Baru saja selesai nonton TV dengan acaranya Rommy Rafael. Sebagai tontonan acara ini cukup menghibur dan masih dalam batas kewajaran 'mempermainkan' orang. Sebuah gelas kaca di tangan orang yang telah dihipnotis dapat menjadi bengkok karena sugesti para penonton. Ketika selesai di hipnotis orang yang memegang gelas tersebut sampai tidak percaya bahwa ditangannyalah gelas kaca tersebut menjadi bengkok.
Di akhir acara, bung Rommy memberikan sebuah pesan yang menurut saya sangat baik yakni, kita musti hati-hati dalam berpikir sebab apa yang dalam pikiran dan hati ini dapat menjadi sebuah kenyataan. Untuk itu tetaplah selalu berpikir positif apapun yang terjadi.
Seketika itu juga saya teringat...atas buku-buku yang pernah saya baca seperti Secret, Laskar Pelangi, dll. Energi positif itu sangat membantu kita dalam mewujudkan sebuah angan-angan menjadi sebuah kenyataan. Namun apakah semudah itukah membangun pikiran yang selalu positif setiap saat?
Lingkungan tempat kita bekerja, tinggal, dll sangat besar pengaruhnya pada diri kita dalam berpikir positif. Pernah suatu hari saya berusaha untuk berpikir positif akan tetapi kendalanya seperti menghadapi tembok yang sangat tebal dan keras hingga berpengaruh.
Suatu kali pernah saya dan seorang teman ingin pergi naik taksi dari jln. Thamrin ke daerah Cilandak. Ketika ucapan saya mengatakan "kita jangan naik taksi dari sini tapi mendingan dari sana" sambil menunjuk lokasi di seberang jalan. Apa yang terjadi?? karena awalnya berpikir akan dapat taksi itu.... selanjutnya berakhir dengan kesulitan dapat taksi.
Ini mungkin gambaran kecil dari kehidupan kita sehari-hari, akan tetapi kalau kita dapat memulai dari hal yang kecil...mudah2an kita semua berhasil mencoba untuk berpikir selalu positif. Mengutip perkataan AaGym, mulailah dari sesuatu yang ringan dan mudah. Mulailah dari diri kita sendiri untuk merubahnya, mudah-mudahan orang yang berada di sekeliling kita dapat menjadi lebih POSITIF
Ciputat, 12.12 am, 30 Juni 2009
http://sentilan.blogspot.com
Monday, 29 June 2009
Saturday, 27 June 2009
Ujian Akhir Nasional...Apa tujuannya?
Saya ucapkan selamat kepada semua yang berhasil naik kelas dan lulus SD, SMP dan SMA. Tanda kelulusan dari satu jenjang yang lebih tinggi adalah lulus dari Ujian Akhir Nasional (UAN).
Beberapa artikel di surat kabar yang memuat komentar-komentar dari pejabat yang berwenang menyelenggarakan UAN menyebutkan bahwa sistem pendidikan kita perlu ditingkatkan dengan cara membuat standar kelulusan yang merata dari ujung barat hingga ujung timur negara ini. Selesai membaca pernyataan tersebut rasanya ingin sekali mengajak orang-orang tersebut membuka mata mereka lebar-lebar keadaan sesungguhnya di 'lapangan'.
Sebagai orang awam, saya koq melihat UAN itu lebih banyak mudharat dari pada manfaat. Sisi manfaat antara lain yang dicita2kan seperti uraian di atas. Namun sisi mudharatnya justru lebih banyak yakni:
Ciputat, jam 12.11 am.
www.sentilan.blogspot.com
Beberapa artikel di surat kabar yang memuat komentar-komentar dari pejabat yang berwenang menyelenggarakan UAN menyebutkan bahwa sistem pendidikan kita perlu ditingkatkan dengan cara membuat standar kelulusan yang merata dari ujung barat hingga ujung timur negara ini. Selesai membaca pernyataan tersebut rasanya ingin sekali mengajak orang-orang tersebut membuka mata mereka lebar-lebar keadaan sesungguhnya di 'lapangan'.
Sebagai orang awam, saya koq melihat UAN itu lebih banyak mudharat dari pada manfaat. Sisi manfaat antara lain yang dicita2kan seperti uraian di atas. Namun sisi mudharatnya justru lebih banyak yakni:
- Proses belajar selama bertahun-tahun hanya ditentukan beberapa hari UAN saja. Seorang siswa yang telah belajar dengan baik harus siap menerima kenyataan harus mengulang karena dia stres selama masa UAN.
- Konsentrasi siswa hanyalah pada mata pelajaran UAN karena mereka tidak ingin gagal. Apa tidak lebih baik selma setahun terakhir pelajaran yang diberikan hanya mata pelajaran yang UAN saja?
- Fasilitas pendidikan antara daerah tidak sama, bagaimana mungkin kita akan mendapatkan hasil yang sama. Tengok saja antara sekolah di DKI dengan sekolah negeri di Tangerang atau Bekasi. Anda akan mendapati perbedaan-perbedaan yg cukup signifikan lalu bagaimana mereka dapat meningkatkan perbedaan mereka.
- Pemborosan anggaran pendidikan karena biaya yang digunakan mencapai milyar rupiah. Alangkah indahnya uang milyaran tersebut kita gunakan membantu menyamakan fasilitas antar sekolah agar kesenjangan dapat diperkecil.
Ciputat, jam 12.11 am.
www.sentilan.blogspot.com
Wednesday, 3 June 2009
Berhati-hati Menggunakan Kata Dalam Email
Senangnya hati ini setelah membaca dan mendengar kabar bahwa ibu Prita Mulyasari sudah tidak ditahan di rutan dan hanya dijadikan tahanan kota. Berita tentang penahanan beliau sudah sejak beberapa hari ini menghiasi halaman demi halaman surat kabar lokal maupun nasional. Simpati terus berdatangan kepada ibu dari 2 anak yang masih balita (salah satu diantaranya masih minum ASI) mulai dari sesama blogger, komnas HAM, Jaksa Agung hingga para Capres.
Kesalahan dari ibu Prita adalah mengeluarkan uneg-uneg dalam bentuk email yang dikirimkan ke teman-temannya atas perlakuan yang diterima di sebuah rumah sakit sewaktu sakit di bulan Agustus 2008. Entah bagaimana caranya pihak rumah sakit mendapatkan email tersebut dan mengadukan ke polisi tentang pencemaran nama baik.
Setelah mengikuti beberapa talk show antara pakar-pakar hukum dan komunikasi dapat disimpulkan bahwa dalam membuat sebuah tulisan sebaiknya menghindari kata-kata tertentu seperti Penipuan, Perampokan, dll yang memiliki arti negatif dan menyudutkan. Mungkin ini pembelajaran bagi kita semua yang biasa menulis (baca: blogging) di internet baik di email, milis, maupin di blog namun tidak menjadi masalah bagi para jurnalis yang sehari-harinya memang terbiasa membuat penulisan sudah dapat membedakan dalam penggunaan kata.
Mudah-mudahan undang-undang yang telah dibuat perangkat pemerintah dan DPR bertujuan melindungi segenap warga negaranya dan tidak sebaliknya menjerumuskan warga negara oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
http://www.sentilan.blogspot.com
Kesalahan dari ibu Prita adalah mengeluarkan uneg-uneg dalam bentuk email yang dikirimkan ke teman-temannya atas perlakuan yang diterima di sebuah rumah sakit sewaktu sakit di bulan Agustus 2008. Entah bagaimana caranya pihak rumah sakit mendapatkan email tersebut dan mengadukan ke polisi tentang pencemaran nama baik.
Setelah mengikuti beberapa talk show antara pakar-pakar hukum dan komunikasi dapat disimpulkan bahwa dalam membuat sebuah tulisan sebaiknya menghindari kata-kata tertentu seperti Penipuan, Perampokan, dll yang memiliki arti negatif dan menyudutkan. Mungkin ini pembelajaran bagi kita semua yang biasa menulis (baca: blogging) di internet baik di email, milis, maupin di blog namun tidak menjadi masalah bagi para jurnalis yang sehari-harinya memang terbiasa membuat penulisan sudah dapat membedakan dalam penggunaan kata.
Mudah-mudahan undang-undang yang telah dibuat perangkat pemerintah dan DPR bertujuan melindungi segenap warga negaranya dan tidak sebaliknya menjerumuskan warga negara oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
http://www.sentilan.blogspot.com
Monday, 1 June 2009
Melayani Kebutuhan Masyarakat
Sudah beberapa hari ini saya baru menyadari betapa sulit mendapatkan uang kertas pecahan seribu rupiah dengan kondisi baik. Baik di Pintu Pembayaran Tol, Supermarket, Mini Market, maupun di Loket Kereta Api. Frekuensi yang sering adalah uang kembalian dalam uang logam pecahan lima ratus rupiah.
Mudah-mudahan hal ini tidak akan berlangsung lama sebab apabila nantinya uang kertas pecahan seribu makin langka, maka bersiaplah kantong kita berisi uang recehan. Kalau cuma satu atau dua keping mungkin tidak menjadi masalah tapi kalau kembalian empat ribu dalam bentuk 8 keping uang lima ratus....nah ini jadi ramai deh bunyi kantong kita.
Saya menduga apabila memang ongkos cetak uang kertas jadi lebih mahal dari pada nominalnya, bukankah lebih baik bagi Pemegang Kebijakan (baca: Pemerintah) menyiapkan sistem dan perangkat untuk transaksi non-tunai. Selain lebih praktis, sistem transaksi non-tunai dapat mengurangi resiko keamanan dan lebih efisien dalam biaya pembuatannya.
Saya berkhayal seandainya punya KTP (baca: kartu identitas) yang dapat digunakan untuk setiap transaksi, minimal bayar tiket kereta, bus transjakarta, atau pelayanan publik lainnya hingga pembayaran tagihan pribadi. Penghematan pasti akan banyak terjadi yakni biaya pencetakan uang menurun, biaya distribusi uang kertas, hingga Pemerintah dapat lebih mudah mengatur jumlah uang nominal beredar. Mudah-mudahan khayalan ini dapat terealisasi dalam waktu dekat...dan Pemerintah menyiapkan infrastrukturnya
http://www.sentilan.blogspot.com
Jakarta, 2 Juni 2009
Mudah-mudahan hal ini tidak akan berlangsung lama sebab apabila nantinya uang kertas pecahan seribu makin langka, maka bersiaplah kantong kita berisi uang recehan. Kalau cuma satu atau dua keping mungkin tidak menjadi masalah tapi kalau kembalian empat ribu dalam bentuk 8 keping uang lima ratus....nah ini jadi ramai deh bunyi kantong kita.
Saya menduga apabila memang ongkos cetak uang kertas jadi lebih mahal dari pada nominalnya, bukankah lebih baik bagi Pemegang Kebijakan (baca: Pemerintah) menyiapkan sistem dan perangkat untuk transaksi non-tunai. Selain lebih praktis, sistem transaksi non-tunai dapat mengurangi resiko keamanan dan lebih efisien dalam biaya pembuatannya.
Saya berkhayal seandainya punya KTP (baca: kartu identitas) yang dapat digunakan untuk setiap transaksi, minimal bayar tiket kereta, bus transjakarta, atau pelayanan publik lainnya hingga pembayaran tagihan pribadi. Penghematan pasti akan banyak terjadi yakni biaya pencetakan uang menurun, biaya distribusi uang kertas, hingga Pemerintah dapat lebih mudah mengatur jumlah uang nominal beredar. Mudah-mudahan khayalan ini dapat terealisasi dalam waktu dekat...dan Pemerintah menyiapkan infrastrukturnya
http://www.sentilan.blogspot.com
Jakarta, 2 Juni 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)