Saturday, 17 January 2009

Transportasi Publik

Kalau membahas yang namanya Transportasi Publik, saya jadi teringat 6 tahun yang lalu ketika harus pindah dari rumah orang tua yang letaknya sangat strategis (di tengah kota dan akses yang mudah dijangkau ke tempat apapun).

Kriteria daerah yang akan dipilih adalah memiliki transportasi massal. Saat itu hanya ada Kereta dan belum ada tuh yang namanya Bis Trans Jakarta (baca: Busway). Alasan utama mencari transportasi massal karena tidak ingin bergantung pada kendaraan pribadi (baca: mobil). Saya tidak ingin ketergantungan pada mobil menyebabkan aktifitas jadi terganggu tatkala ada masalah dengan mobil (mis: mogok).

Akhirnya pilihan saya jatuh pada daerah yang memiliki transportasi massal-Kereta jurusan Serpong-, walau (saat itu) pilihan jadwal kereta masih belum banyak. Meskipun begitu, satu bulan pertama saya masih menggunakan mobil sebagai transportasi dalam bekerja.
Memasuki bulan kedua saya mulai merasakan bahwa fisik saya sangat terkuras apabila pulang kantor. Hampir tidak ada energi lagi untuk bercengkrama dengan anak-anak.

Saya memutuskan untuk naik kereta dan kebetulan waktu itu baru diujicobakan kereta AC eksekutif Serpong-Manggarai dengan 4 gerbong (buatan INKA). Baru beberapa hari menggunakan kereta, perbedaan yang sangat signifikanpun terjadi. Waktu tempuh dari tumah ke kantor jadi lebih cepat sehingga saya punya waktu yang lebih banyak dengan anak-anak, saya masih punya energi untuk bermain dengan anak-anak dan pengeluaran ongkos transportasi lebih efisien.

Perubahan juga saya alami di dalam gerbong kereta. Awalnya hanya 4 gerbong, kemudian di ganti dengan 6 gerbong dan diganti lagi (hingga sekarang) menjadi 8 gerbong kereta. Itu terjadi karena animo masyarakat yang makin hari makin menyadari dan merasakan kenyamanan dalam menggunakan moda transportasi tersebut.

Saya juga teringat saat Gubernur DKI membuat Busway pertama kali. Hampir 90% orang mencacinya karena dianggap mengurangi lajur jalanan kendaraan dan membuat kemacetan yang luar biasa. Untung saja beliau tidak peduli dengan segala protes karena tetap meneruskan rencananya hingga selesai. Coba sekarang kita amati...khusus koridor I, dari pagi-pagi hingga malam hari Bis tidak pernah kosong. Masyarakat sangat merasakan manfaatnya Busway tersebut....namun sayang sekali kalo sekarang kita lihat kondisinya.

Sebagai pengguna transportasi publik, saya berangan-angan Monorail cepat diselesaikan kemudian semua koridor Busway terrealisasi beroperasinya...(ngga usah muluk-muluk punya MRT dulu deh...). Saya sangat yakin masyarakat bakalan nggak bawa mobil dan kemudian beralih menggunakan transportasi publik. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada kebijakan yang MEMIKIRKAN tranportasi publik....bukannya mengatur jam sekolah ataupun jam kantor saja.

Ciputat, 17 Januari 2009

No comments: