Kalau membahas yang namanya Transportasi Publik, saya jadi teringat 6 tahun yang lalu ketika harus pindah dari rumah orang tua yang letaknya sangat strategis (di tengah kota dan akses yang mudah dijangkau ke tempat apapun).
Kriteria daerah yang akan dipilih adalah memiliki transportasi massal. Saat itu hanya ada Kereta dan belum ada tuh yang namanya Bis Trans Jakarta (baca: Busway). Alasan utama mencari transportasi massal karena tidak ingin bergantung pada kendaraan pribadi (baca: mobil). Saya tidak ingin ketergantungan pada mobil menyebabkan aktifitas jadi terganggu tatkala ada masalah dengan mobil (mis: mogok).
Akhirnya pilihan saya jatuh pada daerah yang memiliki transportasi massal-Kereta jurusan Serpong-, walau (saat itu) pilihan jadwal kereta masih belum banyak. Meskipun begitu, satu bulan pertama saya masih menggunakan mobil sebagai transportasi dalam bekerja.
Memasuki bulan kedua saya mulai merasakan bahwa fisik saya sangat terkuras apabila pulang kantor. Hampir tidak ada energi lagi untuk bercengkrama dengan anak-anak.
Saya memutuskan untuk naik kereta dan kebetulan waktu itu baru diujicobakan kereta AC eksekutif Serpong-Manggarai dengan 4 gerbong (buatan INKA). Baru beberapa hari menggunakan kereta, perbedaan yang sangat signifikanpun terjadi. Waktu tempuh dari tumah ke kantor jadi lebih cepat sehingga saya punya waktu yang lebih banyak dengan anak-anak, saya masih punya energi untuk bermain dengan anak-anak dan pengeluaran ongkos transportasi lebih efisien.
Perubahan juga saya alami di dalam gerbong kereta. Awalnya hanya 4 gerbong, kemudian di ganti dengan 6 gerbong dan diganti lagi (hingga sekarang) menjadi 8 gerbong kereta. Itu terjadi karena animo masyarakat yang makin hari makin menyadari dan merasakan kenyamanan dalam menggunakan moda transportasi tersebut.
Saya juga teringat saat Gubernur DKI membuat Busway pertama kali. Hampir 90% orang mencacinya karena dianggap mengurangi lajur jalanan kendaraan dan membuat kemacetan yang luar biasa. Untung saja beliau tidak peduli dengan segala protes karena tetap meneruskan rencananya hingga selesai. Coba sekarang kita amati...khusus koridor I, dari pagi-pagi hingga malam hari Bis tidak pernah kosong. Masyarakat sangat merasakan manfaatnya Busway tersebut....namun sayang sekali kalo sekarang kita lihat kondisinya.
Sebagai pengguna transportasi publik, saya berangan-angan Monorail cepat diselesaikan kemudian semua koridor Busway terrealisasi beroperasinya...(ngga usah muluk-muluk punya MRT dulu deh...). Saya sangat yakin masyarakat bakalan nggak bawa mobil dan kemudian beralih menggunakan transportasi publik. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada kebijakan yang MEMIKIRKAN tranportasi publik....bukannya mengatur jam sekolah ataupun jam kantor saja.
Ciputat, 17 Januari 2009
Saturday, 17 January 2009
Monday, 12 January 2009
Kepentingan Siapa?
Agresi Israel ke Palestina sudah berlangsung hampir 3 minggu dan hingga hari ini belum ada niat dari sang Agresor untuk menghentikannya. Bahkan info terakhir disebutkan telah menggunakan Bom Kimia.
Masih teringat ...beberapa waktu yang lalu, saat PBB mengeluarkan resolusi untuk Irak, Korea Utara, Somalia, dan Iran, seluruh Anggota DK PBB sepakat menekan negara-negara tersebut untuk segera mematuhinya. Alasan utamanya adalah Kepentingan Dunia (baca: kemanusiaan) harus didahulukan.
Kepentingan Israel dalam menyerang Jalur Gaza adalah dalam rangka melindungi warganya yang kerap dihujani roket oleh Hamas (mengutip pernyataan Gus Dur di TV). Di pihak lain, Hamas memiliki kepentingan sendiri untuk mengatur pemerintahan sendiri. Lalu apa kepentingan DK PBB? Tentunya sangat berbeda dibandingkan kepentingannya pada saat Irak diserang oleh Amerika dan sekutunya.
Kembali ke negeri kita tercinta, waktu BBM dinaikkan oleh pemerintah karena harga minyak dunia meroket....semua orang mengatasnamakan kepentingan rakyat (baca: umum) protes karena menilai kebijakan tidak pro rakyat. Mahasiswa melakukan demo sampai bentrok dengan aparat keamanan. Semua elemen seakan bersatu menentang kebijakan yang tidak berpihak.
Sekarang mari kita lihat perkembangannya...Setelah harga BBM diturunkan, apa yang terjadi? Tarif angkutan tidak mau turun (baca: Organda menolak turun tarif) karena alasan inilah...itulah. Padahal waktu minta tarif dinaikkan, mereka dengan cepat membuat perhitungan cukup akurat (menurut cara berhitungnya mereka...tentunya) yang mengatasnamakan kepentingan rakyat...pro rakyat.
Saat ini dengan cepatnya mereka berkelit....tentunya BUKAN atas kepentingan rakyat namun atas nama Kepentingan ....BISNIS....
Tidak ada yang namanya Kepentingan Sejati untuk manusia ...yang konsisten.....namun Kepentingan untuk diri pribadi yang selalu muncul di atas semua kepentingan.
Monday, 5 January 2009
Kontra Produktif
Selamat Tahun Baru 2009,
Saat-saat selesai liburan (status masih cuti tapinya) seperti ini apabila tidak keluar rumah dengan keluarga yah....menghabiskan waktu di depan TV. Dari seluruh acara yang saya tonton dari tadi pagi, seperti berita, gosip artis, hingga Film bioskop Mr. & Mrs. Smith, beberapa topik yang nyangkut di benak.
Pertama, berita tentang demo besar-besaran solidaritas umat islam atas serangan Israel di Jalur Gaza yang dimotori oleh salah satu partai politik. Mungkin saja kalau saat ini dalam keadaan sehat dan bugar, saya mau ikutan di acara tersebut...(maklum seumur-umur belum pernah ikut demo seperti itu).
Kedua, berita kenaikan tarif parkir di mal oleh pengelola parkir swasta. Padahal sudah beberapa kali dijelaskan oleh Pemda, kalau tarif parkir yang mengatur adalah bukan swasta melainkan pemerintah daerah. Hebatnya...pengelola parkir swasta tidak takut disegel (meskipun menurut peraturannya harus ada persetujuan pihak Pemda)....Anjing menggonggong kafilah berlalu....
Ketiga, berita tentang SPBU yang hampir sebagian besar kekurangan pasokan dari Pertamina khususnya untuk bensin Premium dan Solar. Awalnya pada hari pertama banyak SPBU yang tutup, Pertamina mensinyalir SPBU tersebut tidak ingin menjual bensin karena ada indikasi turunnya harga BBM dalam waktu dekat. Namun beberapa hari kemudian muncul Excuse dari Pertamina karena beberapa faktor hingga Presiden SBY sampai marah.
Yang terakhir, berita tentang kebijakan anak sekolah yang masuk sekolahnya maju 30 menit menjadi 6.30 pagi dengan alasan untuk mengurangi volume kendaraan di jalan pada jam-jam tertentu.
Dari topik yang mampir di benak, berita yang paling terakhir membuat saya bertanya-tanya apakah kebijakan yang ditentukan tersebut sudah dilakukan penelitiannya? Saya sih berpikir positif saja, pasti ini sudah dilakukan kajiannya. Tapi tetap saja, otak ini tidak mau bisa menerima. Akar permasalahan dan solusinya koq seperti kurang sinkron menurut logika saya.
Permasalahan utama adalah kemacetan yang disebabkan oleh volume kendaraan (khususnya kendaraan pribadi) yang tidak seimbang dengan kapasitas jalan. Ada 2 pendekatan dengan permasalahan yakni mengurangi jumlah kendaraan dan menambah kapasitas jalan. Keduanya telah berusaha diatur sedemikian rupa oleh pemerintah daerah. Namun hingga saat ini kemacetan tetap saja terjadi.
Pendapat saya untuk mengurangi jumlah volume kendaraan solusinya adalah Transportasi Publik yang nyaman dan aman, bukannya mengatur anak sekolah masuk lebih awal. Ini sama saja kalau kita sakit mata tapi yang dikasih kita adalah obat sakit perut....
Saya adalah pengguna transportasi publik sejak 5 tahun belakangan ini. Dari Kereta Rel Listrik hingga Bus Trans Jakarta ataupun taksi. Sudah tidak masuk akal (kalau tidak terpaksa) membawa kendaraan pribadi dari rumah (kawasan Ciputat) menuju pusat kota (kawasan thamrin). Pembangunan Bus Way yang pada awalnya banyak dikritik ternyata saat ini malah menjadi bintangnya transportasi publik bagi masyarakat. Menurut pendapat saya, (mungkin juga sama dengan kebanyakan orang) kalo ada transportasi publik yang nyaman dan aman dapat dipastikan masyarakat akan berduyun-duyun menggunakannya.
Terakhir, suatu kebijakan pasti ada yang pro dan kontra. Namun apabila kita mau lebih baik seharusnya sebuah kebijakan harus lebih banyak manfaat dari pada mudharatnya (kontra produktif)
Saat-saat selesai liburan (status masih cuti tapinya) seperti ini apabila tidak keluar rumah dengan keluarga yah....menghabiskan waktu di depan TV. Dari seluruh acara yang saya tonton dari tadi pagi, seperti berita, gosip artis, hingga Film bioskop Mr. & Mrs. Smith, beberapa topik yang nyangkut di benak.
Pertama, berita tentang demo besar-besaran solidaritas umat islam atas serangan Israel di Jalur Gaza yang dimotori oleh salah satu partai politik. Mungkin saja kalau saat ini dalam keadaan sehat dan bugar, saya mau ikutan di acara tersebut...(maklum seumur-umur belum pernah ikut demo seperti itu).
Kedua, berita kenaikan tarif parkir di mal oleh pengelola parkir swasta. Padahal sudah beberapa kali dijelaskan oleh Pemda, kalau tarif parkir yang mengatur adalah bukan swasta melainkan pemerintah daerah. Hebatnya...pengelola parkir swasta tidak takut disegel (meskipun menurut peraturannya harus ada persetujuan pihak Pemda)....Anjing menggonggong kafilah berlalu....
Ketiga, berita tentang SPBU yang hampir sebagian besar kekurangan pasokan dari Pertamina khususnya untuk bensin Premium dan Solar. Awalnya pada hari pertama banyak SPBU yang tutup, Pertamina mensinyalir SPBU tersebut tidak ingin menjual bensin karena ada indikasi turunnya harga BBM dalam waktu dekat. Namun beberapa hari kemudian muncul Excuse dari Pertamina karena beberapa faktor hingga Presiden SBY sampai marah.
Yang terakhir, berita tentang kebijakan anak sekolah yang masuk sekolahnya maju 30 menit menjadi 6.30 pagi dengan alasan untuk mengurangi volume kendaraan di jalan pada jam-jam tertentu.
Dari topik yang mampir di benak, berita yang paling terakhir membuat saya bertanya-tanya apakah kebijakan yang ditentukan tersebut sudah dilakukan penelitiannya? Saya sih berpikir positif saja, pasti ini sudah dilakukan kajiannya. Tapi tetap saja, otak ini tidak mau bisa menerima. Akar permasalahan dan solusinya koq seperti kurang sinkron menurut logika saya.
Permasalahan utama adalah kemacetan yang disebabkan oleh volume kendaraan (khususnya kendaraan pribadi) yang tidak seimbang dengan kapasitas jalan. Ada 2 pendekatan dengan permasalahan yakni mengurangi jumlah kendaraan dan menambah kapasitas jalan. Keduanya telah berusaha diatur sedemikian rupa oleh pemerintah daerah. Namun hingga saat ini kemacetan tetap saja terjadi.
Pendapat saya untuk mengurangi jumlah volume kendaraan solusinya adalah Transportasi Publik yang nyaman dan aman, bukannya mengatur anak sekolah masuk lebih awal. Ini sama saja kalau kita sakit mata tapi yang dikasih kita adalah obat sakit perut....
Saya adalah pengguna transportasi publik sejak 5 tahun belakangan ini. Dari Kereta Rel Listrik hingga Bus Trans Jakarta ataupun taksi. Sudah tidak masuk akal (kalau tidak terpaksa) membawa kendaraan pribadi dari rumah (kawasan Ciputat) menuju pusat kota (kawasan thamrin). Pembangunan Bus Way yang pada awalnya banyak dikritik ternyata saat ini malah menjadi bintangnya transportasi publik bagi masyarakat. Menurut pendapat saya, (mungkin juga sama dengan kebanyakan orang) kalo ada transportasi publik yang nyaman dan aman dapat dipastikan masyarakat akan berduyun-duyun menggunakannya.
Terakhir, suatu kebijakan pasti ada yang pro dan kontra. Namun apabila kita mau lebih baik seharusnya sebuah kebijakan harus lebih banyak manfaat dari pada mudharatnya (kontra produktif)
Subscribe to:
Posts (Atom)