Thursday, 16 June 2011

Hemat Pangkal Petaka...

Baca komentar Dewi Fatma di artikel Rencana Tinggal Rencana tentang rencananya mau menghemat tapi malah kebalikannya. Hal ini terjadi juga dengan saya beberapa waktu yang lalu. Terjadi kepada mobil semata wayang saya, Daihatsu Xenia keluaran tahun 2006.

Sejak saya beli dari baru, service hampir selalu dilakukan di bengkel resmi Daihatsu. Selama ini saya selalu senang dan puas atas pelayanannya meskipun agak mahal dibandingkan service di bengkel yang non resmi. Selesai service, mereka selalu memberikan masukkan kepada saya untuk tindakan2 selanjutnya mis: menganjurkan untuk ganti spare parts. Saya masih ingat beberapa bulan yang lalu, mereka menganjurkan untuk mengganti tali kopling karena menurutnya sudah mulai aus. Saat diberitahu, saya tidak langsung percaya begitu saja karena mobil saya jarang digunakan dan kilometerpun masih sedikit.


Informasi segera saya kumpulkan untuk mengetahui saat yang tepat mengganti tali kopling. Setelah browsing dan tanya sana sini, saya mendapatkan info kalau tali  kopling biasanya diganti saat odometer mencapai 75.000 (sedangkan mobil saya baru 50.000). Dalam hati saya, wah bisa2nya aja tuh orang bengkel nyuruh2 ganti kopling. Saya berpikir...wah lumayan saya bisa menghemat Rp.175.000,- ditambah ongkos kerjanya.

Selang beberapa bulan kemudian, saat saya sedang di kantor tiba-tiba hape bunyi dan ternyata istri saya menelpon dan nadanya sedang panik. Gimana ga panik, dia sedang nyetir mobil di jalan kecil (hanya cukup 2 mobil) eh...mobilnya ga mau maju karena persneling gigi tidak berfungsi sama sekali sementara itu mobil dibelakangnya makin banyak. Singkat kata, setelah saya berusaha menenangkannya mobil berhasil jalan dan langsung masuk bengkel resmi (kebetulan lokasinya dekat dengan kejadian.)

Begitu diperiksa oleh mekanik bengkel ternyata....tali koplingnya putus....hiks...hiks...hiks...dan saya haru mengganti satu set persneling karenanya dengan harga sejuta lebih.....Saya jadi ingat anjuran orang bengkel untuk ganti tali kopling tapi saya indahkan saran tersebut.

Satu lagi, hal yg sama kejadian dengan teman saya. Dia ingin menghemat dengan pergi ke bengkel nonresmi padahal selama itu dia pergi ke bengkel resmi. Perjalanan mudiknya ke Pekanbaru dan Padang menjadi mimpi buruk baginya karena mobilnya menjadi bermasalah sepanjang perjalanan hingga kembali ke rumah. Setelah dicari permasalahan ternyata sepele banget, bengkel nonresmi mengganti busi yang tidak sesuai untuk mobilnya. Mobilnya Xenia 1000 cc, diganti dengan busi Xenia untuk 1300 cc.

Berhemat itu penting dan perlu, namun sering kali niat itu menjadi sangat bermasalah dan merugikan kita sendiri. Mudah2an pengalaman ini bisa menjadi bahan pertimbangan melakukan keputusan

NE

10 comments:

Devi Yudhistira said...

iya nih...skrg kami jg beralih ke bengkel resmi...kapoookkk! hehehe

NECKY said...

mbak devi....kita samaan donk yah....hahahaha

bundadontworry said...

iya memang mendingan ke bengkel resminya ja ya Necky
walaupun lebih mahal dibanding bengkel yg non resmi, tapi keamanan dan kenyamanan lebih terjamin.
salam

NECKY said...

iya bun...bengkel resmi punya garansi after service dan bikin nyaman di hati...

Orin said...

Wahhh...terima kasih infonya mas Necky. Selama ini saya service motor selalu ke bengkel resmi, tapi teman2 bilang bengkel non resmi jg oke, tapi setelah membaca postingan ini, saya ga mau ah, drpd kenapa2 he he.

NECKY said...

orin ....mahal sedikit tapi hati lebih tenang ga apa2 khan?

DewiFatma said...

*manggut-manggut*

Saya juga kapok berhemat 'bodoh' seperti itu lagi, Mas.. hiks..
Mau menyelamatkan uang 100 rebu, eh tekor 2juta. Alamaaak jaanggg..!! *tepok jidat*

NECKY said...

dewi....hahahaha...hampir samalah...jadi lucu banget yah kita ini....!@!@!@????

edratna said...

Perawatan mobil memang mahal, namun jika tidak hati-hati risikonya tambah besar...dan harus merogoh kocek lebih dalam lagi.

NECKY said...

edratna...punya pengalaman dengan hal seperti ini bu??