ke lokasi jebolnya tanggul aja sampai dihitung oleh reporter.

Jokowi menggeser newsmaker lainnya yakni Dahlan Iskan (DI). Saya ingat beberapa bulan yang lalu, saat Jokowi mulai meng-endorse mobil buatan ESEMKA, sedangkan DI sudah blusukan di pedalaman Indonesia khususnya yang ada hubungannya dengan tugas beliau sebagai Meneg BUMN. Perusahaan-perusahaan yang 'sakit' dengan terobosan naluri bisnis diupayakan agar tumbuh dengan baik dan berbuah keuntungan di masa akan datang. Bagi saya, langkah2 yang dilakukan DI dan Jokowi merupakan meletakkan pondasi baik untuk langkah maju di kemudian hari.

Banyak yang pesimis dan menilai kalau keduanya melakukan 'Pencitraan' agar masyarakat 'terlena' dengan segala aktifitasnya. Namun menurut sebuah artikel di sebuah koran, dikatakan bahwa pencitraan itu bukanlah sebuah tindakan negatif. Awalnya pencitraan itu bertujuan positif untuk membuat sebuah perusahaan atau individu dikenal sebagai sosok peduli/baik di mata masyarakat. Pergeseran makna 'Pencitraan" menjadi negatif disebabkan oleh segelintir individu atau perusahaan untuk menutupi kekurangan atau kesalahan mereka kepada publik, maka mereka berlomba-lomba melakukan 'pencitraan' deh.

Terlepas kedua tokoh memiliki agenda yg disembunyikan atau tidak, bagi saya pribadi, apa yang mereka lakukan dan sangat berguna untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas, mereka telah memberikan dasar-dasar tentang kepemimpinan atau yang biasa kita sebut leadership.

NE


20 comments:

imelda said...

dan saya rasa Indonesia membutuhkan juga lebih banyak DI dan Jokowi yang mau turba.

RZ Hakim said...

Saya sangat sependapat dengan komentarnya Mbak Imelda. Indonesia butuh banyak putra putri bangsa yang seperti mereka. Mari kita memberi kesempatan kepada mereka-mereka untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik :D

Salam hangat dari jember Om..

nh18 said...

Nothings wrong with pencitraan ...

Yang wrong itu adalah ... jika yang dilakukan itu hanya untuk show off sesaat saja (macam infotainment) ... dan media pun datang karena diundang khusus untuk itu ...

jika pencitraan dilakukan setiap menit setiap jam setiap hari setiap bulan ... saya rasa itu memang sudah menjadi etos kerja mereka.

Dan lagi pula eksposure itukan tidak mereka yang minta ... tapi justru media yang mengejar ... tidak diundang ...

Saya yakin ... di Indonesia ini banyak DI dan Jokowi lainnya ... (hanya belum dikejar media saja ...) :)

Salam saya Pak Neck

yustha tt said...

semoga Jokowi bisa membawa Jakarta mjd lebih baik, jadi kita bisa pencitraan ke luar bahwa Indonesia baik dilihat dari Jkt-nya :)

Bibi Titi Teliti said...

Kalo doaku sih...
Siapa pun itu pemimpin nya..
Mudah2an bisa membawa perubahan yang lebih baik aja deh...

Asal jangan farhat abas aja...hihihi...

NECKY said...

mbak EM...bener sekali, Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki leadership yg mumpuni bukan pimpinan berjiwa majikan....

NECKY said...

bro hakim...gimana caranya kita bisa melahirkan pemimpin yang ok untuk menjadi penerus bangsa ini yah?

NECKY said...

om enha...setuju banget dengan pencitraan yang sebenar2nya. Saya jg yakin kalau masih banyak orang2 spt DI atau Jokowi yang belum terekspos oleh media. Semoga saja negeri ini akan lebih maju dan lebih baik lagi.... aamiin

NECKY said...

mbak yustha tt, saya gemes dengan bandara soetta yang menjadi garda terdepan sebgai pintu gerbang tapi orang2 disana bermental kurang baik sehingga mencitrakan negeri ini jadi ga baik....moga2 kita bisa mengubahnya....teteup semangat

NECKY said...

erry....berarti elo ga suka sama farhat doang yah? kalau bang haji ga ada masalah khan?...elo pasti mau mendukung donk??

Lidya - Mama Cal-Vin said...

siapapun juga pimpinannya pasti buth waktu untuk memperbiki jakarta ya pak, tidak bisa diselesaikan dengan 100 hari saja

NECKY said...

setuju...mbak lidya...it takes time to solve problems

kids party said...

nice post :)

niee said...

Klo mau lihat kinerjanya ya tunggu tahun depan baru bisa ada dampaknya. tapi kalo banjir tetep aja perlu waktu bahkan 3 tahun. ya semoga saja jokowi bisa mengatasi semuanya dengan baik yak mas :)

properti99 said...

Ya sayapun mempunyai harapan agar masalah yang menghinggapi Jakarta seperti banjir dan macet segera bisa diatasi.Memang dibutuhkan waktu yang tidak sebentar dan saya lihat beliau memang komitmen dalam menyelesaikan masalah di Jakarta.Semoga Pa Jokowi dan Pa Ahok tetap semangat,diberi kesehatan dan tetap jujur dan amanah...

chocoVanilla said...

Pak Joko memang serius sekali menangani banjir kemaren, bahkan paska banjir pun masih melakukan tindakan2 hebat. Seperti jakarta bersih, dll.

Tapiii klo Pak DIS, saya agak kurang bersimpati, karena pas banjir kemaren di TV malah reriungan bareng emak2 motong sayur di posko. Duh, menurut saya ini pencitraan yang kurang positif. Bukan bermaksud membandingkan, tapi kalo Pak Joko itu bekerja sesuai ilmunya.

Yah, mungkin bermaksud menghibur ibu-ibu yang kesusahan kali yaa, Pak DIS :D Peace dah ah.... :D

NECKY said...

niee....insya Allah kalau nawaitu untuk mengurangi dan ada tindakan nyata...mudah2an tahun depan bisa berkurang titik2 banjirnya

NECKY said...

property99....bangsa ini emang maunya instan semua. Ga mau pake proses

NECKY said...

mbak Piet...saya rada setuju dengan dengan pendapatnya antara Jokowi dan DIS...
pencitraannya DIS lebih terasa dibandingkan Jokowi yah??

pulsa said...

ga ada yg instan di dunia ini, klaupun ada pasti ga akan lama bertahan.. semua butuh proses :)