Saat anak-anak belum ada yang bersekolah, saya kerap ditelpon oleh kakak hanya untuk membantu menjawab tugas-tugas (PR) sekolah anaknya (baca: keponakan). Dalam hati saya heran karena pertanyaan untuk anak SD koq bisa seperti SMP bahkan SMA pada zaman saya sekolah dulu. Begitu anak-anak saya mulai sekolah, barulah saya menyadari bahwa kesulitan kakak waktu itu memang nyata adanya.
Di mata saya, sekolah merupakan sebuah tempat kita menuntut ilmu baik formal (yang ada di kelas) maupun informal (ada di lingkungan sekolah selain di dalam kelas). Masih teringat di dalam benak pikiran bahwa pergi ke sekolah merupakan kesenangan tersendiri dan saya sangat menikmati masa-masa itu. Berangkat sekolah menjumpai teman-teman untuk belajar dan bermain tanpa beban yang berlebihan dibandingkan anak sekolah zaman sekarang.
Berangkat sekolah setengah tujuh pagi dan baru kembali ke rumah sekitar pukul tiga sore itu juga dengan catatan tidak ada tambahan pelajaran. Istirahat sebentar untuk kemudian mandi sore dan mempersiapkan buku pelajaran esok hari. Apabila ada PR, mendapat ekstra tambahan untuk menyelesaikannya. Begitu terus selama seminggu dari Senin hingga Jumat. Melihat jadual yang sangat ketat membuat saya tidak sampai hati untuk menambahkan jadual lagi.
Permasalahan timbul apabila si anak tidak memiliki minat yang besar untuk menuntut ilmu yang ada di dalam kelas (Formal Education). Kebetulan anak sulung saya memiliki minat besar pada Informal Education seperti art activities. Sangat berat baginya untuk latihan matematika secara rutin atau membaca bahasa indonesia dengan seksama, namun dia tidak memiliki pilihan sebab kurikulum sekolahnya mewajibkan hal tersebut.
Pernah saya mau arahkan ke homeschooling atau sekolah khusus, namun biaya yang dibutuhkanpun sudah pasti berbanding lurus. Seorang tokoh pendidik, Arief Rahman Hakim tidak menyekolahkan anaknya di sekolah umum karena tidak menyetujui kurikulum yang dibuat pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional. Psikolog Seto Mulyadi menyatakan kurikulum sekolah yang berlaku saat ini sangat membebani anak dan dapat membuat stres pada mereka.
Sampai kapankah kita larut dalam dilema seperti itu? Haruskah negeri kita mengalami hal yang sama seperti di Jepang atau Korea dimana ada murid frustasi dan akhirnya bunuh diri? Memang kurikulum dibuat untuk membuat daya saing sumber daya manusia kita lebih kompetitif. Sekali lagi apakah kita ikhlas melihat anak-anak kita menjadi tertekan?
Tangerang, 29 September 2008
Sunday, 28 September 2008
Thursday, 25 September 2008
Fenomena Lebaran
Setiap setahun sekali pemerintah mengantisipasi lonjakan pengguna transportasi apapun bentuk moda transportasinya. Setiap tahun juga pemerintah memiliki kesan tidak well prepared dalam menanganinya. Hal ini terlihat dari proyek-proyek perbaikan jalan yang dilakukan pemerintah. Rentang waktu pekerjaan sangat singkat dan target penyelesaiannyapun menjelang hari raya.
Pernah saya bertanya kepada rekan-rekan di kantor yang setiap tahun melakukan ritual mudik. Kenapa sih mau melakukan sebuah perjalanan yang bagi orang awam adalah perjalanan yang tidak nyaman, karena kemungkinan macet di perjalanannya sangat besar. Diluar dugaan saya, jawaban mereka sangat beragam. Namun apabila kita ambil kesimpulan, sebagian besar tidak merasa tersiksa oleh ketidakpastian perjalanan (unpredictable journey). Bagi mereka, menaklukan perjalanan tanpa kena hambatan merupakan prestasi tersendiri.
Kita dapat melihat di terminal, stasiun kereta api, maupun bandara, bagaimana pemudik rela berdesak-desakan, mengantri hingga berjam-jam, dan mengeluarkan uang lebih hanya untuk mendapatkan tiket pulang ke kampungnya. Begitu banyak energi yang dihabiskan oleh mereka tetapi begitu tiket sudah ditangan apalagi sudah menginjakkan kaki di kampung halamannya, energi yang telah dikeluarkan seperti mendapatkan tambahan yang luar biasa besarnya.
Rindu akan suasana kampung halamannya, rindu bersilahturahmi dengan tetangga, rindu dengan teman sepermainan, rindu akan makanan khas daerahnya, rindu akan kenangan masa kecil, dan rindu-rindu lainnya....membuat kekuatan super bagi pemudik dalam melewati rintangan-rintangan di atas tadi.
Jadi, sebesar atau seberat apapun hambatan maupun tantangan apabila tidak menganggap semua itu menyusahkan kita malah sebaliknya menjadi hal yang biasa untuk dilewatinya. Kekuatan hati dan pikiran adalah MODAL utama kita untuk menghadapi semua rintangan di depan mata.
Jakarta, 26 September 2008
Pernah saya bertanya kepada rekan-rekan di kantor yang setiap tahun melakukan ritual mudik. Kenapa sih mau melakukan sebuah perjalanan yang bagi orang awam adalah perjalanan yang tidak nyaman, karena kemungkinan macet di perjalanannya sangat besar. Diluar dugaan saya, jawaban mereka sangat beragam. Namun apabila kita ambil kesimpulan, sebagian besar tidak merasa tersiksa oleh ketidakpastian perjalanan (unpredictable journey). Bagi mereka, menaklukan perjalanan tanpa kena hambatan merupakan prestasi tersendiri.
Kita dapat melihat di terminal, stasiun kereta api, maupun bandara, bagaimana pemudik rela berdesak-desakan, mengantri hingga berjam-jam, dan mengeluarkan uang lebih hanya untuk mendapatkan tiket pulang ke kampungnya. Begitu banyak energi yang dihabiskan oleh mereka tetapi begitu tiket sudah ditangan apalagi sudah menginjakkan kaki di kampung halamannya, energi yang telah dikeluarkan seperti mendapatkan tambahan yang luar biasa besarnya.
Rindu akan suasana kampung halamannya, rindu bersilahturahmi dengan tetangga, rindu dengan teman sepermainan, rindu akan makanan khas daerahnya, rindu akan kenangan masa kecil, dan rindu-rindu lainnya....membuat kekuatan super bagi pemudik dalam melewati rintangan-rintangan di atas tadi.
Jadi, sebesar atau seberat apapun hambatan maupun tantangan apabila tidak menganggap semua itu menyusahkan kita malah sebaliknya menjadi hal yang biasa untuk dilewatinya. Kekuatan hati dan pikiran adalah MODAL utama kita untuk menghadapi semua rintangan di depan mata.
Jakarta, 26 September 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)