Friday, 5 October 2012

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran



Sungguh prihatin dengan kejadian tawuran anak sekolah pada minggu lalu bahkan timbul korban jiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi. Belum lagi tawuran antar kampung yang penyebabnya terkadang hanya soal  dua individu yang kebetulan tinggal berbeda kampung. Namun kalau untuk tawuran antar kelompok, paling besar penyebabnya adalah masalah 'perut' aka ekonomi seperti rebutan area.

Dari ketiga jenis tawuran yang saya sebutkan di atas, saya mau membahas tentang tawuran pelajar sajalah karena anak2 sekolah itu pada umunya lebih mudah untuk mengaturnya dibandingkan dengan tawuran antar kampung maupun tawuran antara kelompok. Biasanya tawuran pelajar itu penyebabnya Ga Jelas, karena setelah sering ditelisik...ga ketemu penyebab yang pasti.
Mencegah tawuran antar sekolah menurut saya tipsnya sebagai berikut:
  1. Kembalikan rayonisasi sekolah. Sewaktu masih sekolah dulu, rayonisasi diberlakukan. Mis: anak yang tinggal di Jakarta Barat sekolahnya di Jakarta Barat, Anak yang tinggal di Jakarta Pusat maka sekolahnyapun di Jakarta Pusat. Lalu mengapa bisa mencegah tawuran? Pengertiannya adalah anak-anak tersebut sudah kenal sebelumnya. Waktu di SMA, pasti banyak sekali teman2 dari SMP atau SD yang sama. Begitu pula pastinya di SMA tetanggapun lebih kurang pasti banyak teman2 dari SD hingga SMP. Kalau sudah kenal baik maka ketegangan akan mudah sekali mencair.
  2. Semarakan kegiatan ekstrakurikuler. Anak-anak itu memiliki energi yang berlebih dan membutuhkan penyaluran kegiatan yang positif. Saat ini, kurikulum dibuat begitu tinggi ditambah lagi keinginan sekolah yang punya program2 unggulan dalam belajar agar nilai2nya menjadi tinggi dan mudah masuk ke perguruan tinggi. Tidak semua anak2 memiliki keminatan terhadap pelajaran formal di kelas. Sebagian anak2 lebih nyaman beraktifitas seperti olah raga (basket, futsal, dll), Palang Merah Remaja (PMR), Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), dsb.
  3. Kurangi bullying di sekolah. Untuk mengurangi kasus bullying, implementasi poin dua sangat dibutuhkan  karena dengan memiliki kegiatan sama yang berasal dari angkatan berbeda diharapkan menjadi berkurang peristiwa bully. Memiliki hobby yang sama, mengurangi resistensi penerimaan di lingkungannya. Selain itu, lintas angkatan bisa semakin lebih kompak.
Sedangkan untuk menanggulangi tawuran yang sudah terjadi, tips-nya antara lain:
  1. Memberikan efek jera yang positif. Setiap ketahuan ikut tawuran, sanksi yang diterapkan dapat berupa sanksi sosial. Kalau orang tuanya orang 'mampu' diwajibkan menyumbang panti asuhan atau memperbaiki fasilitas umum untuk sekolah seperti memperbaiki WC, membuat sarana tempat ibadah lebih baik, dll
  2. Mengajak bicara dari hati ke hati. Mungkin terlihat lebay, namun banyak dari mereka yang 'hanya' ingin di dengar suaranya. Kalau suara mereka sudah kita salurkan, mudah2an bisa diarahkan ke hal yang lebih positif energi mereka.
  3. Melibatkan orang tua lebih intens. Banyak sekali orang tua yang kurang mengenali anak2nya secara utuh. Apabila di rumah menjadi anak 'manis', pasti kalau di sekolah jadi anak manis juga. Padahal pendapat seperti ini belum sepenuhnya benar. Terkadang anak2 di sekolah menjadi pribadi yang berbeda karena pengaruh lingkungan sekolahnya.
Kalau mau flash back ke tahun 80an atau 90an, tawuran itu identik dengan kenakalan remaja pada umumnya. Namun beberapa tahun belakangan ini, kenakalan tersebut bermetamorfosa menjadi kegiatan kriminal atau pidana. Banyak senjata tajam yang terlibat (mungkin kalau senjata api bebas dimiliki, ceritanya seperti di amerika yah) seperti arit, kelewang, gir, pisau dsb.

Budaya kekerasan telah menjadi asupan yang 'biasa' bagi generasi saat ini seperti tayangan berita kriminal yang 'over exposed', video games yang penuh kekerasan, hingga keteladanan para orang tua menjadikan kombinasi yang tepat membentuk karakter anak.

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu:Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran.

 Indonesia Bersatu







19 comments:

Shohibul Kontes Unggulan Indonesia Bersatu said...

Terima kasih atas partisipasi sahabat.
Salam hangat dari Surabaya

Abi Sabila said...

Dan yang lebih menyedihkan lagi, Bang Necky, pagi ini saya masih menyaksikan berita tentang bentrokan antar warga. Haruskah setiap permasalahan diselesaikan dengan kekerasan? Bukankah faktanya adalah permasalahan semakin rumit dan tak berkesudahan? Semoga tips-tips dari Bang Necky menambah masukan bagi para orang tua, juga masyarakat pada umumnya bahwa tawuran atau apapun nama tindak kekerasan lainnya, tiadalah membawa kebaikan maupun perbaikan.
Semoga sukses di kontes, Bang.

marsudiyanto said...

Untuk sistem rayonisasi itu banyak yang menentang Pak, karena dianggap membatasi peluang. Secara Nasional juga sama, rayonisasi perguruan tinggi dinilai bisa mengkotak2 daerah.

NECKY said...

pak mars...sistem rayonisasi itu memang banyak yg menentang namun menurut saya sih lebih banyak manfaatnya. Di Jakarta, kalau sistem rayonisasi dikembalikan, saya yakin bisa mengurangi kemacetan di Jakarta khususnya di pagi hari. Coba aja giliran anak sekolah libur, tiba2 lalu lintas di jakarta relatif lebih lancar.....

NECKY said...

abi...marah itu boleh...namun kepala tetap dingin dan dapat berpikir rasional...semoga saja henerasi berikutnya dapat lebih baik dibandingkan generasi yg saat ini

nicamperenique said...

ngontes nihh hehehe kirain masih misuh2 soal komuter :D

kereta juga sering jadi sasaran yang tawuran bukan ya mas?

Good luck ya mas di kontesnya Pakde:)

Dhonie Moch Romdhonie said...

saya masih belum buat :(

Semangat buat kontesnya :)

alaika abdullah said...

Peran orang tua dalam memperhatikan anak2nya lebih intense memang merupakan kebutuhan mutlak ya mas. Mereka harus mau tau bagaimana perkembangan anak2 mereka, jangan hanya 'menitipkan' sang anak di sekolah dan menjadikan sekolah sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap akhlak manis/baik si anak. Mereka harus ikut campur terhadap pembinaan anak mereka yang terlibat tawuran atau malah menjadi penggerak tawuran itu sendiri.

Saya sepakat banget dengan saran mas Necky... semua point, kecuali yang sistem rayon, karena menurut saya, ada daerah yang mutu pendidikannya masih kurang bagus, dan sayang aja kalo anak kita yang mungkin nilainya cukup bagus, ga bisa lintas rayon untuk untuk menjangkau sekolah yang lebih baik mutunya itu...

anyway, sukses untuk kontesnya ya mas! good luck!

anotherorion said...

klo hukuman positifnya seperti itu kok saya gak setuju ya? yang nanggung biaya kan orang tua? saya lebih seneng klo mereka diharuskan membuat karya disekolah bisa dalam bentuk membuat teks pidato bahasa inggris yang dibacakan di depan peserta upacara, menjadi imam sholat dhuhur berjamaah di sekolah, yang penting hukuman itu dirasakan sendiri oleh siswa tekanan dan manfaatnya bukan menimpakannya pada orang tua

NECKY said...

nique....hahaha...kalau krl mah tetap konsisten ber misuh2... selama petisi online belum gw cabut dari website...elo juga boleh koq isi petisi online itu...ayo donk isi...

NECKY said...

mbak alaika...sistem rayon itu pertimbangannya di setiap rayon ada beberapa sekolah unggulan sehingga pemerataan terjadi. Di jakarta sisa2 sistem ini masih ada terlihst koq meskipun sudah lama hilang sistem tersebut

Ririe Khayan said...

jaman sy sekolah dulu, gak ada siswa yg neg-bully temannya. knp skrg jd marak adegan bully ya..

belalang cerewet said...

Saya sependapat dengan usulan Anda, Mas. Kegiatan ekstrakurikuler harus diberdayakan untuk menyalurkan energi anak-anak yang masih besar dan cenderung meluap-lupa dan biasanya mudah dipancing menjadi tindak kekerasan. Akan lebih sip lagi bila kegiatan ekstra di luar sekolah (klub-klub olah raga atau hobi) bisa disandingkan untuk menunjang kegiatan positif tersebut.

Tapi usulan tentang pengembalian rayon sekolah, saya pikir perlu dikaji ulang sebab pembebasan rayonisasi terbukti banyak juga memberi manfaat--terutama akses pada pendidikan yang lebih baik serta bertambahnya pengalaman siswa dalam hal pergaulan dan teman-teman baru.

Pada akhirnya memang keluarga yang penting ya...seperti yang sudah disebut oleh para kontestan lain dalam hajatan Pakdhe ini.

Efek jera positif? Sumpe lo!!!?? Sepakattt dengan 3t! Yang penting anak menyadari kesalahan dan mendapat hukuman yang membangun...

Semoga berjaya di kontes tamanblogger.com. Salam dingin dari Bogor :)

Lidya - Mama Cal-Vin said...

kalau dipikir2ya pak, anak sekolah dilarang tawuran tapi yang dewasa kok malah ikut tawuran kampung :) semoga sukses dengan kontesnya ya Pak NEcky

nh18 said...

Tersenyum ...

Dan saya setuju sekali dengan pendapat Pak Neck diatas ...
Tawuran pelajar sekarang kok norak banget yak ...

nggak kayak dulu lagi

salam saya Pak Neck

irniirmayani said...

Karena udah banyak tema yg sama (termasum akunya juga) jadi sukses aja deh mas buat kontesnya.. hehehehe

irniirmayani said...

Karena udah banyak tema yg sama (termasum akunya juga) jadi sukses aja deh mas buat kontesnya.. hehehehe

vizon said...

Saya kemarin melihat sebuah permainan di play station, namanya "BULLY". Saya kira itu cuma nama, ternyata isinya memang tentang tindak kekerasan di sekolahan.. Wuih.. berbahaya sekali itu..

Kita memang patut berhati-hati untuk anak-anak kita ya Bang.. :)

NECKY said...

uda vizon...banyak banget games yg mesti kita perhatikan agar tidak jadi contoh anak2 kita.