Like fanspagenya SENTILAN

Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Tuesday, 20 May 2014

Hidup Harus Ikhlas

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke tempat pengobatan khusus mata dalam rangka menemani saudara yang bermasalah dengan matanya. Menurut dokter, penglihatannya berkurang karena ada kemungkinan dengan penyakit diabetes yang dideritanya dan kemudian menyebabkan katarak (karena usianya yang sudah lebih dari 65 tahun).

Namun setelah diperiksa lebih seksama oleh dokter, katarak di matanya belum parah dan belum memerlukan operasi katarak. Apalagi kondisi gula darahnya yang naik turun banyak dokter yang tidak ingin mengambil resiko dengan melakukan operasi. Nah...saat di pengobatan alternatif...diagnosanya.....persis banget dengan diagnosa dokter...ga ada bedanya.

Sunday, 1 September 2013

Lihat Ke Depan Kalau Mau Maju

Beberapa hari ini, cukup ramai tentang rencana Jokowi untuk mengganti jalan Medan Merdeka Utara, Selatan, Barat dan Timur menjadi jalan Soekarno, Hatta, Soeharto dan Ali Sadikin. Menurut pendapat orang awam seperti saya, langkah Jokowi ini sangat baik banget. Sebagai orang nomor satu di DKI, dia melihat ada yang kurang sreg dengan nama jalan di sekitar istana. Bukan tanpa alasan ataupun sembarangan, beliau menetapkan 4 nama tersebut. Pasti sudah ada kajian sebelumnya yang akhirnya memunculkan  nama2 tersebut.

Rencana itu menjadi ramai dan menjadi sedikit kontroversi karena ada nama Soeharto disana. Banyak yang memberikan ketidaksetujuan adanya nama beliau menjadi salah satu nama jalan. Banyak sekali nada2 miring dan menilai belum layak disandingkan namanya dengan 3 nama lainnya. Selalu dihubungkan dengan 'dosa' beliau selama menjabat sebagai kepala negara atau Presiden RI.  Jadinya wacana Jokowi itu menjadi sumber berita empuk bagi kuli tinta untuk menjadi berita deh.... :-)

Friday, 24 May 2013

Leadership Style

Handry Satriago
Sewaktu masih menjadi ide, saya berpikir pasti ini tulisan yang sangat tidak populer lagi karena membahas tentang leadership atau kepemimpinan semata. Apalagi di koran-koran sudah banyak survey-survey yang hasilnya satu dengan lainnya berbeda banget. Saya hanya ingin mengingatkan saja kepada kita semua agar tidak salah memilih pemimpin (lagi....hehehehe).

Dalam beberapa bulan kedepan, negeri ini bakalan memiliki seorang leader baru (baca: presiden). Yuk kita cari ciri2 yang tepat dengan situasi saat ini. Kriteria yang harus dimiliki seorang leader. Pada awal menulis tulisan ini sebenarnya hanya ingin membuat list tentang apa yang seharusnya dimiliki seorang leader. Namun hari ini saya mendapat kesempatan mendengarkan sharing dan inspirasi yang bagus banget dari seorang CEO perusahaan multi nasional. Handry Satriago merupakan salah seorang CEO termuda dari Indonesia di General Electric (GE). Selain memberikan pencerahan dan sharing pengalaman hidup beliau, sempat disinggung juga mengenai leadership. Saya merasa beruntung dapat mendengarkan langsung dari beliau tentang perjalanan hidup dan karir seperti yang beliau ceritakan di depan karyawan perusahaan. Disela2 kesibukan yang padat mau masih mau berbagi pengetahuan dengan orang lain. Cerita lengkap tentang beliau bisa dilihat disini.

Thursday, 21 June 2012

Goal Setting: Hasil Atau Proses

Tadi siang saya sempat berdiskusi tentang cara mendidik anak dengan rekan satu kantor. Meskipun hanya sebentar namun bagi saya isi diskusinya sangat-sangat bermanfaat.Meskipun hangat dan menggebu-gebu bukan berarti sepenuhnya saya sependapat dengan beliau.

Menurut beliau, kita tidak perlu memberi batasan terhadap otak kita. Kebanyakan budaya beberapa suku bangsa di Indonesia memberikan aturan-aturan yang membuat limitasi pada proses berpikir seseorang. Misal: kalau ada orang tua bilang, kamu jangan jadi pedagang sebab jadi pedagang itu penghasilannya tidak pasti mendingan jadi pekerja saja. Kondisi ini secara tidak langsung membatasi proses berpikir seseorang untuk menjadi pedagang. Beliau memberikan contoh antara dia dengan adiknya, sebagai anak tertua mindset orang tuanya sangat dominan sedangkan kepada adiknya, dominasi orang tuanya jauh lebih sedikit.

Saturday, 17 March 2012

Beban Hidup

Dalam kurun waktu seminggu ini, saya melihat dua orang (yg kebetulan keduanya perempuan) pingsan didepan mata saya. Yang pertama saat selesai sholat ashar di masjid belakang kantor. Begitu bubaran jamaah masjid, di belakang teman saya ada perempuan tiduran (atau tertidur) di tengah jalan. Teman saya yang terdekat dengan si perempuan juga agak panik dan bingung karena jalanan itu sebenarnya jalanan ramai lalu lintas kendaraan sebagai akses jalan tembus. Hal ini tentunya membuat sebuah mobil yang hendak melintas, terpaksa menghentikan kendaraan dan ingin ikut membantu menggotong ke dalam masjid. Namun oleh para jamaah yang baru bubar, si perempuan diungsikan dengan cepat.

Kejadian kedua terjadi saat di stasiun. Baru saja kereta menurunkan penumpang yang berhamburan ke luar stasiun, saya melihat perempuan tiba-tiba jatuh lunglai seperti kehabisan tenaga. Alhamdulillah para petugas di stasiun dengan sigap dan cepat menggotong perempuan tersebut ke kantor. Saya sempat melirik ke muka perempuan sejenak sebelum dibawa, terlihat dia seperti tidak kuat menanggung beban hidupnya meskipun tidak pingsan.

Thursday, 15 December 2011

Mimpi atau Realitis??

ambil dari sini
Ingat kata-kata atau ungkapan tentang gambar disamping ini? Anda melihatnya sebagai gelas yang airnya tinggal setengah atau gelas yang isinya baru setengah? Banyak tulisan demi tulisan membahas tentang hal ini. Namun apabila dihadapkan kepada kenyataan di lapangan, tidaklah mudah kita bilang orang-orang yang bilang air tinggal setengah adalah orang-orang pesimis, sedangkan orang yang bilang air di dalam gelas itu baru setengah adalah orang optimis. Banyak yang bilang orang pesimis itu orang yang melihat realitas atau realistis, sedangkan orang optimis adalah orang pemimpi.

Sebagai contohnya ketika ada sebuah program beasiswa yang diperuntukan bagi semua karyawan yang telah bekerja lebih dari 5 tahun. Ada 50 karyawan yang masuk kriteria, sedangkan program tersebut hanya untuk 4 orang saja. Orang-orang yang masuk kriteria ternyata ada dua kubu yang berbeda. Kubu pertama adalah orang-orang yang mau mendaftarkan dirinya ikut program, dengan alasan masuk kriteria untuk mendaftar. Di kubu lain punya pendapat bahwa tidak ada gunanya mendaftar karena sebenarnya pihak perusahaan sudah memiliki list atau daftar karyawan yang diinginkan untuk mendapat beasiswa.

Tuesday, 29 November 2011

Perlukah Perubahan ?

Teman saya cerita bahwa di kantor sedang ada program pensiun dini secara suka rela, dan dia termasuk orang yang dilanda kebimbangan untuk menentukan ikut program tersebut atau tetap setia di kantor lamanya. Dia banyak bercerita tentang rekan-rekan kantornya yang sama bingungnya dengan dia. Masing-masing personal memiliki alasan untuk tetap tinggal atau mengambil program tersebut.

gbr ambil dr sini
Permasalahan lain menurut teman saya itu adalah tidak semuanya akan disetujui apabila peminatnya tersebut masih dinilai berpotensi. Disamping itu perusahaan memiliki budget dalam program ini. Bagi teman saya, muncul keraguan apakah saya memang masih dibutuhkan oleh perusahaan? Dengan bekerja lebih dari sepuluh tahun ada sedikit kebimbangan karena posisinya seperti berjalan di tempat. Terus kalau sudah mengajukan tapi ditolak apakah tidak menjadi bumerang terhadap dirinya karena dianggap tidak loyal sama perusahaan.

Ada beberapa alasan rekan2nya yang mengajukan pensiun dini antara lain ingin mengurus dan mengembangkan bisnisnya atau bisnis keluarganya, ada yang memang merasa sudah tidak bisa mengembangkan dirinya di perusahaan tersebut, ada juga yang memang sudah jenuh bekerja di perusahaan ini dan program ini merupakan sebuah jalan keluar yang sangat tepat. Namun ada juga yang bilang, kapan lagi kita bisa punya uang sebanyak itu (nilai uang yang akan diterima setiap karyawan yang pensiun dini). Apapun alasannya dengan mengikuti program tersebut, sang karyawan sudah siap untuk berubah dengan segala resiko yang akan mereka tanggung.

Wednesday, 26 October 2011

Kecerdasan Anak

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat tagged notes tentang macam-macam kecerdasan. Di dalam tulisan tersebut ada sembilan kecerdasan dasar yang dibuat oleh Howard Gardner. Kalau pernah mendengar Multiple Intellegence ...yah ini yang dimaksud oleh tulisan tersebut.

Sebagaimana setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, namun di dunia pendidikan dasar Indonesia hanya beberapa saja yang diserap atau digunakan sebagai bahan penilaiannya. Pada artikel itu disebutkan bahwa setiap anak bisa memiliki kecerdasan lebih dari satu (multiple intellegences). Adapun kecerdasan yang dimaksud adalah:

Tuesday, 20 September 2011

Menahan Diri

Kejadian tawuran antara wartawan dengan anak sma yang terjadi baru-baru ini di Jakarta, membuat saya bingung dan heran. Kenapa hal ini bisa terjadi? bukankah kita semua bisa berpikir dengan tenang dan tidak menggunakan kekerasan untuk penyelesaiannya??

Saya bukannya mau membela salah satu pihak, namun berita yang ada di media online sama sekali tidak berimbang dan hanya versi wartawan yang sangat dominan. Satu-satunya versi anak-anak sma adalah statement dari polisi. Akhirnya saya dapat juga melalui status FB teman yang memberi link cerita versi anak sma disini. Sedangkan pendapat saya melihat tayangan di TV, kenapa para jurnalis kelakuannya mirip anak sma yah?? ramai-ramai mendatangi sekolah hingga membuat suasana bertambah panas.

Sunday, 18 September 2011

Behind The Scene

Musik bagi saya sudah merupakan salah satu kebutuhan jiwa. Kala jiwa lelah dengan pekerjaan rutin di kantor, saya sering memutar kembali lagu-lagu yang hits di era 80an dan 90an. Baik lagu yang berbahas Inggris maupun berbahasa Indonesia.

ambil dari sini
Malam minggu kemarin ada dua acara di dua stasiun TV berbeda yakni "A Journey of Kahitna" di Metro TV dan Musiklopedia yang mengusung Java Jive. Inti kedua acara tersebut sangat mirip yakni potret perjalanan ke dua band sejak berdiri di tahun 80an dan berkibar di era 90an hingga sekarang.

Baik Kahitna dan Java Jive sangat terkenal di zaman keemasannya. Di acara tersebut diceritakan bagaimana jatuh bangunnya band tersebut, konflik yang ada diantara anggota, hingga keluar masuk anggota. Kedua band tersebut mengawalinya dari tampil di cafe-cafe, namun karena animo masyarakat yang tinggi membuat setiap penampilan mereka didatangi banyak penonton. Akhirnya mereka masuk dapur rekaman dan meledak di penjualan album perdananya.

Monday, 12 September 2011

Semangat Yang Tidak Padam

Saat berlebaran kemarin di Bandung saya mendapat pemandangan dan pembelajaran yang menakjubkan. Bagaimana tidak menakjubkan, di usia yang bisa dibilang sepuh saya bertemu dengan dua orang nenek yang sangat semangat mencari nafkah. Yang satu menjual sate ayam dan satunya lagi menjual es lilin.

Ingin rasanya saya mencicipi sate ayam yang sedang dibakar namun perut ini sudah ga muat lagi. Sepupuku cerita bahwa di nenek penjual sate sudah jualan sejak tahun 70an atau 80an. Dan kemarin itu dia berjualan ditemani oleh anak dan cucunya. Sayang banget saya lupa mengabadikan momen ini saking terkesima oleh semangatnya sang nenek yang sedang membakar sate ayam...hmm yummy banget ngeliatnya. Menurut saudaraku tadi si nenek hanya mutar-mutar di kawasan sekitar rumah (daerah Tirtayasa) karena beliau sudah punya pelanggan tetap.

Saturday, 28 May 2011

Semangat Juang

Baru aja selesai melihat pertandingan bulutangkis memperebutkan piala Sudirman. Di dalam setiap pertandingan seperti ini pasti ada yang menang dan kalah. Sebagai penonton, kita selalu berharap tim yang kita unggulkan akan menang terus. Namun ada kalanya justru kenyataan sebaliknya, tim kesayangan kita malah kalah. Melihat perjuangan tim Indonesia, sebagian besar semangat juangnya patut saya acungi dua jempol. Mereka berjibaku dan bersimbah keringat membela nama bangsa dan negara untuk mengalahkan Jepang (dan kalah dari Denmark). Bagi kita yang menonton pertandingan tersebut (mungkin) akan terbawa emosi dan semangat melihat semangat juang mereka.

Sunday, 8 May 2011

Bersabar Dan Beruntung

Hari ini saya selesai membaca buku Ranah 3 Warna dari A. Fuadi (buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara) dalam waktu beberapa jam saja. Saya mendapat inspirasi dari kalimat di dalam buku tersebut yakni Man Shabara Zhafira (Siapa yang bersabar akan beruntung). Sementara itu beberapa hari sebelumnya saya membaca juga tulisan pakde Cholik tentang "Sarungan Tapi Penghasilan Menggiurkan" yang menceritakan aktifitas beliau selama ini di dunia maya. Kesimpulan dari aktifitas beliau hampir sama dengan buku tersebut yakni BERSABAR.

Wednesday, 6 April 2011

Buku Bacaan

Hari ini saya diingatkan kembali sama teman untuk memberikan masukkan tentang buku-buku yang layak dan patut dibeli dan jadi koleksi perpustakaan kantor. Padahal saya berjanji kepada dia untuk membuat daftar buku-buku tersebut hampir sebulan yang lalu. Faktor U emang ga bisa dibohongin deh.....

Perpustakaan kantor sebenarnya sudah ada sejak lama, namun buku-buku koleksinya bersifat teknis sekali (maklum kantor berlatar belakang teknologi kali yah??) sehingga aktifitasnya tidak sebaik perpustakaan pada umumnya. Lantas saya mengusulkan agar buku-buku yang dikoleksi jangan terlalu teknis dan kalau bisa malah novel yang dapat menginspirasi orang atau buku-buku tentang motivasi untuk penambahan wawasan karyawan.

Saya ambil contoh bukunya Andrea Hirata dengan Tetralogi "Laskar Pelangi", Anwar Fuadi dengan "Negeri Lima Menara", Rene Suhardono dengan "Your Job Is Not Your Career & Career Snippet", Erbe Sentanu dengan "Quantum Ikhlas", dan banyak lagi lainnya adalah sederetan buku-buku yang memberikan tambahan wawasan bagi yang membacanya.

Kira-kira buku lainnya palagi yang layak dikoleksi sebuah perpustakaan kantor yah? mungkin teman-teman punya tambahan judul buku?...silahkan memberikan sumbang saran yang dapat saya sampaikan kepada pengurus perpustakaan....

NE


Sunday, 3 April 2011

Iri Yang Positif

Iri itu sangat identik dengan makna negatif. Hampir semua orang kalau kita tanya tentang hal tersebut pasti jawabannya iri itu tidak baik. Tapi menurut saya ada banyak sisi positif apabila kita punya sifat iri, kalau boleh saya menyebutnya Iri Positif.


Terus terang saya merasa iri dengan beberapa teman saya karena diantara mereka ada yang mampu menjalankan agama (mengamalkan ilmu agamanya) dengan sungguh-sungguh, mampu bangkit dari keterpurukan hidupnya, berhasil mengelola usaha kuliner yang dirintis dari bawah banget, mampu membuktikan bahwa kerja keras itu sangat diperlukan oleh kita, mampu memiliki hobby yang membuatnya banyak berkarya (fotografi) dll.

Lewat kemudahan teknologi seperti facebook, milis grup atau sosial media lainnya saya berhasil memperpanjang silahturahmi. Selain itu, saya juga dapat melihat dan mendengar berita teman2 yang sudah berhasil dalam karir dan beruntung dalam hal materi namun ada juga yang kurang beruntung dalam materi namun memiliki keluarga yang utuh dan bahagia. Ada juga yang kurang beruntung dalam membina keluarga tetapi tidak membuat pertemanan kami menjadi berkurang.

Salah satu yang saya inginkan dari dulu adalah belajar fotografi, namun hingga saat ini saya masih terbatas mengagumi karya-karya teman saja. Mungkin juga saya bukan seperti orang lain kalau sudah hobby bisa menghabiskan biaya yang tidak sedikit untuk membeli peralatan hobby-nya. Sebagai contoh pembelian Camera Digital SLR hingga saat ini masih dalam wish list saya karena selalu menjadi prioritas yang terbawah. Ada saja prioritas lainnya yang menggeser prioritas untuk membelinya.

Mudah-mudahan "iri yang positif" dapat membuat kita lebih memotivasi diri untuk membuat hal-hal yang lebih positif dan lebih baik....

NE

Thursday, 17 March 2011

Pemimpin = Leader?

Hari Kamis minggu lalu (11 Maret 2011), saya ditugaskan kantor untuk mengikuti seminar setengah hari tentang Knowledge Management di Financial Hall Graha Niaga. Ada tiga pembicara di acara tersebut, hanya satu pembicara utama yakni Hengky S Chahyadi, seorang Coach yang bekerja di PT Smart Tbk.

Secara singkat, beliau menuturkan dalam membangun dan membentuk seorang leader membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Meskipun banyak teori dan pelatihan tentang leadership namun setiap perusahaan tidak dapat serta merta mengimplementasikan karena memiliki budaya yang berbeda-beda sehingga tidak semua teori-teori tersebut dapat diimplementasikan dengan baik.

Dalam pengalaman selama 12 tahun menjadi coach ditempatnya kerja sekarang ini, beliau menekankan bahwa untuk membuat seseorang menjadi leader yang baik dibutuhkan role model  atau keteladanan sebagai panutan untuk menularkan prinsip-prinsip menjadi leader. Selain itu, teori-teori leadership yang telah diberikan harus diterapkan secara bertahap tergantung dengan individu dan budaya perusahaan itu sendiri.

Sambil mendengarkan penuturan beliau, pikiran saya langung mengingat tausyiah ustad saya tentang leadership. Menurutnya seorang pemimpin haruslah memiliki ciri yakni:

  • Seorang pemimpin harus sehati dengan rakyatnya. 
  • Pemimpin itu harus memiliki perhatian tinggi terhadap rakyatnya. 
  • Pemimpin menjalankan kepemimpinan dengan kelembutan.
  • Terakhir seorang pemimpin itu wajib memiliki sifat empati dan kasih sayang. 
Cita-cita rakyat mesti berbanding lurus dengan cita-cita presiden atau rajanya. Rakyat ingin hidup damai, makmur dan sejahtera, seorang pemimpin harus merealisasikan bagaimanapun caranya. Apabila mengendalikan pemerintahan dengan kekerasan tanpa memberikan perhatian terhadap kebutuhan rakyatnya, waktu akan berbicara seperti yang terjadi di Timur Tengah baru-baru ini.

Dalam lingkup lebih kecil yakni perusahaan, tidak ada seorangpun karyawan yang  ingin perusahaan tempatnya bekerja menjadi rugi, seorang pimpinan perusahaan yang sehati dengan karyawannya akan berusaha juga untuk memberi keuntungan dan kesejahteraan bagi karyawan-karyawannya. Apabila ada pimpinan anda tidak memiliki ciri-ciri seperti diatas dapatkan dipastikan dia tidak dapat menjad panutan.

Hari ini (18 Maret 2011) saya membaca artikel di harian Republika yang menulis tentang ibu Tri Mumpuni. Tanpa gembar gembor, beliau telah membantu menularkan ilmunya dan telah menerapkan di 60 desa terpencil dengan memberikan listrik melalui Pembangkit Tenaga Listrik Mikrohidro(PLTM). Beliau memiliki ciri-ciri sebagai leader yakni memiliki perhatian yang tinggi kepada masyarakat banyak, memiliki empati terhadap kesulitan dengan membangun PLTM, ikut merasakan kebutuhan mereka, dan sebagai pemimpin perusahaannya saya percaya beliau penuh dengan kelembutan dan memberi keteladanan kepada anak buah serta sebagai ibu kepada anak-anaknya.

Saya lantas bermimpi seandainya semua pemimpin yang ada di negara kita, memiliki ciri-ciri di atas maka Indonesia akan menjadi sebuah negara Besar...(bukan besar hutang maupun besar korupsi yah). Mudah-mudahan saya masih bisa menyaksikan Mimpi menjadi Kenyataan....

NE

Tuesday, 8 March 2011

Bentuk Penghargaan

gambar ambil dari sini
Sejak kecil hingga dewasa, kita sering mendapatkan hadiah maupun pujian dari orang-orang di sekitar kita. Semua itu merupakan bentuk penghargaan kepada kita. Mungkin waktu kita kecil penghargaannya dengan diberikan mobil-mobilan atau boneka...minimal es krim atau permen sudah senang banget. Semua penghargaan masih sering berbentuk materi. Jarang sekali kita memberikan penghargaan dengan bentuk non materi. Mari kita ingat kapan terakhir memberikan penghargaan non material?

Di Indonesia penghargaan yang diberikan masyarakatnya masih kental dengan materi. Contohnya sajalah, ketika kita melihat salah satu teman atau tetangga kita yang sudah mapan secara materi dan masih usia muda secara otomatis kita akan memujinya bahwa dia orang sukses. Namun sebaliknya, jika kita melihat orang yang secara materi masih kekurangan kita langsung iba melihatnya.

Secara bercanda maupun serius, ungkapan tentang "Money is not everything, but everything needs money" (terjemahan bebasnya: Uang bukan segalanya di dunia ini tapi kita butuh uang untuk pendidikan, makan, tempat tinggal, liburan, dll). Mungkin ini budaya kaum kapitalis, tapi sudah mulai mengakar di kehidupan sekitar kita. Saya tidak setuju dengan ungkapan itu karena untuk orang yang tinggal di desa, uang bukan segalanya bagi mereka tapi tetap membutuhkannya.

Bentuk penghargaan apa yang paling sering kita berikan selain materi kepada orang-orang sekitar kita, baik itu pasangan, anak, teman sekolah, teman kerja, tetangga, bos, bawahan, dll??? dan apa reaksi mereka menerimanya bentuk penghargaan tersebut?

NE

Wednesday, 2 March 2011

Menjemput Rezeki

ambil gambar dari sini
Tidak terasa bulan Maret sudah tiba, pada tulisan terakhir, saya menulis tentang Memilih Sekolah Kemudian Mbak Erry alias Bibi Titi Teliti menulis tentang Kayla yang mau masuk sekolah dasar dengan biaya yang relatif cukup tinggi.Saat membaca tulisan beliau saya jadi teringat ketika di kantor ada "Knowledge Cafe" (sebuah acara yang dibuat oleh kantor dalam rangka meningkatkan wawasan/knowledge karyawannya) dimana pembicara waktu itu adalah Lidwina Hananto (seorang perencana keuangan). Pembahasannya sangat bagus dan detil bahkan mendorong kita semua untuk dapat disiplin dalam mengatur keuangan keluarga kita. Perencanaan keuangan yang detil membuat hidup orang menjadi lebih teratur dan bertanggung jawab.

Pengalaman saya berdiskusi dan sharing 'pengalaman' orang-orang tua dahulu ada dua tipe pendekatan yang sangat berbeda berkaitan dengan "kebutuhan kita di masa akan datang." 

Tipe pertama yakni orang-orang yang selalu berhitung akan pengeluarannya dan mengorbankan kebutuhan saat ini demi kebutuhan di masa akan datang. Orang-orang tipe seperti saya menamakannya "Insurance Minded"

Sedangkan tipe kedua yakni orang-orang yang yakin akan kebesaran-NYA dimana kebutuhan mereka akan selalu terpenuhi. Bagi mereka yang terpenting adalah tetap berusaha dalam menjemput rezeki. Orang-orang seperti ini punya prinsip "Do The Best, Let God Do Rest"

Saya punya teman dengan dua tipe ini, dan kalau sudah masing-masing berpendapat saya tinggal yang bingung deh karena masing-masing memiliki alasan yang kuat dan sangat masuk akal. Saya berusaha menjadi tipe yang baru yakni diantara keduanya...namun hingga saat ini koq masih belum bisa juga yah?? Soalnya menjadi tipe satu, koq saya masih kurang sreg dengan asuransi. Menjadi tipe kedua, koq keyakinan dan keimanan masih belum kuat.

Sementara masih bingung masuk tipe yang mana....saya memutuskan lebih baik menjemput rezeki sebisa mungkin dan mendapat berkah serta ridho-NYA karena saya berpendapat rezeki masing-masing orang sudah ditakar tapi kita berkewajiban menjemput sehingga dapat menikmati keberkahannya.

Thursday, 17 February 2011

Etos Kerja: Penuh Semangat

Setiap pulang kantor kalau menggunakan 'Kereta Bisnis' (ada yang bilang kereta ayam, ada juga yang menyebutnya odong-odong) atau Kereta Ekonomi, saya selalu bertemu dengan para pedagang-pedagang kecil yang berjualan di atas kereta seperti penjual tissu, masker, kue, hingga minuman berenergi. Terkadang saya mencoba berhitung cepat keuntungan yang mereka peroleh dari sebuah dagangan yang berhasil mereka jual, besarannya kurang dari seribu rupiah (karena harga produk mereka hanya seribu bahkan kurang dari seribu harganya).

Alhamdulillah ya Allah, pendapatan gajiku mungkin masih lebih baik dari mereka tapi kenapa kadang-kadang untuk memulai suatu pekerjaan saja sangat sulit (biasanya alasan cari mood dulu....hehehehe). Dibandingkan dengan mereka, apabila mereka tidak memiliki etos kerja yang tinggi bisa2 tidak membawa uang ketika pulang ke rumahnya.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat pencerahan tentang semangat kerja dan kesempatan. Jangan pernah memandang sebelah mata kepada para pemulung karena untuk mendapatkan barang-barang yang dapat dijual kembali mereka harus bagun pagi-pagi sekali bahkan sebelum subuh. Mereka bersaing dengan sesama pemulung lainnya untuk mendapatkan barang layak dijual kembali, sementara sebagian besar dari kita waktu sebelum subuh masih ada di atas kasur empuk dengan pendingin ruangan.


Ayolah...tidak perlu kita pergi ke seminar-seminar yang membahas tentang motivasi kerja dan sebagainya. Lihat sekeliling kita, mudah-mudahan bisa belajar dari sekeliling kita dengan baik. Apabila anda ingin menjadi pedagang, jangan berpikir berapa untungnya terlebih dahulu...namun kita berpikir bagaimana cara menjualnya dengan cepat. Apabila anda ingin menjadi pekerja yang profesional, jangan memiliki kecurigaan tentang tugas2 yang diberikan kepada kita....namun kita sebaiknya mengerjakannya dengan semampu dan berkualitas, mudah-mudahan ada rewardnya....kalaupun perusahaan belum memberikan reward kepada kita, insya Allah reward akan diberikan oleh Allah SWT.

NE

Wednesday, 12 January 2011

Jangan Simpan Kekecewaan

Kecewa adalah sebuah kata yang dapat menggambarkan perasaan tidak puas yang berkecamuk di hati akibat hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan keinginan. Semakin lama kekecewaan dipendam di dalam hati, semakin banyak aura negatif di badan kita. Ibarat bola salju yang menggelinding dari puncak gunung, semakin lama menggelinding semakin besar bola salju yang terbentuk.

Aura negatif dapat mengakibatkan kondisi badan kita menjadi kurang bagus. Setiap orang dapat dipastikan pernah mengalami kekecewaan. Kecewa terhadap masalah kecil atau masalah besar. Ada yang dapat cepat melupakan kekecewaan dengan mudah namun tidak sedikit yang memendamnya di dalam hati mereka.

Perjalanan hidup kita sering menghadapi kekecewaan, namun tergantung sifat dan karakter individu dalam menyikapi kekeceewaan tersebut. Sebagai individu yang banyak berinteraksi dengan berbagai ragam orang, saya memiliki kecenderungan untuk tidak menyimpannya di dalam hati. Anak-anak sekarang biasa bilang "Emang Gue Pikirin" setiap ada kejadian yang tidak berkenan dengan mereka.

Dua bulan terakhir, tiba-tiba kondisi fisik (stamina) saya kurang bagus. Badan menjadi sering lemas dan  penyakit flu tidak kunjung sembuh. Biasanya untuk mengusir penyakit flu, saya cukup menambah waktu istirahat dan makanan bergizi tinggi. Namun kali ini, usaha tersebut tidak kunjung berhasil. Stamina masih belum membaik, bahkan setelah melakukan cek laboratorium hasilnya sungguh mengejutkan. Banyak fungsi-fungsi yang tidak normal alias menjadi lebih tinggi dari biasanya.

Setelah melakukan cross check ternyata nilai-nilainya tidak konsisten. Dokterpun memberi saran untuk menjaga konsumsi makanan, akan tetapi hasilnya masih kurang memuaskan. Konsultasi kembali dengan dokter dan kemudian menyimpulkan faktor pikiran yang mempengaruhi hasil atau kondisi stamina yang kurang baik. Merasa tidak memikirkan yang berat-berat, saya menjadi berpikir keras tentang pikiran apa yang membuat kondisi menjadi seperti ini.

Akhirnya, saya banyak melakukan diskusi-diskusi dengan orang-orang yang lebih banyak pengalaman (baca: lebih senior). hasil diskusi yang membuat saya tercengang ternyata adalah kekecewaan yang bertumpuk dan saya belum legowo menerimanya meskipun di ucapan sudah menerima tapi di dasar hati masih meninggalkan bekas. Akumulasi kekecewaan tersebut ternyata berdampak cukup signifikan kepada stamina padahal saya merasa tidak pernah mau mikirin kejadian2 yang pernah mengecewakan dengan berpikir positif.

Di awal tahun ini saya mulai belajar lebih legowo agar kekecewaan tidak memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Satu demi satu, saya mulai membuang jauh semua kekecewaan tersebut dan mudah2an bisa tuntas dan membawa kesehatan menjadi jauh lebih baik. Tidak ada yang susah untuk memulai apabila kita mau menjadi lebih baik. Apakah anda pernah menyimpan kekecewaan? Sulitkah membuang jauh2nya??

Ciputat, 12 Januari 2011
http://sentilan.blogspot.com