Monday, 5 January 2009

Kontra Produktif

Selamat Tahun Baru 2009,
Saat-saat selesai liburan (status masih cuti tapinya) seperti ini apabila tidak keluar rumah dengan keluarga yah....menghabiskan waktu di depan TV. Dari seluruh acara yang saya tonton dari tadi pagi, seperti berita, gosip artis, hingga Film bioskop Mr. & Mrs. Smith, beberapa topik yang nyangkut di benak.

Pertama, berita tentang demo besar-besaran solidaritas umat islam atas serangan Israel di Jalur Gaza yang dimotori oleh salah satu partai politik. Mungkin saja kalau saat ini dalam keadaan sehat dan bugar, saya mau ikutan di acara tersebut...(maklum seumur-umur belum pernah ikut demo seperti itu).

Kedua, berita kenaikan tarif parkir di mal oleh pengelola parkir swasta. Padahal sudah beberapa kali dijelaskan oleh Pemda, kalau tarif parkir yang mengatur adalah bukan swasta melainkan pemerintah daerah. Hebatnya...pengelola parkir swasta tidak takut disegel (meskipun menurut peraturannya harus ada persetujuan pihak Pemda)....Anjing menggonggong kafilah berlalu....

Ketiga, berita tentang SPBU yang hampir sebagian besar kekurangan pasokan dari Pertamina khususnya untuk bensin Premium dan Solar. Awalnya pada hari pertama banyak SPBU yang tutup, Pertamina mensinyalir SPBU tersebut tidak ingin menjual bensin karena ada indikasi turunnya harga BBM dalam waktu dekat. Namun beberapa hari kemudian muncul Excuse dari Pertamina karena beberapa faktor hingga Presiden SBY sampai marah.

Yang terakhir, berita tentang kebijakan anak sekolah yang masuk sekolahnya maju 30 menit menjadi 6.30 pagi dengan alasan untuk mengurangi volume kendaraan di jalan pada jam-jam tertentu.

Dari topik yang mampir di benak, berita yang paling terakhir membuat saya bertanya-tanya apakah kebijakan yang ditentukan tersebut sudah dilakukan penelitiannya? Saya sih berpikir positif saja, pasti ini sudah dilakukan kajiannya. Tapi tetap saja, otak ini tidak mau bisa menerima. Akar permasalahan dan solusinya koq seperti kurang sinkron menurut logika saya.

Permasalahan utama adalah kemacetan yang disebabkan oleh volume kendaraan (khususnya kendaraan pribadi) yang tidak seimbang dengan kapasitas jalan. Ada 2 pendekatan dengan permasalahan yakni mengurangi jumlah kendaraan dan menambah kapasitas jalan. Keduanya telah berusaha diatur sedemikian rupa oleh pemerintah daerah. Namun hingga saat ini kemacetan tetap saja terjadi.

Pendapat saya untuk mengurangi jumlah volume kendaraan solusinya adalah Transportasi Publik yang nyaman dan aman, bukannya mengatur anak sekolah masuk lebih awal. Ini sama saja kalau kita sakit mata tapi yang dikasih kita adalah obat sakit perut....

Saya adalah pengguna transportasi publik sejak 5 tahun belakangan ini. Dari Kereta Rel Listrik hingga Bus Trans Jakarta ataupun taksi. Sudah tidak masuk akal (kalau tidak terpaksa) membawa kendaraan pribadi dari rumah (kawasan Ciputat) menuju pusat kota (kawasan thamrin). Pembangunan Bus Way yang pada awalnya banyak dikritik ternyata saat ini malah menjadi bintangnya transportasi publik bagi masyarakat. Menurut pendapat saya, (mungkin juga sama dengan kebanyakan orang) kalo ada transportasi publik yang nyaman dan aman dapat dipastikan masyarakat akan berduyun-duyun menggunakannya.

Terakhir, suatu kebijakan pasti ada yang pro dan kontra. Namun apabila kita mau lebih baik seharusnya sebuah kebijakan harus lebih banyak manfaat dari pada mudharatnya (kontra produktif)

No comments: